Tag Archives: ayat dan hadis shalawat nabi

“Shalawat Nabi” Doa buat Nabi, doa untukku? Apa yang akan terjadi denganku kelak?

Buku tentang Shalawat Nabi

Dalam Surat 33 (Al-Ahzab) ayat 56 dikatakan:

56. Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya 

“Innallaha wa mala’ikatahuyusalluna’alan-nabiyy, ya ayyuhallazina amanu sallu’alaihi wa sallimu taslima”

(Surat 33 Al-Ahzab ayat 56,  sumber : Lidwa Pusaka)

Ayat di atas dikenal sebagai perintah “SHALAWAT NABI”.  Maksudnya adalah bahwa  Al-Qur’an mewajibkan semua umat Islam untuk menutup Sholat-nya yang 5 kali sehari itu dengan mengucapkan atau melafazkan Doa “SHALAWAT NABI”.

Isi doa ‘SHALAWAT NABI” bermacam-macam, namun inti sarinya adalah mendoakan agar Allah melimpahkan kepada Rasulullah SAW : Kemuliaan, Kebenaran dan Keselamatan.

Perintah ini sangat mengganggu pikiran maupun batin. Sungguh aneh, bahwa seorang seperti Rasulullah SAW, yang oleh Al-Qur’an dipandang sebagai nabi yang serba istimewa, masih perlu di doa “SHALAWAT” kan oleh umat atau pengikutnya. Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Seorang Nabi yang benar-benar diutus Allah seperti misalnya Nabi Musa (Bapaknya Taurat) dan Nabi Daud (Bapaknya Zabur), maupun nabi-nabi lainnya, jika mereka meninggal dunia, sudah pasti beroleh Rahmat dan Keselamatan masuk Surga. Mereka kembali kepada Allah yang mengutusnya. Mereka sama sekali tidak perlu didoakan agar Allah selamatkan mereka. Mereka berasal dari Allah, diutus oleh Allah, dan kalau tugasnya sudah selesai, dengan sendirinya mereka kembali kepada Allah yang mengutusnya. Isa Al-Masih lebih lagi. Dia bukan saja tidak pernah meminta umat-Nya ber Doa “SHALAWAT” bagi Dia, tetapi malahan Dialah yang akan memberikan pengetahuan kepada semua orang mengenai hari kiamat (Qs. 43 Az-Zukhruf 61):

61. Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.

”Wa innahu la’ilmul lis-sa’ati fa la tamtarunna biha wattabi’un, haza siratum mustaqim”

(Surat 43 Az-Zukhruf ayat 61, sumber : Lidwa Pusaka)

Pernyataan itu dipertegas oleh Surat 3 (Ali ’Imran) ayat 45 yang menyatakan bahwa Isa Al-Masih merupakan yang terkemuka di Akhirat (hari Kiamat):

(Ingatlah), ketika para malaikat berkata, ”Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu tentang sebuah kalimat (firman) dari-Nya, (yaitu seorang putra), namanya Al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan orang yang paling dekat pada Allah (terj. YPPA : dan termasuk orang-orang yang didekatkan kepada Allah).

”Iz qalatil-mala’ikatu ya maryamu innallaha yubasysyiruki bi kalimatim minhusmuhul-masihu isabnu maryama wajihan fid-dun-ya wal-akhirati wa minal-muqarrabin”

(Surat 3 Ali Imran ayat 45)

Pernyataan ini kembali dipertegas oleh Surat 43 (Az-Zukhruf) ayat 63:

Dan ketika Isa datang membawa terang (terj. YPPA : membawa keterangan), dia berkata : ”Sungguh, aku datang kepadamu dengan membawa hikmah, dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu perselisihkan; maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.

”Wa lamma ja’a isa bil-bayyinati qala qad ji’tukum bil-hikmati wa li’ubbayina lakum ba’dallazi takhtalifuna fih, fattaqullaha wa ati’un”

(Surat  43 Az-Zukhruf ayat 63, sumber : Lidwa Pusaka)

Bahkan lebih jauh lagi Hadis mengatakan bahwa Isa Al-Masih akan turun kembali dari surga pada hari kiamat untuk menjadi Hakim yang Adil (Imam Mahdi) :

‘… mendengar Abu Hurairah berkata , rasulullah SAW bersabda : “Bagaimana keadaan kalian apabila Isa Putra Maryam turun pada kalian dan menjadi pemimpin kalian”

(Hadis Shahih Muslim no. 223,  sumber : Lidwa Pusaka)

Abu Hurairah r.a. berkata; Rasulullah SAW bersabda : “Bagaimana sikap kalian jika ‘Isa bin Maryam’ turun ditengah-tengah kalian dan menjadi imam kalian?”

