Tanpa Membaca Injil Sulit Memahami Al-Qur’an

Sebagaimana yang telah kami utarakan dalam tulisan-tulisan kami sebelumnya, kami masih melakukan pengkajian terhadap Al-Qur’an, Hadis dan Kitab Suci umat Nasrani (Alkitab). Pengkajian dan penelaahan tersebut harus kami lakukan karena menyangkut keselamatan kekal teman kami serta kami sendiri. Hal ini sudah kami utarakan dalam Kata Pengantar kami yang telah diposting dengan judul Pindah Agama, dari Kristen menjadi Islam. Tawaran yang Menarik.

kisah-para-nabi-versiKami telah menuangkan lewat tulisan-tulisan tersebut hal-hal yang kami temukan di dalam pengkajian. Kami menemukan bahwa di dalam Al-Qur’an sangat banyak tokoh yang sama dengan tokoh yang ada didalam Kitab Suci umat Nasrani (Alkitab). Demikian pula sangat banyak kisah atau peristiwa yang menyerupai kisah atau peristiwa yang tertulis di dalam Alkitab.

Di dalam Kitab Suci umat Nasrani (Alkitab) diriwayatkan mengenai kisah nabi Adam, kisah Kain dan Habil anak-anak nabi Adam, kisah nabi Nuh, kisah nabi Ibrahim, kisah nabi Ishak dan Ismail, kisah nabi Musa, kisah imam Harun, kisah Miryam (saudara perempuan Harun dan Musa), kisah raja Saul, kisah raja atau nabi Daud, kisah raja atau nabi Sulaiman, kisah nabi Elia, kisah nabi Yunus, kisah nabi Yahya, kisah Zakaria (ayahnya nabi Yahya), kisah Maryam (ibu Isa Al-Masih) dan kisah Isa Al-Masih. Sungguh menarik, Al-Qur’an yang diturunkan 600 tahun setelah Alkitab, juga menuliskan kisah tokoh-tokoh tersebut. Hanya saja, Al-Qur’an mengisahkannya terlalu singkat, terlalu sederhana dan tidak lengkap, jauh jika dibandingkan dengan apa yang dikisahkan oleh Alkitab. Kalau kita membaca kisah-kisah tersebut lewat Al-Qur’an, seringkali kita kehilangan banyak informasi. Bahkan seringkali kita sulit untuk memahami jalan cerita atau kisahnya. Informasi yang diberikan Al-Qur’an sangat sedikit. Tidak lengkap. Belum lagi dari segi urutan waktunya. Al-Qur’an dalam mengisahkannya tidak mengikuti alur kronologis atau urutan waktu sejarah. Peristiwa mana yang terjadi duluan, peristiwa mana yang terjadi belakangan. Tokoh mana yang hidup sebelumnya, tokoh mana yang hidup sesudahnya. Semuanya tidak begitu jelas.

Berbeda dengan Kitab Suci umat Nasrani (Alkitab). Alkitab mengisahkan tokoh atau peristiwa tersebut secara lengkap. Alkitab mengisahkannya dengan memperhatikan unsur kronologis atau urutan waktu sejarah. Hal ini membuat Alkitab menjadi mudah untuk dibaca dan gampang dipahami kisah dan maksudnya.

Kami melihat, jikalau kita ingin memahami kisah seorang tokoh ataupun peristiwa yang ada di Al-Qur’an, tidak cukup hanya dengan membaca Al-Qur’an. Kita tidak akan mendapatkan informasi yang memadai mengenai peristiwa ataupun tokoh tersebut. Penjelasan Al-Qur’an terlalu sedikit dan tidak lengkap. Kita juga tidak akan memperoleh informasi mengenai unsur waktu atau kronologi atau sejarahnya. Akibatnya akan sangat sulit bagi kita untuk dapat memahami peristiwa atau kisah tokoh tersebut. Untuk memahaminya, kita harus juga membaca Alkitab.

Menurut pemahaman kami, sangat wajar jika kita membaca Alkitab untuk melengkapi apa yang kita peroleh dari Al-Qur’an. Al-Qur’an sendiri mengatakan bahwa kitab yang berisi perkataan atau sabda Allah adalah Alkitab (sering juga disebut Injil) dan Al-Quran. Dasarnya adalah : Surat Al Baqarah 136, Surat An Nisaa 163 dan Surat Al Anam 84.

“Katakanlah, “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, dan kepada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka, dan kami berserah diri kepada-Nya.”
“Qulu amanna billahi wa ma unzila ilaina wa ma unzilla ila ibrahima wa isma’ila wa ishaqa wa ya’quba wal-asbati wa ma utiya musa wa isa wa ma utiyan-nabiyyuna mir rabbihim, la nufarriqu baina ahadim minhum wa nahnu lahu muslimun.”

(Qs. 2 Al-Baqarah 136, sumberLidwa Pusaka)

163. Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.

(Qs. 4 An Nisaa 163, sumber : Lidwa Pusaka)

84. Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

(Qs. 6 Al Anam 84, sumber : Lidwa Pusaka)

Ayat-ayat tersebut mengatakan bahwa Alkitab dan Al-Qur’an sama-sama diwahyukan atau diturunkan oleh Allah SWT. Dengan demikian wajar jika kita mengambil informasi dari Alkitab untuk melengkapi apa yang kita peroleh dari Al-Qur’an. Perkataan Allah melengkapi perkataan Allah. Sabda Allah melengkapi sabda Allah.

Kami akan memberikan beberapa contoh yang memperlihatkan bahwa Al-Qur’an menulis kisah-kisah tersebut sangat sedikit, tidak lengkap dan tidak menuruti alur kronologis atau sejarah. Kami akan mengutip kisah dari beberapa orang tokoh yang ada di Al-Qur’an yang sekaligus juga ada di Alkitab. Kami akan ajak pembaca untuk melihat bagaimana Al-Qur’an mengisahkannya. Lalu bagaimana Alkitab mengisahkannya.

PERTAMA  : Kisah nabi Yunus.kisah-nabi-yunus

Mari kita lihat ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara mengenai nabi Yunus :

(Surat An Nisaa 163),  Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.

(Surat Al Anam 86),   dan Ismail, Alyasa’, Yunus dan Luth. Masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya),         

(Surat Yunus 98),   Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.

(Surat Al Anbiya 87),   Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”

Surat Ash Shaaffaat 139-148,

139. Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul,   140. (ingatlah) ketika ia lari, ke kapal yang penuh muatan,   141. kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian,  142. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela,  143. Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah,  144. niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit,  145. Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit,  146. Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu,  147. Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih,  148. Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu.

Itulah ayat-ayat Al-Qur’an mengenai nabi Yunus. Al-Qur’an mengisahkan bahwa nabi Yunus adalah benar-benar salah seorang rasul  (Ash Shaffaat 139). Allah telah memberikan wahyu kepada Yunus sebagaimana Allah telah memberikan wahyu kepada nabi-nabi lainnya (An Nisaa 163). Yunus dilebihkan derajatnya diatas umat pada zamannya (Al Anam 86). Selanjutnya dikisahkan bahwa Yunus lari ke kapal. Lalu ada pengundian dan Yunus kalah dalam undian. Lalu dikatakan bahwa dia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Seandainya dia bukan orang yang beriman, niscaya dia akan tetap tinggal di perut ikan hingga hari kiamat. Kemudian Allah melemparkan dia ke daerah yang tandus dalam keadaan sakit. Lalu Allah menumbuhkan sebatang pohon labu untuk dia. Lalu dia diutus kepada seratus ribu orang lebih. Lalu orang-orang tersebut beriman (Ash Shaaffaat 140-148). Selain itu ada tambahan ayat lagi. Dipertanyakan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman selain kaum Yunus? Juga ada tambahan bahwa ketika Yunus pergi (kemungkinan maksudnya : lari) Yunus dalam keadaan marah. Disangka Yunus, Allah tidak akan mempersempitnya (kemungkinan maksudnya : menghalangi pelariannya). Lalu Yunus berseru dari tempat yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”

