Memiliki Istri sampai 4? Muslimah jatahnya di Neraka (Hadis Shahih Bukhari 4797 dan 4799)

Sesuai dengan isi Surat 4 An-Nisa ayat 3, Al-Qur’an memperbolehkan seorang pria untuk memiliki isteri lebih dari satu orang. Ayat tersebut sekaligus membatasi jumlah isteri paling banyak yang boleh dimiliki seorang Muslim, yaitu sebanyak 4 orang :

“Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zalim.”

“Wa im khiftum alla tuqsitu fil-yatama fankihu ma taba lakum minan-nisa’I mas’na wa sulasa wa ruba, fa in khiftum alla ta’dilu fa wahidatan au ma malakat aimanukum, zalika adna alla ta’ulu.”

(Qs. 4 An-Nisa ayat 3, sumber Lidwa Pusaka)

Dua Istri lebih baik bagi Pria Muslim?

Sementara Hadis Shahih Bukhari nomor 260 memberitahu kita bahwa Rasulullah SAW mempunyai 11 orang isteri. Sedangkan Hadis Shahih Muslim nomor 2656 menyebutkan bahwa jumlah isteri Rasulullah ada sebanyak 9 orang. (Untuk tulisan lebih detil tentang jumlah dan daftar istri Rasulullah SAW silahkan lihat  “Seputar Komentar ‘Memiliki Istri sampai 4? Muslimah jatahnya di Neraka’“)

Terbersit pertanyaan dalam hati. Mengapa Rasulullah memiliki isteri lebih dari 4 orang, bahkan mencapai 9 atau 11 orang? Bukankah Al-Qur’an telah membatasi jumlah maksimal isteri seorang Muslim adalah 4 orang? Apakah perbuatan Rasulullah tersebut merupakan satu pelanggaran terhadap Al-Qur’an?

Kalau Surat An-Nisaa’ ayat 3 tersebut diberlakukan, maka boleh dikatakan bahwa isteri ke-5 hingga ke-9 atau ke-11 tersebut sebenarnya bukan merupakan hak. Artinya, kalau diambil, itu namanya pelanggaran. Kecuali kalau Allah yang menurunkan aturan tersebut adalah Allah yang kompromistik terhadap pelanggaran atau dosa. Atau merupakan Allah yang pilih kasih atau tidak adil. Kalau yang melakukan pelanggaran terhadap hukum-hukum Al-Qur’an adalah orang-orang tertentu, yaitu orang yang kepadanya mungkin Allah pilih kasih, hukum tersebut dapat dirubah menjadi Sunah.

Ini sangat membingungkan. Seolah-olah semua peraturan yang ada di Al-Qur’an, baik berupa larangan ataupun kewajiban, kalau dilanggar oleh Rasulullah, boleh dirubah menjadi Sunah Rasul.

Jikalau benar demikian, lalu dimana letak azas kepastian dan kesetaraan hukum dari peraturan-peraturan yang ada di Al-Qur’an? Atau, apakah standar kesucian ayat-ayat Al-Qur’an memang dipandang rendah sehingga seseorang tidak akan merasa berdosa jika melanggarnya atau tidak mematuhinya? Bahkan sampai merubahnya?

Apakah Al-Qur’an itu bukan merupakan satu perkataan ilahi yang harus dihormati kesuciannya atau ditakuti kekuatannya? Apakah otoritas Allah sebagai Penguasa segala sesuatu memang tidak begitu kuat? Kenapa Allah sepertinya diam saja melihat peraturan yang dibuat-Nya dirubah dengan begitu saja oleh manusia?

Jika demikian buat apa Allah menurunkan Al-Qur’an yang dikatakan tidak mungkin salah dan tidak dapat dirubah-rubah? Bukankah akan dapat terjadi bahwa hal-hal seperti itu malah akan merongrong kewibawaan dan otoritas Allah, sehingga orang-orang akan menjadi kurang hormat terhadap Allah?

Sungguh berbeda dengan Allah yang ada di dalam Kitab Suci Taurat, Zabur dan Injil (Alkitab).

Perintah‐perintah Allah yang ada di Alkitab sangat berwibawa dan berkuasa. Siapa saja yang melanggarnya akan terkena hukuman Allah. Bahkan para nabi sendiri, termasuk yang menerima wahyu, kalau melanggarnya, dihukum Allah. Kita lihat bagaimana nabi Daud dihukum Allah karena mengambil isteri orang lain. Anaknya mati dan keturunannya mengalami konflik berkepanjangan (2 Samuel 12). Raja Salomo (nabi Sulaiman) kena hukuman Allah karena menikah dengan perempuan‐perempuan kafir dan ikut‐ikutan dengan isterinya menyembah berhala. Kerajaannya dikoyakkan Allah (1Raja‐raja 11:1‐13). Harun (imam) dan Miryam (saudara perempuan Harun) dihukum Allah karena memberontak terhadap nabi Musa. Miryam bahkan sampai ditimpa penyakit kusta sebagai wujud hukuman Allah (Bilangan 12:1‐15). Siapa saja, kalau melanggar perintah Allah didalam Alkitab, kena hukum. Allah tidak pernah pilih kasih. Allah maupun perintah Allah sangat dihormati dan ditakuti.