(Hadis Shahih Bukhari no. 3193, sumber : Lidwa Pusaka)

… bahwa Rasulullah SAW bersabda : “… tidaklah muncul Al-mahdi kecuali muncul Isa bin Maryam”

Posisi dan status Isa Al-Masih pada hari kiamat atau hari penghakiman sangat jelas. Isa Al-Masih merupakan yang terkemuka di Akhirat (hari kiamat). Isa akan datang memberi pengetahuan mengenai hari kiamat. Pada hari kiamat, Isa Al-Masih akan turun kembali dari surga untuk menjadi Hakim yang Adil (Imam Mahdi), yang akan mengadili pada hari kiamat. Justru posisi dan status Rasulullah sepertinya belum begitu jelas pada hari kiamat tersebut. Bahkan, menurut Surat 46 (Al-Ahqaf) ayat 9, Rasulullah belum tahu pasti apa yang akan terjadi dengan dirinya maupun pengikutnya pada hari yang akan datang tersebut.

Katakanlah (Muhammad), “Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul, dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku, dan aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan yang menjelaskan.”

(Surat  46 Al-Ahqaf ayat 9, sumber : Lidwa Pusaka)

Ayat Qur’an tersebut diperkuat oleh Hadist berikut :

“Hadis bersumber dari Jabir : ‘Aku mendengar Nabi SAW bersabda: “Tidak seorangpun dari kalian yang dimasukkan surga oleh amalnya dan tidak juga diselamatkan dari neraka karenanya ; tidak juga aku, kecuali karena rahmat Allah.”

(Hadis Shahih Muslim no. 5042, sumber : Lidwa Pusaka)

 “Hadis riwayat Abu Hurairah R.A.: Nabi SAW bersabda: Tidak seorang pun dari kalian yang diselamatkan oleh amalnya. Seseorang bertanya: Tuan juga, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Tidak juga aku, kecuali bila Allah melimpahkan ampunan dan rahmat kepadaku”

(Hadis Shahih Muslim no. 5038, sumber : Lidwa Pusaka)

Cukup membingungkan bahwa seorang pemimpin seperti Rasulullah SAW,  yang dijadikan sandaran oleh para pengikutnya justru belum pasti bisa menunjukkan jalan lurus akhirat. Bahkan dia belum  tahu persis bagaimana perjalanan di depan (Qs.  46 Al-Ahqaf 9). Kalau sang Pemimpin sendiri belum tahu pasti apakah dia akan selamat masuk surga atau tidak, lalu bagaimana dengan para pengikutnya?

Sungguh berbeda dengan Isa Al-Masih. Di dalam Alkitab, Isa berkata bahwa Dialah jalan satu-satunya untuk dapat sampai kepada Allah (sang Pencipta). Isa berkata : Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak seorangpun dapat sampai kepada Allah kalau tidak melalui Aku (Injil Yahya 14:6). Juga berkali-kali Dia mengatakan bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya dan mau menerima Dia, akan selamat dan pasti masuk surga (Injil Yahya 3:16,18,36 ; 5:24, Injil Markus 16:15,16). Bahkan para Nabi yang hidup ratusan hingga ribuan tahun sebelum kelahiran Isa menerima ilham berupa nubuatan mengenai Isa yang akan lahir ke bumi. Para Nabi tersebut sudah menuliskan bahwa Isa akan lahir dari seorang perawan, datang untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa dan dari hukuman neraka. Diantaranya misalnya kitab Nabi Yesaya 53 : 1-10 ; Zakaria 9:9 ; Mikha 5:1 ; kitab Nabi Musa yaitu Ulangan 18:15-19. Dalam bidang ini, keberadaan Rasulullah SAW justru menghadapi masalah besar. Tidak ada satu ayatpun yang diilhamkan Allah sebelum kelahiran Rasulullah yang bernubuat  atau meramalkan tentang kelahiran maupun pelayanan Rasulullah.