Kalau kita mengikuti pengkisahan Al-Qur’an tentang nabi Yunus, akan terasa bahwa kita kehilangan cukup banyak informasi. Apa suku serta kebangsaan nabi Yunus? Anak siapa dia? Mengapa dia lari ke kapal? Dia lari dari apa atau menghindari siapa? Lalu larinya dari mana dan mau kemana? Kemudian dikatakan dia ikut undian. Undian apa? Mengapa ada undian dan dia kalah? Lalu dia ditelan ikan besar. Bagaimana kisahnya hingga dia ada didalam air sampai ditelan ikan? Berapa lama dia berada didalam perut ikan? Lalu Allah melemparkan dia ke daerah yang tandus. Lalu Allah menumbuhkan pohon labu. Bagaimana penjelasan tentang pohon labu tersebut? Apakah untuk dimakan nabi Yunus buahnya? Atau apa? Lalu dia diutus Allah kepada seratus ribu orang lebih. Siapa orang-orang tersebut? Lalu dikatakan orang-orang tersebut beriman sehingga Allah menganugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka. Apa yang dilakukan Yunus terhadap orang-orang tersebut yang mengakibatkan orang-orang tersebut beriman? Demikian beberapa pertanyaan pencarian informasi. Satu pertanyaan lagi, bagaimana mengkaitkan kalimat : “mengapa tidak ada penduduk suatu kota yang beriman selain kaum Yunus” dengan kisah nabi Yunus tersebut? Kita lihat, cukup banyak pertanyaan. Cukup banyak informasi yang hilang. Penjelasan Al-Qur’an mengenai nabi Yunus sangat sedikit, tidak lengkap dan tidak menjelaskan unsur waktu atau sejarah. Adakah sumber yang dapat memberikan jawaban atas beberapa pertanyaan tersebut? Adakah literatur yang dapat memberikan informasi yang lengkap mengenai kisah nabi Yunus ?

Kami menemukan bahwa kisah nabi Yunus yang lengkap ada di Kitab Suci umat Nasrani (Alkitab). Pada saat kami membaca kisah nabi Yunus didalam Alkitab, semua pertanyaan tersebut menjadi terjawab. Informasi yang hilang yang tidak dikisahkan didalam Al-Qur’an dapat kita jumpai di dalam Alkitab. Ayat-ayat Alkitab mengisahkan nabi Yunus sebagai berikut :yunus

Kitab Yunus (Pasal 1) :

1 ¶  Datanglah firman TUHAN kepada Yunus bin Amitai, demikian:
2  “Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku.”  3  Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN; ia pergi ke Yafo dan mendapat di sana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN.  4 ¶  Tetapi TUHAN menurunkan angin ribut ke laut, lalu terjadilah badai besar, sehingga kapal itu hampir-hampir terpukul hancur.  5  Awak kapal menjadi takut, masing-masing berteriak-teriak kepada allahnya, dan mereka membuang ke dalam laut segala muatan kapal itu untuk meringankannya. Tetapi Yunus telah turun ke dalam ruang kapal yang paling bawah dan berbaring di situ, lalu tertidur dengan nyenyak.  6  Datanglah nakhoda mendapatkannya sambil berkata: “Bagaimana mungkin engkau tidur begitu nyenyak? Bangunlah, berserulah kepada Allahmu, barangkali Allah itu akan mengindahkan kita, sehingga kita tidak binasa.”  7  Lalu berkatalah mereka satu sama lain: “Marilah kita buang undi, supaya kita mengetahui, karena siapa kita ditimpa oleh malapetaka ini.” Mereka membuang undi dan Yunuslah yang kena undi.  8  Berkatalah mereka kepadanya: “Beritahukan kepada kami,  karena siapa kita ditimpa oleh malapetaka ini. Apa pekerjaanmu dan dari mana engkau datang, apa negerimu dan dari bangsa manakah engkau?”  9  Sahutnya kepada mereka: “Aku seorang Ibrani; aku takut akan TUHAN, Allah yang empunya langit, yang telah menjadikan lautan dan daratan.”  10  Orang-orang itu menjadi sangat takut, lalu berkata kepadanya: “Apa yang telah kauperbuat?”  —  sebab orang-orang itu mengetahui, bahwa ia melarikan diri, jauh dari hadapan TUHAN. Hal itu telah diberitahukannya kepada mereka.  11 ¶  Bertanyalah mereka: “Akan kami apakan engkau, supaya laut menjadi reda dan tidak menyerang kami lagi, sebab laut semakin bergelora.”  12  Sahutnya kepada mereka: “Angkatlah aku, campakkanlah aku ke dalam laut, maka laut akan menjadi reda dan tidak menyerang kamu lagi. Sebab aku tahu, bahwa karena akulah badai besar ini menyerang kamu.”  13  Lalu berdayunglah orang-orang itu dengan sekuat tenaga untuk membawa kapal itu kembali ke darat, tetapi mereka tidak sanggup, sebab laut semakin bergelora menyerang mereka.  14  Lalu berserulah mereka kepada TUHAN, katanya: “Ya TUHAN, janganlah kiranya Engkau biarkan kami binasa karena nyawa orang ini dan janganlah Engkau tanggungkan kepada kami darah orang yang tidak bersalah, sebab Engkau, TUHAN, telah berbuat seperti yang Kaukehendaki.”  15  Kemudian mereka mengangkat Yunus, lalu mencampakkannya ke dalam laut, dan laut berhenti mengamuk.  16  Orang-orang itu menjadi sangat takut kepada TUHAN, lalu mempersembahkan korban sembelihan bagi TUHAN serta mengikrarkan nazar.  17  Maka atas penentuan TUHAN datanglah seekor ikan besar yang menelan Yunus; dan Yunus tinggal di dalam perut ikan itu tiga hari tiga malam lamanya.

Kitab Yunus (Pasal 2) :

1 ¶  Berdoalah Yunus kepada TUHAN, Allahnya, dari dalam perut ikan itu,  2  katanya: “Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku.  3  Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh arus air; segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku.  4  Dan aku berkata: telah terusir aku dari hadapan mata-Mu. Mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus?  5  Segala air telah mengepung aku, mengancam nyawaku; samudera raya merangkum aku; lumut lautan membelit kepalaku  6  di dasar gunung-gunung. Aku tenggelam ke dasar bumi; pintunya terpalang di belakangku untuk selama-lamanya. Ketika itulah Engkau naikkan nyawaku dari dalam liang kubur, ya TUHAN, Allahku.  7  Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada TUHAN, dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus.  8  Mereka yang berpegang teguh pada berhala kesia-siaan, merekalah yang meninggalkan Dia, yang mengasihi mereka dengan setia.  9  Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu; apa yang kunazarkan akan kubayar. Keselamatan adalah dari TUHAN!”  10 ¶  Lalu berfirmanlah TUHAN kepada ikan itu, dan ikan itupun memuntahkan Yunus ke darat.

Kitab Yunus (Pasal 3) :

1 ¶  Datanglah firman TUHAN kepada Yunus untuk kedua kalinya, demikian:  2  “Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu.”  3  Bersiaplah Yunus, lalu pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman Allah. Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya.  4  Mulailah Yunus masuk ke dalam kota itu sehari perjalanan jauhnya, lalu berseru: “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan.”  5 ¶  Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung.  6  Setelah sampai kabar itu kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu.  7  Lalu atas perintah raja dan para pembesarnya orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian: “Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air.  8  Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya.  9  Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa.”  10  Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya.

Kitab Yunus (Pasal 4) :

1 ¶  Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia.  2  Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: “Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya.  3  Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup.”  4  Tetapi firman TUHAN: “Layakkah engkau marah?”  5 ¶  Yunus telah keluar meninggalkan kota itu dan tinggal di sebelah timurnya. Ia mendirikan di situ sebuah pondok dan ia duduk di bawah naungannya menantikan apa yang akan terjadi atas kota itu.  6  Lalu atas penentuan TUHAN Allah tumbuhlah sebatang pohon jarak melampaui kepala Yunus untuk menaunginya, agar ia terhibur dari pada kekesalan hatinya. Yunus sangat bersukacita karena pohon jarak itu.  7  Tetapi keesokan harinya, ketika fajar menyingsing, atas penentuan Allah datanglah seekor ulat, yang menggerek pohon jarak itu, sehingga layu.  8  Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: “Lebih baiklah aku mati dari pada hidup.”  9  Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: “Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?” Jawabnya: “Selayaknyalah aku marah sampai mati.”  10  Lalu Allah berfirman: “Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula.  11  Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?”

[Sebagai tambahan, kisah tentang Yunus juga dituliskan didalam Injil Matius 12 : 39-41, Injil Matius 16 : 4,17, Injil Lukas 11 : 29,30,32].