Belum hilang bingung yang satu, kita dihadapkan pada kebingungan yang baru. Dalam Surat An‐Nisa’ ayat 24 Allah melarang atau mengharamkan orang beriman untuk menikahi perempuan yang bersuami, kecuali hamba sahaya (tawanan perang) yang dimiliki.

24. dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian  (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

“waalmuhsanaatu mina alnnisaa-i illaa maa malakat aymaanukum kitaaba Allaahi ‘alaykum wauhilla lakum maa waraa-a dzaalikum an tabtaghuu bi-amwaalikum muhsiniina ghayra musaafihiina famaa istamta’tum bihi minhunna faaatuuhunna ujuurahunna fariidhatan walaa junaaha ‘alaykum fiimaa taraadaytum bihi min ba’di alfariidhati inna Allaaha kaana ‘aliiman hakiiman.”

(Surat 4 An-Nisa ayat  24, sumber Lidwa Pusaka)

Namun ada satu peristiwa yang membingungkan yang tercatat dalam Qs. 33 Al‐Ahzab ayat 37. Ayat tersebut berbunyi:

37. Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.

“Wa-idz taquulu lilladzii an’ama Allaahu ‘alayhi wa-an’amta ‘alayhi amsik ‘alayka zawjaka waittaqi Allaaha watukhfii fii nafsika maa Allaahu mubdiihi watakhsyaa alnnaasa waAllaahu ahaqqu an takhsyaahu falammaa qadaa zaydun minhaa watharan zawwajnaakahaa likay laa yakuuna ‘alaa almu/miniina harajun fii azwaaji ad’iyaa-ihim idzaa qadhaw minhunna watharan wakaana amru Allaahi maf’uulaan.”

(Surat 33 AlAhzab ayat 37, sumber Lidwa Pusaka)

Surat 33 Al-Ahzab ayat 37 mengatakan bahwa Allah menginginkan Rasulullah mengambil isteri anak angkatnya Zaid bin Haritha untuk dijadikan isteri Rasulullah. Nama wanita tersebut adalah Zainab. Zainab itu isteri Zaid, bukan seorang janda. Dia memiliki suami. Bagaimana mungkin Allah menyuruh Rasulullah melanggar ayat Qur’an dengan mengambil seorang wanita yang bersuami untuk dinikahi atau dikawini? Bukankah Itu berarti bahwa Allah menyuruh Rasulullah untuk melanggar perkataan atau perintah Allah sendiri?

Karena sangat membingungkan, kami coba cari referensi lain untuk mendapatkan jawabannya. Kami menemukan dalam buku “Kebenaran Diungkapkan” karangan Dr. Anis Shorrosh, seorang Arab Palestina, ada dituliskan sebagai berikut :

Pada suatu hari nabi Muhammad pergi berkunjung ke rumah anak angkatnya Zaid. Zaid tidak ada di rumah. Secara kebetulan nabi Muhammad melihat isteri Zaid, Zainab, tidak berkerudung. Tertarik oleh kecantikan Zainab, nabi Muhammad berteriak “Pujian adalah milik Tuhan yang menggerakkan hati laki-laki sama seperti kehendak-Nya.” Kata-kata ini terdengar oleh Zainab, yang merasa bangga telah menaklukkan hati Rasulullah. Zainabpun menceritakan peristiwa itu kepada suaminya. Dengan segera Zaid pergi  kepada nabi Muhammad dan menawarkan perceraian isterinya untuk dinikahkan dengan nabi Muhammad. Mula-mula nabi Muhammad menolak, sebab hal seperti itu belum pernah terjadi, yaitu menikahi isteri anak angkat yang diceraikan. Tetapi Zaid meneruskan usulnya. Akhirnya nabi Muhammad memutuskan untuk mengambil Zainab menjadi isterinya yang kelima.

Pernikahan tersebut menyebabkan keonaran besar. Untuk menyelamatkan nama baiknya, nabi Muhammad mencari jalan untuk membenarkan perbuatannya dengan menyatakan bahwa pernikahan tersebut dilakukan atas perintah Allah. Turunlah ayat Qur’an Surat Al-Ahzab 37 tersebut.

(Dikutip dari buku “Kebenaran Diungkapkan” Dr. Anis Shorrosh halaman 66 dan 67)

Sejak saat itu pula orang beriman (umat Muslim) diperbolehkan menginginkan atau mengambil isteri orang lain, yaitu isteri dari anak angkat. Bukankah semua itu sangat membingungkan?

Selanjutnya Mutiara Hadist Bukhari-Muslim no. 897 menjelaskan bahwa isteri ketiga Rasulullah yang bernama Siti Aisyah dinikahinya pada saat wanita tersebut berumur 6 tahun, dan dibawa keatas tempat tidur saat berusia 8 tahun. Ini juga menimbulkan kebingungan. Bagaimana mungkin Rasulullah mengawini seorang anak dibawah umur, dimana hal tersebut tidak dibenarkan bahkan di Arab sekalipun? Apalagi anak berumur 8 tahun.