Selanjutnya, Rasulullah SAW memiliki banyak sekali orang atau umat yang berdoa ”SHALAWAT” baginya. Sementara itu, bagaimana dengan para pengikutnya? Siapa yang akan mendoakan mereka?  Apa yang akan terjadi dengan mereka kelak?

Sungguh berbeda halnya dengan Isa Al-Masih. Dari Al-Qur’an Surat  Ali Imran ayat 55 dan Surat An-Nisaa ayat 158 maupun dari Alkitab (Markus 16 : 19 ; Lukas 24 : 51) kita diberitahu bahwa Isa telah naik  ke surga dan saat ini berada di surga. Dia menantikan saat untuk turun atau datang kembali sebagai Hakim Akhir Zaman (Imam Mahdi). Alkitab memberitahu bahwa selama Isa berada di surga, Isa menjadi Pengantara atau Pembela bagi umat-Nya. Selama berada di surga, Isa senantiasa mendoakan pengikut-Nya (Ibrani 7:25 ; 9:15 ; Roma 8:34). Hingga nanti, yaitu saat Isa turun kembali pada hari kiamat. Jadi bukannya pengikut-Nya yang mendoakan Isa.

Kembali ke para pengikut Rasulullah SAW. Sementara mereka tekun berdoa “SHALAWAT” bagi Rasulullah, bagaimana dengan mereka sendiri? Siapa yang akan mendoakan mereka? Apa yang akan terjadi dengan mereka kelak? Hal ini seharusnya merupakan masalah yang serius bagi para pengikut Rasulullah. Sebagai makhluk yang memiliki ruh, seharusnya para pengikut Rasulullah membutuhkan tuntunan yang jelas dan tidak mengambang mengenai jalan keselamatan. Jalan yang menuju kekekalan rohani. Jalan masuk ke surga. Tujuan seseorang memeluk satu agama tentu bukan hanya untuk kepentingan hidup di dunia yang fana ini. Justeru kehidupan yang sebenarnya adalah setelah meninggal dunia. Yaitu kehidupan yang selama-lamanya. Kami yakin, tidak ada satupun diantara kita yang mau dimasukkan ke neraka jahannam. Semua orang ingin masuk ke surga. Oleh sebab itu, para pengikut Rasulullah tentu sangat butuh tuntunan yang jelas mengenai jalan masuk ke surga tersebut. Bukan tuntunan yang mengambang.

Yang sangat membingungkan, salah satu tuntunan yang diberikan kepada umat justru berbunyi demikian :

“setiap umatnya yang mati, sedangkan dia tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, orang itu masuk surga, sekalipun ia berzina dan mencuri”

(Hadis Shahih Bukhari no. 2983, Sunan Tirmidzi 2568, sumber : Lidwa Pusaka)

Benarkah Allah mewahyukan  hadis-hadis seperti itu? Lalu bagaimana dengan ayat Al-Qur’an Qs. 20 Thaahaa 74 yang mengatakan bahwa orang yang mendatangi Allah dalam keadaan berdosa akan dimasukkan kedalam neraka?

74. Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahannam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup  

Innahu man ya/ti rabbahu mujriman fa-inna lahu jahannama laa yamuutu fiihaa walaa yahyaa

(Qs. 20 Thaahaa ayat 74, sumber : Lidwa Pusaka)

 Surat Thaahaa ayat 74 menegaskan bahwa orang yang berdosa atau memiliki dosa akan dimasukkan kedalam neraka jahannam. Artinya, orang yang berdosa tidak akan masuk ke surga. Orang yang berdosa atau memiliki dosa akan disiksa di neraka. Di neraka dia  tidak mati dan tidak pula hidup.

Berzina dan mencuri adalah dosa, dan rasanya itu bukanlah dosa kecil, tetapi dosa yang besar. Bagaimana hadis-hadis di atas dapat mengatakan bahwa orang yang mencuri dan berzina akan masuk surga selama dia tidak menyekutukan Allah? Surga seperti apa itu yang menampung pezina dan pencuri? Apakah standar kesucian surga sebegitu rendah di mata hadis? Bukankah surga adalah tempat takhta Allah yang Maha Suci? Mengapa hadis-hadis tersebut begitu bertentangan dengan Al-Qur’an? Sungguh menjadi bingung dibuatnya.

6 Comments

Filed under Uncategorized