Itulah yang dikisahkan Alkitab mengenai nabi Yunus. Alkitab menyebutkan bahwa Yunus adalah orang Ibrani atau Israil (Yunus 1: 9). Ayahnya bernama Amitai (Yunus 1 : 1). Allah mengutus Yunus untuk pergi ke kota besar Niniweh untuk memberi peringatan kepada penduduknya karena perbuatan-perbuatan jahat yang mereka lakukan (Yunus 1 : 1,2). Kalau orang Niniweh tidak mau bertobat, Allah akan menghukum mereka dengan cara menjungkir-balikkan kota mereka (Yunus 3 : 4). ( [Dari peta purbakala kita ketahui bahwa kota Niniweh terletak di Asyur (nama sekarang : Irak). Posisinya di sebelah Timur Israil. Letak Niniweh sangat dekat dengan Baghdad sekarang]. Dikisahkan bahwa Yunus tidak mau melaksanakan perintah Allah tersebut. Dia kuatir, kalau dia menyampaikan peringatan Allah kepada penduduk Niniweh, penduduk Niniweh akan berubah dan menjadi bertobat sehingga Allah batal menghukum mereka. Yunus tidak mau itu. Maunya Yunus, penduduk Niniweh langsung saja dihukum tanpa perlu diberi peringatan dulu (dari pemahaman Yunus 3 : 10 hingga Yunus 4 : 1,2). Yunus lari dari hadapan Allah. Dia melarikan diri dengan kapal laut dari Yafo ke Tarsis. [Dari peta purbakala kita ketahui bahwa kapal yang ditumpanginya itu berlayar mengarungi Laut Tengah. Tarsis berada di sebelah Barat Laut Israil]. Namun Allah tidak membiarkan Yunus lari. Allah menurunkan angin ribut ke laut, menerpa kapal itu hingga hampir hancur. Semua awak kapal dan penumpang ketakutan. Mereka semua, kecuali Yunus, telah memohon kepada allah masing-masing, namun sia-sia. Lalu mereka membuang undi untuk mengetahui siapa diantara mereka yang menjadi penyebab datangnya malapetaka angin ribut tersebut. Yunus kena undi. Akhirnya Yunus menceritakan apa yang sedang dia lakukan. Bahwa dia sedang melarikan diri dari Allah. Yunus meminta agar mereka mencampakkan dia ke laut. Karena mereka tidak punya pilihan lain lagi, akhirnya mereka membuang Yunus ke laut. Setelah mereka mencampakkan Yunus ke laut, angin ribut dan badaipun mereda. Selanjutnya Allah memerintahkan seekor ikan besar menelan Yunus.  Tiga hari tiga malam lamanya Yunus berada didalam perut ikan tersebut (Yunus pasal 1). Didalam perut ikan Yunus berseru dan berdoa. Lalu ikan itu memuntahkan Yunus ke darat (Yunus pasal 2). Setelah itu Allah mengulangi memberi perintah kepada Yunus agar dia pergi ke Niniweh untuk memberi peringatan kepada penduduknya. Penduduk kota Niniweh berjumlah seratus dua puluh ribu orang. Setelah diperingati oleh Yunus, penduduk Niniweh beserta rajanya bertobat dan berbalik kepada Allah sehingga Allah batal menghukum mereka (Yunus pasal 3). Yunus marah. Dia duduk dibawah pondok yang didirikannya di luar kota Niniweh di sebelah Timur. Lalu Allah menumbuhkan sebatang pohon jarak (“bukan pohon labu seperti yang dikatakan Al-Qur’an”) menaungi Yunus. Hati Yunus bergembira melihat pohon jarak tersebut.  Namun besoknya pohon jarak tersebut menjadi layu karena dimakan ulat. Melalui peristiwa pohon jarak tersebut Allah mengajar Yunus agar mengerti isi hati Tuhan terhadap penduduk Niniweh (Yunus pasal 4).

Di dalam Alkitab kisah nabi Yunus dikisahkan dalam 56 ayat. Sementara Al-Qur’an mengkisahnya hanya dengan 14 ayat. Wajar jika kisah yang disampaikan oleh Al-Qur’an tentang nabi Yunus terlalu singkat, terlalu sederhana dan tidak lengkap, jauh jika dibandingkan dengan apa yang dikisahkan oleh Alkitab. Kalau kita membaca kisah tersebut lewat Al-Qur’an, kita akan kehilangan banyak informasi. Bahkan sangat sulit untuk dapat memahami jalan cerita atau kisahnya. Informasi yang diberikan Al-Qur’an terlalu sedikit. Tidak lengkap. Juga tidak jelas alur kronologis ataupun urutan waktu sejarahnya. Terkesan seperti lompat sana lompat sini. (Untuk membuktikan apa yang kami utarakan ini silahkan para pembaca membaca kembali kisah nabi Yunus yang dikisahkan Al-Qur’an). Sementara kalau kita membaca kisah nabi Yunus yang ada di Alkitab, kisahnya sangat jelas dan lengkap. Urutan waktu maupun sejarahnya juga jelas.

KEDUA  : Kisah Raja Thalut (Saul).

Kita akan melihat ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara mengenai raja Thalut :daud

Al Baqarah 247 -251,

247. Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.

248. Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.

249. Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”

250. Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa: “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.”

251. Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.

Itulah ayat-ayat Al-Qur’an mengenai raja Thalut. Al-Qur’an mengisahkan bahwa nabi berbicara kepada rakyat bahwa Allah telah mengangkat Thalut menjadi raja mereka. Namun awalnya mereka keberatan jika Thalut yang dipilih untuk menjadi raja mereka. Menurut mereka Thalut kurang memenuhi syarat untuk menjadi raja mereka. Thalut tidak cukup kaya. Namun nabi berkata bahwa Allah telah memilih Thalut menjadi raja mereka. Allah telah menganugerahkan kepada Thalut ilmu pengetahuan yang luas dan tubuh yang perkasa. Lalu nabi berkata bahwa Allah memberi kekuasaan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Lalu nabi berkata kepada mereka bahwa tandanya Thalut dipilih Tuhan sebagai raja adalah bahwa tabut akan kembali kepada mereka dengan dibawa oleh malaikat. Dikatakan bahwa didalam tabut terdapat ketenangan dari Tuhan dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun. Kemudian dikatakan bahwa raja Thalut keluar membawa tentaranya (kemungkinan maksudnya : keluar untuk berperang melawan tentara Jalut). Lalu dikatakan bahwa Allah akan menguji tentara Thalut; siapa yang akan ikut maju berperang, siapa yang tidak ikut. Cara mengujinya :  (mereka turun ke sungai) siapa yang meminum air sungai bukan pengikut Thalut (berarti tidak turut berperang); siapa yang menceduk air seceduk tangan itulah pengikut Thalut (ikut berperang). Orang-orang yang terpilih untuk ikut berperang tersebut jumlahnya sedikit. Dikatakan bahwa sangat langka terjadi bahwa tentara dengan jumlah sedikit dapat mengalahkan yang jumlahnya banyak (atas seizin Allah, berarti menggambarkan peristiwa tersebut merupakan mukjizat Allah). Kemudian dikatakan bahwa tentara Thalut berhasil mengalahkan tentara Jalud. Dalam peperangan tersebut Daud membunuh Jalut. Dikatakan selanjutnya, setelah Thalut meninggal dunia, Allah memberikan kepada Daud pemerintahan dan hikmat.

Di Alkitab tidak ada tokoh yang bernama Thalut. Setelah kami pelajari kisah Thalut dari Al-Qur’an, kami lihat bahwa kisah di dalam Alkitab yang banyak kesamaan dengan kisah raja Thalut adalah kisah raja Saul. Alkitab menyebutkan bahwa raja yang digantikan oleh Daud adalah raja Saul. Sementara Al-Qur’an mengatakan, yang digantikan Daud adalah raja Thalut. Jadi raja Thalut yang ada di Al-Qur’an adalah sama orangnya dengan raja Saul yang ada di Alkitab.