Masih terkait dengan persoalan pernikahan  atau perkawinan yang sedang kita bicarakan, masih ada lagi Hadist dan  ayat Al-Qur’an yang sangat  mengganggu pikiran, yang berbunyi demikian :

“Pernyataan Allah, wanita-wanita cantik ditambatkan di paviliun-paviliun. Rasul Allah berkata, “Di Surga ada sebuah paviliun yang terbentuk dari sebuah lubang terowongan mutiara yang lebarnya 60 mil, pada masing-masing sudut terdapat para isteri yang terpisah dan tidak dapat saling melihat dengan sudut lainnya, dan orang-orang beriman akan mengunjungi para wanita tersebut untuk “menikmati” mereka

(Hadis VI/406)

dan,

“(Dikatakan kepada mereka), “Makan dan minumlah dengan rasa nikmat sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan,” Mereka bersandar diatas dipan-dipan yang tersusun dan Kami berikan kepada mereka pasangan bidadari yang bermata indah.”

“Kulu wasyrabu hani’am bima kuntum ta’malun. Muttaki’ina ‘ala sururim masfufah, wa zawwajnahum bi hurin ‘in.”

(Surat  52 Ath-Thuur ayat 19-20, sumber Lidwa Pusaka)

Surat 52 Ath-Thuur ayat 19,20 serta Hadist VI/406 di atas mengatakan bahwa di surga nanti disediakan bidadari-bidadari cantik untuk “dinikmati” orang-orang beriman. Hal ini sangat mengganggu pikiran. Bukankah Al-Qur’an maupun Hadist  sangat menentang percabulan dan perzinahan, terlebih hubungan seks bebas? Bagaimana mungkin  ayat Al-Qur’an dan Hadist di atas justru  mengajarkan bahwa di surga nanti orang beriman akan menikmati hubungan seks bebas dengan para wanita cantik / bidadari?

Bukankah antara pengajaran yang satu dengan pengajaran lainnya terlihat begitu saling bertentangan? Terkesan seolah tidak ada kekonsistenan diantara sesama pengajaran Al-Qur’an maupun Hadist. Kita juga jadi ingin bertanya. Apakah standar kesucian surga, dimana Allah yang Maha Suci bertakhta, begitu rendah di mata Qur’an dan Hadist? Bagaimana mungkin di surga orang melakukan perbuatan seks bebas? Terlebih lagi, itu dilakukan di hadapan Allah Yang Maha Suci.

Sebagai tambahan, semua “kenikmatan” surgawi itu disediakan bagi kaum pria. Lagi-lagi kita ingin bertanya. Bagaimana dengan kaum wanita Muslim? Jawabannya dijumpai dalam pernyataan berikut :

“… Aku berdiri di ambang neraka, dan ternyata kebanyakan penghuninya adalah para wanita.”

 (Hadis Shahih Bukhari 4797, sumber Lidwa Pusaka)

“… Kemudian aku melihat ke dalam neraka, maka aku pun melihat kebanyakan penghuninya adalah para wanita.” 

          (Hadis Shahih Bukhari 4799, sumber Lidwa Pusaka)

Sungguhkah nasib kaum wanita Muslim begitu menyedihkan? Selama hidup di dunia ini, para wanita harus siap untuk dimadu serta dijadikan pemuas nafsu kaum pria. Sesudah meninggal dunia para wanita justru dimasukkan kedalam api neraka. Sementara kaum pria “menikmati” bidadari / wanita cantik di surga.

Adilkah itu?

Lalu bagaimana pula halnya seandainya sang isteri ikut masuk ke surga ? Apakah setiap hari dia harus melihat suaminya bersetubuh atau menggauli wanita-wanita cantik secara bergantian ? Bukan hanya satu wanita cantik. Dan itu terjadi terus-menerus setiap hari. Selama-lamanya. Di depan matanya. Bagaimana rasanya menjadi wanita yang seperti itu? Padahal, untuk dapat masuk ke surga saja, sang isteri sudah harus berjuang keras selama masih hidup di bumi. Dengan sangat tekun dia menjalankan amalan agama agar tidak masuk neraka dan agar tidak menderita di sana. Setelah berhasil masuk ke surga, dia justeru harus melihat sang suami melakukan hubungan sex bebas terus-menerus dengan wanita-wanita lain. Apa semua itu benar? Apa benar bahwa surga, yang selama ini dijanjikan sebagai “tempat” yang menjamin kebahagiaan kekal, akan menempatkan serta memperlakukan para wanita Muslim dengan cara seperti itu? Apa benar bahwa Allah Yang Maha Suci dan Yang Maha Adil memiliki sifat seperti itu?

(sehubungan dengan banyaknya komentar atas tulisan ini maka saya buatkan sebuah tulisan yang merangkumnya dalam bentuk

Komentar Seputar ‘Memiliki Istri sampai 4? Muslimah jatahnya di Neraka (Hadis Shahih Bukhari 4797 dan 4799)’“)

Dimana Letak Jawabannya? Pengkajian terhadap Al Quran, Hadist, dan Alkitab
Download e-book “Dimana Letak Jawabannya? Pengkajian terhadap Al Quran,
Hadist, dan Alkitab dengan meng-klik gambar di atas

12 Comments

Filed under Uncategorized

12 responses to “Memiliki Istri sampai 4? Muslimah jatahnya di Neraka (Hadis Shahih Bukhari 4797 dan 4799)

  1. dari pertanyaan dng berbagai dasar tersebut, sudahkah ada jawabannya??? saya juga ingin tau..

    • Salam Pak Nur Ali,
      Dari berbagai dasar tersebut, tentunya bukanlah jawaban saya atau jawaban Bapak yang benar. Yang benar hanya satu, yaitu Allah saja. Tetapi kita diciptakan sebagai manusia dengan pikirannya boleh bertanya bukan? Hanya saja adakah jawabannya?
      Tentu jawabannya ada di dalam seluruh apa yang telah Allah sendiri Firmankan, di dalam kitab-kitabNya, di dalam Al Quran, Hadis, dan Alkitab. Kalau kita mencari jawaban di luar kitab-kitab tersebut berarti kita akan mendapat murka.
      Dan apakah yang kita pahami dari ucapan atau Firman Allah merupakan jawaban yang benar? Mari kita berdiskusi mencari kebenaran itu, mutiara yang indah yang diberikan Allah untuk ditemukan oleh umat manusia.
      Sekian dari saya, terima kasih

  2. maksudnya, asbabun nuzul (sebab musabab/asal-usul) dari ayat2 tersebut bagaimana? kapan diberlakukannya? karena dibalik setiap ayat Al-Qur’an (sepengetahuan saya) tersebut pasti ada peristiwa dan hikmahnya. Dari yang saudara tuliskan masuk akal juga untuk suatu pertanyaan atau mungkin menurut hemat saya seperti “penggugatan” namun dalam artikel ini belum ada jawaban dari pertanyaan tersebut, mohon kalau udah ada jawabannya tolong dishare… terima kasih

    • Salam Pak Nur Ali,
      Senang bisa mendapatkan comment dari Bapak. Betul bahwa sesuatu ada sebab musababnya. Tetapi tentu Firman Allah haruslah kekal. Oleh karena itu yang dulu berlaku sekarang pun juga harus berlaku. Sebetulnya pertanyaan sebagai seorang manusia adalah wajar, terutama dalam hal mencari kebenaran. Sebab kebenaran hanya bisa dicari, tentu dengan tuntunan Allah melalui pembacaan kitab-kitab suci yang diturunkan-Nya. Saya harap bapak bisa membaca kembali dari halaman-halaman yang ada di website ini dan tentu Bapak bisa membagikan kebenaran yang bisa Bapak temukan saat membaca setiap ayat-ayat baik Quran, Hadis Shahih, maupun Kitab Suci Injil seperti yang kami sajikan.
      Demikian reply dari saya
      Sukses untuk Pak Nur Ali :)

      • BB Zaman

        Hemat Saya, lebih baik bertanya lan9sun9 kepada ahlinya (MUI), karena apabila hanya den9an membaca saja pasti seperti itu…..

      • Salam b_zaman082,

        Mungkin bisa disampaikan melalui comment ini, ayat atau hadist mana dari postingan saya yang tidak asli atau salah? Sehingga kita bisa saling memperbaiki dan membangun. Setidaknya apa yang saya sampaikan di postingan ini sudah melalui perenungan yang mendalam, dan diambil dari Al Quran, Hadist yang shahih, yang terambil juga dari terjemahan yang resmi.

        Terima kasih sudah sudi mampir.

  3. Permisi… Izinkan saya untung numpang bertanya di halaman ini… barangkali ada yang mampir dan bisa memberikan jawaban.

    Dalam Al-Qur’an diperbolehkan memiliki istri lebih dari 1, dan dijelaskan bagi muslim dibatasi jumlahnya sebanyak 4.
    Lalu Nabi Muhammad SAW memiliki istri lebih dari 4, TAPI Nabi Muhammad SAW melakukan itu untuk kebaikan, ialah mengankat derajat wanita berstatus janda, karena pada zaman jahiliyah itu wanita janda adalah HINA.

    Yang jadi unek” sayan adalah !!!
    Apakah Nabi Muhammad SAW menyetubuhi “wanita2″ itu atau hanya menaikan derajat “wanita” itu ?

    Terimakasih telah bisa posting disini…
    semoga ditampilkan dan mendapat jawaban atas unek” saya.

    Somebody help me…
    I’am GALAU.

    • Salam bu Fihasa,

      Riwayat kehidupan (biografi) Rasulullah telah dicoba disusun atau ditulis oleh banyak orang. Antara satu dengan yang lain ada kesamaannya, namun ada juga beberapa perbedaan.

      Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya menyarankan agar membaca tulisan berjudul :
      “Nama isteri-isteri dan anak-anak Rasulullah (Cintailah Keluarga Nabi)” , yang ditulis oleh :
      Ustadz Abdul Manaf Bin Abdul Gani (tulisan ini dapat dibuka lewat GOOGLE CHROME).