Kembali dapat dilihat , kisah raja Thalut yang dituliskan oleh Al-Qur’an terlalu sedikit dan tidak lengkap. Banyak informasi yang hilang. Siapa raja Thalut itu? Anak siapa dia? Dari bangsa dan suku mana dia berasal? Pada zaman apa dia hidup? Lalu, siapa nama nabi yang berbicara kepada rakyat itu? Lalu dikatakan bahwa tandanya Thalut dipilih Allah jadi raja adalah kembalinya tabut dengan dibawa malaikat. Bagaimana kisah tabut itu? Tabut itu kembali kemana ? Datang dari mana? Mengapa kembali? Pergi kemana tabut itu sebelumnya? Lalu, berapa jumlah tentara Thalut yang disebut sedikit itu? Berapa jumlah tentara Jalut yang akan dihadapi tentara Thalut? Siapa Jalut itu? Dari bangsa mana dia berasal? Cukup banyak pertanyaan yang harus dijawab.

Kembali kami menemukan bahwa kisah raja Thalut (raja Saul) yang lengkap ada di Kitab Suci umat Nasrani (Alkitab). Pada saat daud dan saulkami membaca kisah raja Saul didalam Alkitab (orang sering menyebut Alkitab sebagai Injil), semua pertanyaan di atas menjadi terjawab. Informasi yang hilang yang tidak dikisahkan oleh Al-Qur’an dapat ditemui didalam Alkitab. Kami akan kutip ayat-ayat Alkitab yang mengisahkan tentang raja Thalut (raja Saul). Namun kami tidak menyalin isinya agar tulisan ini tidak terlalu panjang. Ayat-ayat Alkitab yang dimaksud adalah :

1 Samuel 3:1  –  1 Samuel 7:1 (sejumlah 77 ayat) mengisahkan tentang kembalinya tabut.

Dikisahkan bahwa terjadi peperangan antara bani Israil dengan bani Filistin. Peperangan berlangsung sangat dahsyat. Bani Israil mengalami kekalahan karena para pemimpinnya banyak berbuat dosa. Lalu bani Israil menjemput tabut Allah untuk dibawa ke medan peperangan. Bani Israil percaya bahwa kehadiran tabut Allah identik dengan kehadiran atau keikutsertaan Allah berperang bersama bani Israil. Mereka yakin akan menang jika tabut Allah bersama mereka. Begitulah pengalaman bani Israil sebelum-sebelumnya. Namun saat itu pemimpin Israil hidup dalam dosa. Allah meninggalkan mereka walaupun secara fisik tabut mereka bawa ke medan perang. Dalam peperangan berikutnya bani Israil kalah. Tabut jatuh ke tangan bani Filistin. Bani Filistin membawa tabut ke negeri mereka. Tabut disimpan di kota orang Filistin. Namun Allah mendatangkan malapetaka terhadap penduduk kota Filistin dimana tabut sedang disimpan. Tabut sampai dipindah-pindahkan oleh bani Filistin dari satu kota ke kota yang lain. Karena tidak tahan menghadapi tekanan tangan Allah yang mendatangkan malapetaka, akhirnya bani Filistin melepaskan tabut tersebut. Tabut diletakkan diatas pedati atau kereta yang ditarik dua ekor lembu. Kereta dibiarkan berjalan sendiri tanpa ada manusia yang mengiringinya. Sungguh ajaib, lembu dan kereta berjalan sendiri menuju negeri bani Israil dan tiba di kota Bet-Semes. Kuasa Allah sendiri yang menuntun lembu dan kereta tersebut. Lalu bani Israil mengangkut tabut tersebut ke Kiryat-Yearim dan disimpan di rumah Aminadab. Berpuluh tahun lamanya tabut tersebut berada disana terhitung dari sejak dipulangkan Allah. Selama puluhan tahun itu yang memimpin bani Israil adalah nabi Samuel. Pada saat itu Saul (Thalut) sama sekali belum muncul dalam kisah. Dia belum dikenal orang. Puluhan tahun setelah peristiwa kembalinya tabut tersebut barulah Saul muncul dan dipilih Allah menjadi raja Israil.

1 Samuel 8:1 – 1 Samuel 12:25 (sejumlah 91 ayat) mengisahkan tentang bagaimana Saul (Thalut) dipilih dan diangkat menjadi raja bani Israil.

Dikisahkan bahwa setelah nabi Samuel berusia lanjut, bani Israil ingin memiliki seorang raja untuk memimpin mereka. Sebenarnya Allah tidak ingin mereka punya seorang raja. Allah ingin agar mereka dipimpin langsung oleh Allah melalui para nabi. Namun karena bani Israil bersikeras dengan keinginannya, Allah mengabulkan. Allah mengutus nabi Samuel untuk menemui Saul. Saul adalah orang Israil dari suku Benyamin. Nama ayahnya adalah Kisy bin Abiel. Saul itu orangnya sangat gagah dan elok. Tubuhnya tinggi. Orang-orang lain tingginya hanya sebahu Saul. Atas perintah Allah Samuel mengurapi Saul dengan minyak. Artinya Saul dipilih Allah untuk menjadi raja Israil. Pengurapan dengan minyak tersebut dilakukan tanpa diketahui atau dilihat orang lain. Lalu nabi Samuel berkata kepada Saul bahwa Allah akan melakukan sesuatu sebagai pertanda bahwa Saul dipilih Allah menjadi raja bani Israil. Pertandanya adalah bahwa keledai Saul yang sudah tiga hari hilang akan kembali sendiri ke rumah Saul. Selain itu akan ada pertanda tambahan yaitu Ruh Allah akan turun ke atas Saul dan Saul akan kepenuhan seperti nabi yang menerima pewahyuan. Kedua pertanda tersebut terjadi atau digenapi oleh Allah. Selanjutnya nabi Samuel mengumpulkan bani Israil untuk mengadakan undi. Siapa yang terkena undi berarti dialah yang akan menjadi raja bani Israil. Undian jatuh kepada Saul. Maka Saul pun menjadi raja atas bani Israil. Ada sekelompok kaum dursila yang keberatan jika Saul menjadi raja atas Israil.

1 Samuel 13:1 – 1 Samuel 31:13 (sejumlah 537 ayat) mengisahkan tentang berbagai peristiwa yang terjadi pada masa Saul (yang disebut Al-Qur’an sebagai Thalut) memerintah sebagai raja Israil. Juga mengisahkan berbagai kisah peperangan yang dilakukan oleh raja Saul bersama umat Israil. Juga mengisahkan bagaimana Allah menyiapkan Daud untuk menjadi raja Israil menggantikan raja Saul. Bagian ini, yang terdiri dari 537 ayat, tidak akan kita bicarakan di sini karena kuatir bahwa tulisan ini akan menjadi terlalu panjang.

1 Samuel 17 : 1-58 (sejumlah 58 ayat) mengisahkan tentang peristiwa saat Daud mengalahkan Goliat (pendekar bani Filistin) serta kemenangan yang dicapai bani Israil atas bani Filistin.

Dikisahkan bahwa tentara Israil (tentara raja Saul) sedang berperang melawan tentara Filistin. Di tengah bani Filistin ada seorang pendekar, namanya Goliat. Goliat memiliki tubuh sebesar raksasa. Tingginya 290 cm. Kepalanya mengenakan ketopong (semacam helm perang) yang terbuat dari tembaga. Badannya (dada dan punggung) dilindungi oleh baju zirah (baju perang) yang bersisik. Baju zirah tersebut beratnya 57 kilogram tembaga. Dia mengenakan penutup kaki yang terbuat dari tembaga. Tombaknya besar dan panjang. Berat mata tombaknya saja 6,84 kilogram. Dia mahir dan sangat berpengalaman dalam berkelahi dan berperang. Dia memiliki pembantu yang bertugas membawa pedangnya. Seluruh tentara Israil sangat ketakutan terhadap Goliat tersebut. Tetapi Daud tidak takut. Daud menantang Goliat untuk bertempur satu lawan satu mewakili bangsa masing-masing. Daud menghadapi Goliat tanpa menggunakan baju perang, tanpa ketopong (helm perang), tanpa pedang dan tanpa tombak. Daud hanya menggunakan ali-ali yang diisi batu (semacam alat pelontar batu atau ketapel, digunakan dengan cara memutar ali-ali, lalu batunya dilepaskan). Batu dari ali-ali Daud mengenai jidat Goliat secara tepat. Goliat yang besar tersebut jatuh tersungkur dan mati. Kuasa Allah menyertai Daud. [Dilihat dari kisah tersebut sangatlah mungkin bahwa Goliat inilah yang dimaksudkan Al-Qur’an sebagai Jalut. Didalam Alkitab tidak ada tokoh yang bernama Jalut].David_Goliath

Semuanya ada 705 ayat didalam Alkitab yang mengisahkan tentang  raja Saul (Thalut), tentang kembalinya tabut serta tentang Daud mengalahkan Goliat (Jalut). Bandingkan dengan Al-Qur’an yang mengisahkannya hanya dengan 5 ayat. Sangat wajar jika apa yang dikisahkan oleh  Al-Qur’an terlalu sedikit, tidak lengkap dan hampir tidak dapat dipahami kisahnya. (Silahkan baca kembali kisah Thalut dan tabut didalam Al-Qur’an).  Sangat berbeda halnya dengan jika kita membaca kisahnya didalam Alkitab. Lengkap, jelas dan mengikuti alur kronologis dan sejarah.