      Mengapa tulisan Ustadz Abdul Manaf Bin Abdul Gani yang saya sarankan untuk dibaca? Karena Ustadz menyusun tulisan beliau berdasarkan kitab riwayat hidup/ biografi Rasulullah yang berjudul “Ar-Raheeq-ul-Makhtum” (ditulis oleh Safi-ur-Rehman Mubarakpuri).

      Buku Ar-Raheeq-ul-Makhtum tersebut merupakan penerima penghargaan tertinggi dari Liga Muslim Sedunia (Muslim World League) pada Konperensi Islam mengenai Sirah (Konperensi pertama) tahun 1979 (1399 H). Buku Ar-Raheeq-ul-Makhtum menerima penghargaan tersebut setelah memenangkan kompetisi se dunia di antara buku-buku Riwayat Hidup atau Biografi Rasulullah. Buku tersebut mengalahkan 170 buku lainnya yang semuanya menulis tentang Riwayat Hidup Rasulullah. Ustadz Abdul Manaf Bin Abdul Gani menyusun tulisan beliau berdasarkan Kitab Ar-Raheeq-ul-Makhtum. Itu sebabnya saya sarankan membacanya.

      Di bawah ini saya coba copy/paste sebagian dari tulisan Ustadz Abdul Manaf Bin Abdul Gani yang saya maksudkan :

      ——————–
      Re: Nama isteri-isteri dan anak-anak Rasulullah (Cintailah Keluarga Nabi)
      Posted By: manafgani Fri Feb 6, 2004 9:44 am
      Wa’alaikumsalaam Wr Wb

      Berdasar kepada kitab Baitun Nubuwwah, oleh HMH Al Hamid Al Husaini dan kitab Rahiiq Al Makhtuum oleh Saifur Rahman Al Mubaarakfuri, begini ikut urutan:

      Isteri-isteri Nabi yang disetubuhi:
      1) Khadijah Binti Khuwailid, Al Kubra
      2) Sa’udah Binti Zam’ah
      3) Aisyah Binti Abu Bakr R.A., Ath Thohrah
      4) Hafshah Binti Umar AL Khattab R.A.
      5) Zainab Binti Khuzaimah (Ummu Masaakiin)
      6) Hindun Binti Umayyah – Zadir Rakb (Ummu Salamah)
      7) Zainab Binti Jahsy
      8) Juwairiyah Binti Al Harits
      9) Shafiyyah Binti Huyaiy
      10) Ramlah Binti Abu Sufyan (Ummu Habibah)
      11) Maimunah Binti Al Harits
      Hanya Khadijah dan Zainab Bte Khuzaimah wafat sebelum wafatnya Nabi S.A.W.

      2 isteri Nabi yang tidak disetubuhi:
      1) Seorang wanita dari Bani Kilab, yang namanya tidak disebut dalam kitab (kalau ada pun khilaf)
      2) Al Jauniyah

      4 orang Sariyah, hamba wanita yang Nabi setubuhi (tidak perlu nikah):
      1) Mariyah Al Qibthiyah
      2) Raihanah Binti Zaid Al Quraizah
      3) Jamiilah
      4) Seorang lagi, nama tidak disebut adalah hadiah dari isteri bernama Zainab Bti Jahsy.

      Anak-anak dari Khadijah Bte Khuwailid:
      1) Zainab
      2) Ruqayyah
      3) Ummu Kultsum
      4) Fathimah
      5) Abdullah
      6) Qasim
      Kedua putera Nabi ini wafat ketika masih kecil, usia antara 6 bulan hingga bawah 2 tahun.

      Anak dari Mariyah Al Qibthiyah:
      1) Ibrahim
      Wafat ketika usia 2 tahun.

      Cucu Nabi, dari anaknya Fathimah dengan Ali:
      1) Hasan Bin Ali – menjadi nasab Nabi S.A.W.
      2) Husain Bin Ali – menjadi nasab Nabi S.A.W.
      3) Muhsin Bin Ali (Wafat sebelum Fathimah wafat)
      4) Zainab Bin Ali (Yang digelar Aqilah Bani Hasyim)
      5) Ummu Kultsum
      Nama anak-anak perempuan Fathimah, melambangkan betapa cinta beliau pada kakak-kakak beliau.

      Keturunan Saidina Hasan digelar “Saiyid dan Saiyidah” dan keturunan Saidina Husain digelar “Syarif dan Syarifah”, rujukan Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi. Kedua Hasan dan Husain menjadi nasab Nabi S.A.W. walaupun dari ayah mereka Ali Bin Abi Thalib, ini adalah khususiyah Nabi S.A.W.

      Cucu Nabi, dari anaknya Zainab dengan Abul Ash:
      1) Ali Bin Abul Ash
      2) Amamah Binti Abul Ash

      Ali ini tidak menjadi nasab Nabi, sebab bernasab kepada Abul Ash yang bukan dari Bani Hasyim. Abul Ash dari Bani Umayyah Bin Abdusy Syams. Amamah dinikahi oleh Ali Bin Abi Thalib selepas wafatnya Fathimah Binti Muhammad S.A.W.

      Ini sahaja information yang dapat saya beri, berdasarkan kepada ilmu dan pembacaan saya. Yang benar dari Allah dan kalau ada kesilapan dan kekurangan adalah dari saya yang dhaif dan hina ini.

      Berkata Imam Syafie:
      “Cintai lah ahlul bait Nabi S.A.W. dengan sepenuh hati. Kalau kerana cinta aku kepada ahlul bait Nabi S.A.W. aku digelar Syiah Rafidah, Syiah Rafidah lah aku.”
      Wallaahu’alam.

      Unzhur Maa Qiila Walaa Tanzhur Man Qaala Al Haqiir Wal Faqiir Ilaa Rabbihi, Akhuukum Fil Islaam
      Abdul Manaf Bin Abdul Gani

      —– Original Message —–

      From: “rosli”
      To:
      Sent: Thursday, February 05, 2004 4:58 AM
      Subject: Nama isteri-isteri dan anak-anak Rasulullah

      > Assalamualaikum,
      >
      > Nak minta tolong dari ustaz. Boleh tak ustaz senaraikan nama
      > isteri-isteri dan anak-anak Rusulullah s.a.w. Sebenarnya anak saya
      > (sedang belajar dalam Form 2) diarahkan oleh guru agama untuk cari info
      > ttg keluarga Rusulullah s.a.w beserta cara hidup baginda.
      > Segala pertolongan ustaz akan terbalas kemudian hari.
      >

  4. Salam. Maaf baru sempat me-reply comment bapak.

    Mohon maaf Bapak sebelumnya. Kami harap kami tidak disalahpahami. Sedikitpun kami tidak bermaksud hendak menghina Rasulullah ataupun Al-Qur’an dan Hadis. Kalau Bapak menyimak isi ulasan kami berjudul : “Memiliki Istri sampai 4? Muslimah jatahnya di Neraka” ataupun “Memiliki Isteri Sebanyak 2, 3 Atau 4 Orang” , Bapak akan melihat bahwa yang membingungkan kami adalah mengapa Rasulullah mengambil isteri lebih dari 4 orang sementara Al-Qur’an wahyu Allah atau Perintah Allah sudah membatasi jumlah isteri yang diijinkan untuk dimiliki seorang Muslim sebanyak 4 orang isteri.
    Mengenai penjelasan Bapak mengenai Zainab, kami mengucapkan terima kasih. Masukan seperti inilah yang kami butuhkan. Kalau boleh kami meminta referensi yang Bapak pakai mengenai riwayat tersebut. Apakah Bapak memakai Hadis Shahih atau yang lainnya. Maaf, selama ini kami hanya membatasi diri pada Al-Qur’an dan Hadis Shahih, walaupun kami tahu bahwa Hadis ada terlalu banyak macamnya, bahkan kabarnya sampai 25 Hadis.

  5. Sekali lagi Salam buat Bapak, baru sekarang saya sempatkan untuk me-reply comment dari Bapak yang berikutnya. Sebelumnya terima kasih sudah berulang kali membaca blog saya.

    Sekali lagi saya mohon maaf dan meminta kesediaan Bapak untuk membaca bagian KATA PENGANTAR serta KATA PENUTUP buku kecil yang berjudul : DIMANA LETAK JAWABANNYA tersebut. Disitu kami sudah menguraikan mengapa kami mempelajari Al-Qur’an dan Hadis Shahih sekaligus membandingkannya dengan isi Alkitab orang Nasrani. Sekali lagi, mohon dapat dimengerti.
    Mengenai Isa Al-Masih dikatakan Tuhan oleh umat Nasrani, ijinkan saya memberi jawaban. Setelah saya membaca dan mempelajari Al-Qur’an dan Hadis, saya justeru terperanjat karena ayat-ayat suci Al Qur’an maupun Hadis Shahih justeru menggambarkan Isa Al-Masih itu sebagai Penguasa Yang Sangat Tinggi, bahkan Yang Maha Tinggi, baik di dunia maupun di akhirat. Posisi tersebut sama dengan posisi Tuhan. Ulasan kami mengenai topik ini dapat juga Bapak baca di tulisan kami berjudul : AGAMA ISLAM DAN KRISTEN SAMA-SAMA TIDAK MENYELAMATKAN.