Selain itu, ada bagian kisah raja Thalut yang dikisahkan Al-Qur’an yang tidak tepat unsur sejarah atau kronologinya. Yaitu ayat ke 249 dari Surat Al Baqarah.  Al-Qur’an menyebutkan bahwa pada saat raja Thalut akan berangkat berperang melawan tentara Jalut, Allah lebih dahulu menguji tentara Thalut di sungai. Tujuannya adalah untuk menseleksi siapa saja yang pantas menjadi pengikut Thalut (sanggup ikut berperang) serta siapa saja yang tidak pantas (tidak sanggup meneruskan peperangan). Barangsiapa yang meminum airnya, maka dia bukanlah pengikut Thalut. Barangsiapa menceduk seceduk tangan, dialah pengikut Thalut. Dikatakan oleh ayat tersebut bahwa yang lulus ujian (layak menjadi pengikut Thalut serta meneruskan peperangan) hanya sedikit jumlahnya dibandingkan dengan jumlah tentara Jalut yang akan dihadapi.

Kami melihat bahwa bagian kisah tersebut ditempatkan secara tidak tepat. Kalau kita membaca Alkitab, maka akan kita temukan bahwa peristiwa pengujian (seleksi) terhadap para tentara dengan cara disuruh meminum air tersebut bukanlah peristiwa yang terjadi pada masa Thalut. Peristiwa tersebut terjadi pada masa Gideon, yaitu ratusan tahun sebelum zaman raja Thalut. Gideon merupakan pemimpin bani Israel. Gideon memimpin bani Israil berperang melawan bani Midian. Allah menguji bani Israil untuk menseleksi siapa saja yang akan ikut berperang bersama Gideon dan siapa saja yang tidak ikut. Allah menyuruh tentara Israil tersebut untuk meminum air. Barangsiapa yang meminum air dengan menjilat seperti anjing, tidak turut berperang. Barangsiapa yang menceduk air dengan tangannya, dialah yang akan ikut berperang. Jumlah orang yang lulus seleksi hanya 300 orang dari sepuluh ribu orang. Dengan hanya 300 orang tersebut Gideon menghadapi bani Midian yang jumlahnya mencapai 135.000 orang. Gideon dan bani Israil memenangkan peperangan tersebut. Jadi kisah seleksi lewat minum air tersebut bukan terjadi pada masa Saul (Thalut) tetapi masa Gideon. Jarak waktu antara Gideon dengan Thalut ada ratusan tahun.

Demikian juga terjadi penempatan waktu yang tidak tepat oleh Al-Qur’an pada saat pengkisahan tentang kembalinya tabut. Surat Al Baqarah 248 menyebutkan bahwa pertanda Saul (Thalut) akan menjadi raja adalah kembalinya tabut ke umat Israil dengan dibawa oleh malaikat. Sementara Alkitab dalam 1 Samuel 3:1  –  1 Samuel 7:1 menjelaskan bahwa peristiwa kembalinya tabut ke umat Israil bukan terjadi pada saat Saul (Thalut) dipilih menjadi raja atau akan menjadi raja. Peristiwa kembalinya tabut tersebut terjadi puluhan tahun sebelum Saul dipilih Tuhan menjadi raja Israil. Yang menjadi pemimpin bani Israil pada saat peristiwa tabut itu adalah nabi Samuel.

Kami menemukan bahwa keadaan seperti itu terjadi pada hampir semua kisah tokoh yang ada didalam Al-Qur’an. Bukan hanya pada kisah nabi Yunus dan raja Thalut. Termasuk juga pada kisah nabi Adam, kisah Kain dan Habil anak-anak nabi Adam, kisah nabi Nuh, kisah nabi Ibrahim, kisah nabi Ishak dan Ismail, kisah nabi Musa, kisah imam Harun, kisah Miryam (saudara perempuan Harun dan Musa), kisah raja Saul (didalam Al-Qur’an disebut raja Thalut), kisah raja atau nabi Daud, kisah raja atau nabi Sulaiman, kisah nabi Elia (didalam Al-Qur’an disebut nabi Ilyas), kisah nabi Yahya, kisah Zakaria (ayahnya nabi Yahya), kisah Maryam (ibu Isa Al-Masih) serta kisah Isa Al-Masih. Al-Qur’an mengisahkan kisah para nabi tersebut sangat pendek, tidak lengkap, jauh jika dibandingkan dengan apa yang dikisahkan oleh Alkitab. Juga unsur kronologi atau urutan waktu (termasuk juga unsur sejarah) tidak jelas. Sementara kalau kisah tokoh tersebut dibaca dari Alkitab, kisahnya sangat jelas dan lengkap. Juga alur kronologi atau urutan waktu (termasuk sejarah) sangat jelas.

Banyak peristiwa dalam Al-Qur’an yang kisahnya ataupun tokohnya seperti muncul begitu saja (tiba-tiba) tanpa jelas kronologi atau sejarahnya. Tidak jelas peristiwa mana yang terjadi duluan; peristiwa mana yang terjadi belakangan. Tokoh mana yang hidup sebelumnya; tokoh mana yang hidup sesudahnya. Bahkan sampai terjadi kerancuan (tertukar) antara Miryam (saudara perempuan Harun) dengan Maryam (ibunya Isa Al-Masih). Padahal Miryam dan Maryam adalah dua orang yang berbeda, yang hidup pada zaman yang berbeda. Hal tersebut terjadi pada saat pembicaraan antara Siti Maryam (ibunya Isa) dengan kaumnya. Al-Qur’an mengidentifikasi Maryam sebagai saudara perempuan Harun (Qs. 19 Maryam 27-28).

27. Maka Maryam membawa anak itu (Isa) kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar.
28. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina”,

“Ya ukhta haruna ma kana abukimra’a sau’iw wa ma kanat ummuki bagiyya(n).”                                      

 (Qs. 19 Maryam 27-28, sumber : Lidwa Pusaka)

Surat Maryam ayat 28 tersebut menyebutkan bahwa Maryam (ibunya Isa) adalah saudara perempuan Harun. Sementara dari Alkitab kita tahu bahwa Maryam bukanlah saudara perempuan Harun. Saudara perempuan Harun bernama Miryam, sementara ibunya Isa bernama Maryam. Memang nama Maryam dengan Miryam rada-rada mirip. Namun Maryam bukanlah Miryam. Maryam dan Miryam adalah dua orang yang berbeda.  Keduanya hidup pada zaman yang berbeda.

Menurut Alkitab, Miryam bersama Harun dan Musa hidup pada zaman Mesir dengan Firaunnya (Keluaran 15: 20). Dalam hal ini, Al‐Qur’an dalam Surat Al A’raaf ayat 103‐137 juga mengatakan bahwa Harun dan Musa hidup pada zaman Mesir dengan Firaunnya. Sementara Maryam (ibunya Isa) hidup pada zaman Romawi, yaitu pada awal tahun Masehi. Dari pengetahuan sejarah dunia kita tahu bahwa zaman Romawi terjadi ribuan tahun setelah zaman Mesir. Maryam hidup ribuan tahun setelah Miryam. Maryam (ibunya Isa) bukanlah Miryam (saudara perempuan Harun). Kita lihat bahwa pada saat Al-Qur’an menuliskan peristiwa tersebut, tokoh Maryam tertukar dengan tokoh Miryam. Terjadi kerancuan di bidang sejarah.