    Mengenai tuduhan umat Muslim terhadap umat Nasrani yaitu bahwa umat Nasrani berkata bahwa Allah mempunyai anak dan sekaligus menuduh bahwa umat Nasrani telah mengucapkan yang tidak pantas terhadap Allah yang Maha Suci serta telah menghina atau menghujah Allah yang Maha Suci. Ijinkan saya memberi jawaban. Saya mau bertanya terlebih dahulu kepada Bapak : “Darimana Bapak tahu bahwa umat Nasrani seperti itu, yaitu telah menghina atau menghujah Allah yang Mahasuci dengan mengatakan bahwa Allah punya Anak? Apa dasarnya Bapak menuduh umat Nasrani berbuat ataupun berkata seperti itu? Apakah memangnya Bapak sudah membaca Kitab Suci umat Nasrani sehingga Bapak mengajukan tuduhan seperti itu terhadap umat Nasrani? Kalau Bapak sudah baca, bolehkah Bapak tunjukkan ayat-ayat dalam Kitab Suci umat Nasrani yang mengatakan seperti itu?”
    Kalau Bapak membaca Kitab Suci umat Nasrani maka Bapak akan melihat bahwa tidak ada satu ayatpun didalam Kitab Suci umat Nasrani yang menuliskan bahwa Allah punya Anak atau Allah beranak dimana kemahasucian Allah dihina atau dihujah. Tidak ada satu ayatpun dalam Kitab Suci umat Nasrani yang mengatakan hal-hal yang tidak pantas terhadap Allah seperti itu. Menurut hemat saya, kalau kita ingin tahu bagaimana ajaran umat Nasrani, kita seharusnya membaca Kitab Suci umat Nasrani. Sebagai analogi, kalau kita mau mengetahui bagaimana cara mengobati penyakit fisik, kita harus baca buku ilmu Kedokteran atau Kesehatan, bukan membaca buku ilmu Ekonomi atau ilmu Hukum. Kalau kita ingin tahu bagaimana ajaran umat Nasrani, kita seharusnya membaca Kitab Suci umat Nasrani, bukan membaca kitab yang lain, yaitu Al-Qur’an. Maaf, saya tidak dapat menjelaskan disini secara panjang lebar karena khawatir jawaban saya ini terlalu panjang. Saya anjurkan Bapak membaca lagi ulasan kami mengenai topik ini dalam buku kecil DIMANA LETAK JAWABANNYA tersebut khusus bagian yang berjudul : KAFIRKAH KRISTEN? Menurut Al-Qur’an, Hadis dan Alkitab.
    Terakhir mengenai tuduhan bahwa Injil telah dipelintir oleh para pendeta, pastur dan paus. Setahu kami ayat Al-Qur’an (Qs. 6 Al-An’am 34) memberi jaminan bahwa Injil, Taurat, Zabur dan Kitab Nabi-nabi tidak mungkin ada yang dapat mengubah atau mendustakannya karena Allah sendiri yang menjaganya. Ulasan kami mengenai topik ini dapat Bapak baca dalam buku DIMANA LETAK JAWABANNYA pada bagian yang berjudul : BEBERAPA PERBEDAAN ANTARA ISI HADIST, AL-QUR’AN SERTA ALKITAB.

  6. Ayu Parawanti

    Assalamualaikum.
    sebenarnya istrri rasulullah saw itu ada 4, 9, 12, 21, atau 11.
    saya pusing, yang benarnya itu bagaimana?? sekolah saja aku berbeda pendapat sama semua teman2 dia bialng istir rasululah ada4 sedangkan saya bilang ada12. trus smuanya gg ada peryaca, karena yang dia tau indonesia dan di al-qur’an pun ada4.
    jadinyakan panjang!!

  7. Salam bu Ayu, pertanyaan serupa telah ditanyakan oleh bu Fihasa dan sudah saya berikan comment reply juga. Sebenarnya berapa jumlah istri Rasulullah tersebut terdapat di dalam riwayat kehidupan (biografi) Rasulullah (Assyrah annabiwiyah) yang telah dicoba disusun atau ditulis oleh banyak orang. Antara satu dengan yang lain ada kesamaannya, namun ada juga beberapa perbedaan.

    Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya menyarankan agar membaca tulisan berjudul :
    “Nama isteri-isteri dan anak-anak Rasulullah (Cintailah Keluarga Nabi)” , yang ditulis oleh Ustadz Abdul Manaf Bin Abdul Gani (tulisan ini dapat dibuka lewat GOOGLE CHROME).

    Mengapa tulisan Ustadz Abdul Manaf Bin Abdul Gani yang saya sarankan untuk dibaca? Karena Ustadz menyusun tulisan beliau berdasarkan kitab riwayat hidup/ biografi Rasulullah yang berjudul “Ar-Raheeq-ul-Makhtum” (ditulis oleh Safi-ur-Rehman Mubarakpuri).

    Buku Ar-Raheeq-ul-Makhtum tersebut merupakan penerima penghargaan tertinggi dari Liga Muslim Sedunia (Muslim World League) pada Konperensi Islam mengenai Sirah (Konperensi pertama) tahun 1979 (1399 H). Buku Ar-Raheeq-ul-Makhtum menerima penghargaan tersebut setelah memenangkan kompetisi se dunia di antara buku-buku Riwayat Hidup atau Biografi Rasulullah. Buku tersebut mengalahkan 170 buku lainnya yang semuanya menulis tentang Riwayat Hidup Rasulullah. Ustadz Abdul Manaf Bin Abdul Gani menyusun tulisan beliau berdasarkan Kitab Ar-Raheeq-ul-Makhtum. Itu sebabnya saya sarankan membacanya.