Berdasarkan semua uraian di atas kami melihat, jikalau kita ingin mengetahui satu peristiwa atau kisah seorang tokoh yang ada didalam Al-Qur’an, kita tidak cukup hanya membaca Al-Qur’an. Kalau kita hanya membaca Al-Qur’an, kita tidak akan mendapatkan informasi yang memadai mengenai peristiwa ataupun tokoh tersebut. Penjelasan Al-Qur’an terlalu sedikit dan tidak lengkap. Kita juga tidak akan memperoleh informasi mengenai unsur waktu atau kronologi atau sejarahnya. Akibatnya akan sangat sulit bagi kita untuk dapat memahami peristiwa atau kisah tokoh tersebut. Menurut kami, perlu sekali membaca Alkitab juga untuk mendapatkan informasi yang lengkap dan akurat mengenai peristiwa atau tokoh tersebut.

Menurut kami, kita patut bersyukur bahwa Alkitab menuliskan kisah-kisah atau peristiwa-peristiwa tersebut secara lengkap. Dengan demikian para pakar atau sarjana agama Islam dapat membaca Alkitab sebagai sumber informasi atau literatur yang valid (otentik) dalam mengajar. Juga dalam menulis buku ataupun tulisan sejarah Islam. Apakah itu  para pakar yang berasal dari abad-abad awal lahirnya agama Islam, maupun yang dari zaman sekarang.  Termasuk juga dalam penulisan buku-buku Sejarah Nabi. Dengan membaca Alkitab (yang sering disebut orang sebagai Injil), ilmu serta pengetahuan Al-Qur’an kita akan bertambah. Tanpa membaca Alkitab, kita sulit memahami Al-Qur’an.

Dimana Letak Jawabannya? Pengkajian terhadap Al Quran, Hadist, dan Alkitab
Download e-book “Dimana Letak Jawabannya? Pengkajian terhadap Al Quran,
Hadist, dan Alkitab dengan meng-klik gambar di atas

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Misteri Pewahyuan dan Penulisan Al-Qur’an

Sebagaimana yang telah kami sampaikan dalam Kata Pengantar yang telah diposting dengan judul Pindah Agama, dari Kristen menjadi Islam. Tawaran yang Menarik , kami masih terus melakukan pengkajian dan penggalian terhadap Kitab-kitab Suci. Kali ini kami menemukan hal-hal yang sangat menarik menyangkut pewahyuan serta penulisan Al-Qur’an dan Kitab Suci umat Nasrani. Seolah seperti ada satu misteri yang sulit untuk dipahami. Berikut kami paparkan hasil penemuan kami.

Sejarah teks AlquranKeempat agama besar, yaitu Nasrani, Islam, Hindu dan Budha, masing-masing memiliki Kitab Suci. Umat Nasrani memiliki Kitab Suci atau Alkitab. Umat Islam memiliki Al-Qur’an. Umat Hindu memiliki Weda. Umat Budha memiliki Tripitaka. Masing-masing umat meyakini serta memegang Kitab Suci nya.

Isi Kitab Suci Weda sama sekali tidak ada kait-mengkait dengan isi Kitab Suci agama yang lain. Baik dari segi tokoh yang ada di dalam Kitab maupun dari segi kisah atau peristiwa. Demikian juga Kitab Suci Tripitaka. Para tokoh ataupun kisah peristiwa yang ada di dalam Kitab Tripitaka tidak ada kait-mengkait dengan tokoh atau kisah yang ada dalam ketiga Kitab Suci lainnya. Sama sekali terlepas.

Berbeda halnya dengan Al-Qur’an dan Kitab Suci umat Nasrani. Didalam Al-Qur’an sangat banyak tokoh yang sama dengan tokoh yang ada didalam Kitab Suci Nasrani. Demikian pula dengan kisah atau peristiwa yang yang diceriterakan di dalam Al-Qur’an. Sangat banyak yang menyerupai kisah atau peristiwa yang tertulis didalam Kitab Suci umat Nasrani.

Di dalam Kitab Suci umat Nasrani diriwayatkan kisah nabi Adam, kisah Kain dan Habil (anak-anak nabi Adam), kisah nabi Nuh, kisah nabi Ibrahim, kisah nabi Musa, kisah imam Harun, kisah Miryam (saudara perempuan Harun dan Musa), kisah raja atau nabi Daud, kisah raja atau nabi Sulaiman, kisah nabi Elia, kisah nabi Yahya, kisah Zakaria (ayahnya nabi Yahya), kisah Maryam (ibu Isa Al-Masih) dan kisah Isa Al-Masih. Sungguh menarik, Al-Qur’an yang diturunkan 600 tahun setelah Kitab Suci umat Nasrani, justeru juga menuliskan kisah tokoh-tokoh tersebut. Hanya saja, Al-Qur’an mengisahkannya terlalu singkat, terlalu sederhana dan tidak lengkap, jauh jika dibandingkan dengan apa yang dikisahkan oleh Kitab Suci umat Nasrani. Kalau kita membaca kisah-kisah tersebut lewat Al-Qur’an, seringkali kita kehilangan banyak informasi. Bahkan akan segera terlihat bahwa Al-Qur’an tidak dapat memperlihatkan unsur kronologis atau urutan waktu dari peristiwa yang dikisahkan. Peristiwa mana yang terjadi duluan, peristiwa mana yang terjadi belakangan. Tokoh mana yang hidup sebelumnya, tokoh mana yang hidup sesudahnya. Semuanya tidak jelas. Penulisan ayat-ayat Al-Qur’an tidak mengikuti alur kronologi atau urutan waktu sejarah. Seolah seperti comot sana comot sini dari Kitab Suci umat Nasrani tanpa memahami unsur urutan waktu. Seolah seperti tidak memahami sejarah.

Sangat berbeda halnya dengan Kitab Suci umat Nasrani. Kitab Suci umat Nasrani sangat mudah untuk dibaca. Alur ceritanya sangat jelas. Ditulis sesuai kronologi  atau urutan sejarah. Tidak seperti Al-Qur’an yang sangat ringkas, tidak lengkap, alurnya melompat-lompat dan tidak mengikuti alur kronologi atau urutan peristiwa sejarah. Lagipula, saat Al-Qur’an menuliskan kembali kisah atau peristiwa tersebut, kisahnya banyak yang berbeda atau bertentangan dengan apa yang telah dituliskan Allah sebelumnya didalam Kitab Suci umat Nasrani.

Kami akan ambil salah satu contoh yang akan memperlihatkan bagaimana pewahyuan serta penulisan ayat-ayat Al-Qur’an seolah tidak memahami unsur urutan waktu atau sejarah :

Pada saat Al-Qur’an mengisahkan pembicaraan ibunya Isa (Siti Maryam) dengan kaumnya, Al-Qur’an mengidentifikasi Maryam sebagai saudara perempuan Harun (Qs. 19 Maryam 27-28).

27. Maka Maryam membawa anak itu (Isa) kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar.
28. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina”,

“Ya ukhta haruna ma kana abukimra’a sau’iw wa ma kanat ummuki bagiyya(n).”                                      

 (Qs. 19 Maryam 27-28, sumber : Lidwa Pusaka)

Surat Maryam ayat 28 tersebut menyebutkan bahwa ibunya Isa Al‐Masih adalah saudara perempuan Harun. Sementara dari Kitab Suci umat Nasrani kita tahu bahwa ibu Isa Al-Masih bukanlah saudara perempuan Harun. Saudara perempuan Harun bernama Miryam. Sementara ibunya Isa bernama Maryam (nama Miryam dengan Maryam memang rada-rada mirip). Dari Kitab Suci umat Nasrani kita tahu bahwa Maryam dan Miryam adalah dua orang yang berbeda.  Keduanya juga hidup pada zaman yang berbeda.

Menurut Kitab Suci umat Nasrani, Miryam bersama Harun dan Musa hidup pada zaman Mesir dengan Firaunnya (Keluaran 15: 20). Dalam hal ini, Al‐Qur’an dalam Surat Al A’raaf ayat 103‐137 juga mengatakan bahwa Harun dan Musa hidup pada zaman Mesir dengan Firaunnya. Sementara Maryam hidup pada zaman Romawi, yaitu pada awal tahun Masehi. Dari pengetahuan sejarah dunia kita tahu bahwa zaman Romawi terjadi ribuan tahun setelah zaman Mesir. Maryam hidup ribuan tahun setelah Miryam (saudara Harun). Maryam (ibunya Isa) bukanlah Miryam (saudara perempuan Harun).

Contoh di atas merupakan salah satu contoh yang memperlihatkan bagaimana pewahyuan dan penulisan Al-Qur’an seolah-olah seperti tidak memahami unsur urutan waktu atau sejarah. Seolah seperti kisah yang dicomot sana comot sini dari Kitab Suci umat Nasrani tanpa memperhatikan alur kronologi atau urutan sejarah.

Selanjutnya, kami menemukan bahwa apa yang dituliskan kembali oleh Al-Qur’an mengenai kisah atau peristiwa tersebut banyak berbeda atau bertentangan dengan apa yang telah dituliskan sebelumnya didalam Kitab Suci umat Nasrani.

Misalnya :

  1. Al-Qur’an menyebutkan anak-anak nabi Adam bernama Qabil dan Habil. Sementara menurut Kitab Suci umat Nasrani, namanya Kain dan Habil.
  2. Al-Qur’an menyebutkan bahwa salah seorang anak nabi Nuh tenggelam dan binasa didalam air bah. Sementara Kitab Suci umat Nasrani mengatakan bahwa seluruh anak nabi Nuh masuk kedalam bahtera dan selamat.
  3. Al-Qur’an mengatakan nabi Ibrahim pindah ke lembah Mekah dan disana mendirikan Ka’bah. Sementara dari Kitab Suci umat Nasrani kita tahu bahwa nabi Ibrahim tidak pernah sama sekali menginjakkan kakinya di lembah Mekah, dan tidak pernah mendirikan ka’bah.
  4. Al-Qur’an menyebutkan bahwa nabi Musa berkata akan datang seorang nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis). Nabi yang dimaksud adalah Muhammad SAW. Sementara dari Kitab Suci umat Nasrani kita tahu bahwa nabi Musa tidak pernah sama sekali mengatakan hal tersebut.
  5. Al-Qur’an menyebutkan bahwa yang mengambil nabi Musa dari sungai sewaktu nabi Musa masih bayi adalah isteri raja Firaun. Sementara Kitab Suci umat Nasrani mengatakan bahwa yang mengambilnya adalah puteri raja Firaun.
  6. Al-Qur’an mengatakan ayah nabi Yahya, yaitu Zakaria, menjadi bisu selama tiga hari sebelum kelahiran nabi Yahya. Sementara Kitab Suci umat Nasrani menyebutkan Zakaria menjadi bisu selama 9 (sembilan) bulan hingga nabi Yahya lahir.
  7. Al-Qur’an menyebutkan bahwa Isa Al-Masih berkata seorang nabi akan datang yang bernama Ahmad (Muhammad). Sementara dari Kitab Suci umat Nasrani kita tahu bahwa Isa Al-Masih tidak pernah mengatakan hal tersebut.
  8. Salah satu ayat Al-Qur’an menyebutkan bahwa ibunya Isa Al-Masih adalah Maryam, saudara perempuan Harun. Padahal dari Kitab Suci umat Nasrani kita tahu bahwa ibunya Isa bukanlah saudara perempuan Harun.
  9. Tiga Surat di dalam Al-Qur’an mengatakan bahwa Isa Al-Masih wafat, namun dibangkitkan hidup kembali, lalu diangkat naik ke surga. Ketiga Surat tersebut adalah Surat Ali ‘Imran ayat 55, Surat Al-Maidah ayat 117 dan Surat Maryam ayat 33. Sementara satu Surat Al-Qur’an yaitu Surat An Nisa ayat 157 dan 158 menyebutkan bahwa Isa tidak wafat, melainkan langsung diangkat Allah ke surga tanpa pernah mengalami kematian. Sementara Kitab Suci umat Nasrani menyebutkan Isa wafat dibunuh atau disalibkan, dikubur, dibangkitkan pada hari ketiga, dan naik ke surga pada hari ke-40.

Khusus mengenai butir 4,7 dan 8 di atas kami sudah membahasnya panjang lebar dalam tulisan kami berjudul “Mengapa Ayat Al-Qur’an Banyak yang Bertentangan dengan Kitab Suci?”  Khusus mengenai butir 4 dan 7 kami sudah membahasnya dalam tulisan  berjudul “Ramalan Kedatangan Muhammad SAW maupun Isa Al-Masih dalam Al-Qur’an dan Kitab Suci” dan  “Ummat Muslim Menuduh bahwa : Injil Sudah Dipalsukan”. Sementara butir 9 sudah kami bicarakan secara khusus dalam tulisan berjudul “Benarkah Isa Wafat dan Bangkit Sebelum ke Surga? (Menurut Qs, 3 Ali Imran 55, Qs. 5 Al-Maidah 117 dan Qs. 19 Maryam 33)”

Banyak timbul pertanyaan di benak kami saat kami melakukan pengkajian dan penelaahan. Mengapa isi Al-Qur’an banyak yang menyerupai isi Kitab Suci umat Nasrani? Mengapa Al-Qur’an menulis atau mengisahkan kembali kisah tokoh-tokoh ataupun peristiwa-peristiwa yang telah dikisahkan sebelumnya oleh Kitab Suci umat Nasrani? Sementara Kitab Weda maupun Tripitaka tidak seperti itu. Dimana kita bisa mendapatkan jawaban untuk pertanyaan tersebut?

Mari kita coba untuk menggali lebih dalam. Di dalam Al-Qur’an Allah SWT berkata bahwa Allah SWT jugalah yang menurunkan atau mewahyukan Kitab Suci umat Nasrani. Dengan demikian seolah terjawab pertanyaan mengapa isi Al-Qur’an banyak yang menyerupai isi Kitab Suci umat Nasrani. Alasannya adalah : karena Allah yang menurunkan kedua Kitab tersebut adalah Allah yang sama.

Penjelasan tersebut terkesan sangat lemah. Kalau Allah yang menurunkan kedua Kitab adalah Allah yang sama, mengapa isinya banyak berbeda atau bertentangan? Sulit rasanya menerima jika dikatakan bahwa Allah Pelupa. Maksudnya, pada saat Allah menurunkan Al-Qur’an, Allah lupa akan apa yang sudah diwahyukannya sebelumnya saat menurunkan Kitab Suci umat Nasrani. Sehingga terjadi banyak perbedaan, bahkan saling bertentangan antara Al-Qur’an dengan Kitab Suci umat Nasrani. Atau apa mungkin salah satu Kitab tersebut telah dirubah oleh manusia sehingga keduanya tidak sama lagi? Jawabannya : menurut Al-Qur’an itu tidak mungkin. Al-Qur’an menjamin bahwa baik Kitab Suci umat Nasrani maupun Al-Qur’an tidak mungkin dapat diubah oleh manusia. Kalau dapat diubah, berarti jaminan Al-Qur’an tidak benar. Berarti Al-Qur’an salah. Mengenai hal ini kami sudah membahasnya secara panjang lebar dalam tulisan kami berjudul  : “Samakah Allah di Al-Qur’an dengan Allah di Kitab Suci Taurat, Zabur dan Injil?”. Selain lewat tulisan tersebut, kami juga membahasnya lewat tulisan “Ummat Muslim Menuduh bahwa : Injil Sudah Dipalsukan”.

Kami harus jujur untuk mengatakan bahwa hal ini sebenarnya sangat serius. Juga sangat rumit. Bagaimana sebenarnya peristiwa pewahyuan atau turunnya ayat-ayat Al-Qur’an? Siapa sebenarnya yang menurunkannya? Mengapa isinya banyak yang sama atau menyerupai isi Kitab Suci umat Nasrani? Lalu, mengapa isinya banyak berbeda bahkan bertentangan dengan apa yang telah diceriterakan oleh Kitab Suci umat Nasrani? Darimana Rasulullah SAW mengetahui nama tokoh-tokoh serta kisah yang ada di Kitab Suci umat Nasrani? Bukankah beliau tidak dapat membaca dan menulis? Darimana beliau mengetahui isi Kitab Suci umat Nasrani? Siapa yang memberitahu beliau?