    Di bawah ini saya coba copy/paste sebagian dari tulisan Ustadz Abdul Manaf Bin Abdul Gani yang saya maksudkan :

    ——————–
    Re: Nama isteri-isteri dan anak-anak Rasulullah (Cintailah Keluarga Nabi)
    Posted By: manafgani Fri Feb 6, 2004 9:44 am
    Wa’alaikumsalaam Wr Wb

    Berdasar kepada kitab Baitun Nubuwwah, oleh HMH Al Hamid Al Husaini dan kitab Rahiiq Al Makhtuum oleh Saifur Rahman Al Mubaarakfuri, begini ikut urutan:

    Isteri-isteri Nabi yang disetubuhi:
    1) Khadijah Binti Khuwailid, Al Kubra
    2) Sa’udah Binti Zam’ah
    3) Aisyah Binti Abu Bakr R.A., Ath Thohrah
    4) Hafshah Binti Umar AL Khattab R.A.
    5) Zainab Binti Khuzaimah (Ummu Masaakiin)
    6) Hindun Binti Umayyah – Zadir Rakb (Ummu Salamah)
    7) Zainab Binti Jahsy
    8) Juwairiyah Binti Al Harits
    9) Shafiyyah Binti Huyaiy
    10) Ramlah Binti Abu Sufyan (Ummu Habibah)
    11) Maimunah Binti Al Harits
    Hanya Khadijah dan Zainab Bte Khuzaimah wafat sebelum wafatnya Nabi S.A.W.

    2 isteri Nabi yang tidak disetubuhi:
    1) Seorang wanita dari Bani Kilab, yang namanya tidak disebut dalam kitab (kalau ada pun khilaf)
    2) Al Jauniyah

    4 orang Sariyah, hamba wanita yang Nabi setubuhi (tidak perlu nikah):
    1) Mariyah Al Qibthiyah
    2) Raihanah Binti Zaid Al Quraizah
    3) Jamiilah
    4) Seorang lagi, nama tidak disebut adalah hadiah dari isteri bernama Zainab Bti Jahsy.

    Anak-anak dari Khadijah Bte Khuwailid:
    1) Zainab
    2) Ruqayyah
    3) Ummu Kultsum
    4) Fathimah
    5) Abdullah
    6) Qasim
    Kedua putera Nabi ini wafat ketika masih kecil, usia antara 6 bulan hingga bawah 2 tahun.

    Anak dari Mariyah Al Qibthiyah:
    1) Ibrahim
    Wafat ketika usia 2 tahun.

    Cucu Nabi, dari anaknya Fathimah dengan Ali:
    1) Hasan Bin Ali – menjadi nasab Nabi S.A.W.
    2) Husain Bin Ali – menjadi nasab Nabi S.A.W.
    3) Muhsin Bin Ali (Wafat sebelum Fathimah wafat)
    4) Zainab Bin Ali (Yang digelar Aqilah Bani Hasyim)
    5) Ummu Kultsum
    Nama anak-anak perempuan Fathimah, melambangkan betapa cinta beliau pada kakak-kakak beliau.

    Keturunan Saidina Hasan digelar “Saiyid dan Saiyidah” dan keturunan Saidina Husain digelar “Syarif dan Syarifah”, rujukan Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi. Kedua Hasan dan Husain menjadi nasab Nabi S.A.W. walaupun dari ayah mereka Ali Bin Abi Thalib, ini adalah khususiyah Nabi S.A.W.

    Cucu Nabi, dari anaknya Zainab dengan Abul Ash:
    1) Ali Bin Abul Ash
    2) Amamah Binti Abul Ash

    Ali ini tidak menjadi nasab Nabi, sebab bernasab kepada Abul Ash yang bukan dari Bani Hasyim. Abul Ash dari Bani Umayyah Bin Abdusy Syams. Amamah dinikahi oleh Ali Bin Abi Thalib selepas wafatnya Fathimah Binti Muhammad S.A.W.

    Ini sahaja information yang dapat saya beri, berdasarkan kepada ilmu dan pembacaan saya. Yang benar dari Allah dan kalau ada kesilapan dan kekurangan adalah dari saya yang dhaif dan hina ini.

    Berkata Imam Syafie:
    “Cintai lah ahlul bait Nabi S.A.W. dengan sepenuh hati. Kalau kerana cinta aku kepada ahlul bait Nabi S.A.W. aku digelar Syiah Rafidah, Syiah Rafidah lah aku.”
    Wallaahu’alam.

    Unzhur Maa Qiila Walaa Tanzhur Man Qaala Al Haqiir Wal Faqiir Ilaa Rabbihi, Akhuukum Fil Islaam
    Abdul Manaf Bin Abdul Gani

    —– Original Message —–

    From: “rosli”
    To:
    Sent: Thursday, February 05, 2004 4:58 AM
    Subject: Nama isteri-isteri dan anak-anak Rasulullah

    > Assalamualaikum,
    >
    > Nak minta tolong dari ustaz. Boleh tak ustaz senaraikan nama
    > isteri-isteri dan anak-anak Rusulullah s.a.w. Sebenarnya anak saya
    > (sedang belajar dalam Form 2) diarahkan oleh guru agama untuk cari info
    > ttg keluarga Rusulullah s.a.w beserta cara hidup baginda.
    > Segala pertolongan ustaz akan terbalas kemudian hari.
    >

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s