Kami mencoba mencari dan mencari jawabannya. Kami mencoba melihat ke Hadis Shahih, yaitu Hadis Shahih Bukhari no 4572Shahih Bukhari no 6467 dan Shahih Muslim no 231. Hadis tersebut meriwayatkan  tentang peristiwa pewahyuan Al-Qur’an. Disitu dijelaskan bagaimana proses atau cara turunnya  sebagian ayat-ayat Al-Qur’an. Kami tampilkan apa yang kami dapat dari Hadis tersebut (sumber : Lidwa Pusaka) :

Aisyah, Ummul Mu’minin r.a. mengisahkan : wahyu yang mula-mula turun kepada Rasulullah SAW adalah berupa mimpi-mimpi waktu beliau tidur. Semenjak itu Rasulullah tertarik untuk mengasingkan diri ke Gua Hira. Gua Hira adalah sebuah gua dekat jalan ke Arafah kira-kira 4 km dari Mekah. Disitu beliau beribadat beberapa malam, tidak pulang ke rumah. Saat perbekalan habis, beliau menjemput perbekalan ke rumah Khadijah, isteri beliau yang pertama, lalu kembali ke gua Hira. Hingga satu saat datang seorang malaikat menyuruh beliau membaca. Beliau menjawab bahwa beliau tidak bisa membaca. Sampai tiga kali malaikat itu menyuruh membaca, tiga kali pula beliau menjawab sama. Kemudian beliau pulang ke rumah Khadijah dengan ketakutan dan minta diselimuti. Khadijah menguatkan hatinya. Lalu Khadijah mengajak beliau pergi menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, yaitu anak paman Khadijah. Waraqah pernah memeluk agama  Nasrani (Kristen) pada masa jahiliyah. Waraqah menulis Kitab Suci Injil dalam bahasa Arab, seberapa yang dapat disalinnya. Usia Waraqah telah lanjut, matanya telah buta. Kemudian Waraqah meninggal dunia dan wahyupun terputus untuk sementara waktu.

(diriwayatkan oleh Hadis Shahih Bukhari no 4572 dan  Hadis Shahih Bukhari no 6467 ; Hadis Shahih Muslim no 231,
sumber Lidwa Pusaka)

Hadis di atas meriwayatkan saat-saat awal dimana ayat-ayat Al-Qur’an mulai turun atau diterima oleh Rasulullah SAW. Diriwayatkan bahwa karena Rasulullah SAW tidak dapat membaca, beliau mengalami tekanan sampai ketakutan dan minta diselimuti. Memang cukup rumit untuk dibayangkan. Rasulullah SAW dipilih sebagai penerima pewahyuan ; sementara saat malaikat menyuruh beliau membaca (Iqra) beliau tidak dapat membaca. Hal tersebut mengakibatkan rencana turunnya ayat-ayat Al-Qur’an melalui Rasulullah SAW menjadi gagal pada saat itu. Tidak ada catatan atau tulisan atau salinan ayat yang dihasilkan. Itu dikarenakan beliau tidak dapat membaca dan menulis. Kalau tidak ada jalan keluar, dapat terjadi bahwa ayat-ayat Al-Qur’an bakal tidak jadi diwahyukan melalui beliau. Khadijah mencoba mencarikan jalan keluar. Khadijah membawa Rasulullah SAW menemui Waraqah bin Naufal, anak dari paman Khadijah. Waraqah pernah memeluk agama Nasrani pada zaman jahiliyah. Waraqah menulis dari Kitab Suci Injil dengan bahasa Arab, seberapa yang dapat disalinnya. Kitab Suci Injil adalah Kitab Suci umat Nasrani.

Kami ingin mengutarakan pemikiran yang kritis dan logis. Berarti dari Waraqah lah Rasulullah SAW mengetahui isi Kitab Suci Injil umat Nasrani. Dari Waraqah lah Rasulullah SAW mengetahui nama tokoh-tokoh yang ada di Kitab Suci umat Nasrani. Dari Waraqah jugalah Rasulullah SAW mengetahui kisah atau peristiwa yang ada dalam Kitab Suci umat Nasrani. Waraqah menulis sebagian dari ayat-ayat Kitab Suci Injil dalam bahasa Arab.

Kemudian Waraqah meninggal dunia. Dikatakan bahwa sejak Waraqah meninggal dunia, wahyu pun terputus untuk sementara waktu. Kembali ke pemikiran kritis. Mengapa dengan meninggalnya Waraqah pewahyuan terputus untuk sementara waktu? Dengan perkataan lain : Mengapa pada saat Waraqah masih hidup, pewahyuan masih berlangsung? Dan pada saat Waraqah meninggal dunia, pewahyuan jadi terputus? Apa hubungan Waraqah dengan pewahyuan? Apakah Rasulullah SAW menerima ayat-ayat dari Waraqah? Yaitu salinan ayat-ayat Kitab Suci Injil dalam bahasa Arab? Apakah ini yang menyebabkan mengapa banyak ayat-ayat yang diterima Rasulullah menyerupai ayat-ayat Kitab Suci umat Nasrani? Lalu, dengan meninggalnya Waraqah, pewahyuan ikut terputus untuk sementara waktu.

Apa yang diriwayatkan oleh Hadis di atas berikut uraiannya terkesan berbeda dengan apa yang diajarkan selama ini. Selama ini diajarkan bahwa Allah menurunkan Al-Qur’an sekaligus dari Lauh Mahfudz ke baitul izzah di langit dunia. Peristiwa tersebut dikenal sebagai Malam Lailatul Qadr. Kemudian dari langit dunia diturunkan secara berangsur oleh malaikat (khususnya Jibril) kepada Rasulullah SAW selama 23 tahun. Dikenal sebagai Nuzulul Qur’an. Diyakini selama ini bahwa didalam semua kejadian ataupun proses pewahyuan, tidak ada sedikitpun campur tangan manusia. Sementara kita lihat dari Hadis di atas berikut uraiannya, Rasulullah SAW gagal berkomunikasi dengan malaikat di Gua Hira. Atau dengan kata lain, malaikat gagal berkomunikasi dengan Rasulullah SAW. Justeru Rasulullah berkonsultasi dengan seorang manusia, yaitu Waraqah bin Naufal. Waraqah menulis sebagian dari ayat-ayat Kitab Suci Injil dalam bahasa Arab. Hal tersebut menimbulkan kesan yang sangat kuat bahwa Rasulullah SAW mengetahui isi Kitab Suci Injil serta menerima ayat-ayat Kitab Injil dari seorang manusia, yaitu Waraqah.

Hal tersebut cukup membingungkan kami. Kalau demikian keadaannya, lalu bagaimana halnya dengan kisah Malam Lailatul Qadr dan Nuzulul Qur’an yang dikatakan tanpa ada campur tangan atau sentuhan tangan manusia? Bukankah itu menimbulkan kesan bahwa peristiwa pewahyuan Al-Qur’an masih diliputi misteri dan tanda tanya ?

Dimana Letak Jawabannya? Pengkajian terhadap Al Quran, Hadist, dan Alkitab
Download e-book “Dimana Letak Jawabannya? Pengkajian terhadap Al Quran,
Hadist, dan Alkitab dengan meng-klik gambar di atas

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Ummat Muslim menuduh bahwa: Injil sudah DIPALSUKAN !

alkitab dituduh palsu dan bohong

Sangat menarik jika kita memperhatikan berbagai tuduhan yang dilontarkan oleh umat Muslim terhadap Alkitab (kitab Suci Umat Nasrani). Tuduhan tersebut antara lain :

  1. Injil atau Alkitab sudah dirubah manusia.
  2. Injil atau Alkitab sudah dipalsukan.
  3. Injil atau Alkitab sudah didustakan.
  4. Injil atau Alkitab sudah tidak asli lagi.
  5. Injil atau Alkitab sudah diobok-obok.
  6. Injil atau Alkitab sudah dipermak habis.

Sebenarnya cukup aneh, seolah-olah tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba tuduhan tersebut datang. Sebelum agama Islam lahir, boleh dikata tidak pernah ada tuduhan seperti itu. Setelah agama Islam datang, mendadak ada tuduhan-tuduhan seperti itu.

Hal ini sungguh sangat menarik. Ada apa sebenarnya sehingga umat Muslim sangat gencar mempermasalahkan keaslian Alkitab? Mengapa umat Muslim sangat agresif menuduh serta mempermasalahkan isi Alkitab? Bukankah dua agama besar lainnya, yaitu Buddha dan Hindu tidak pernah mengurusi isi Kitab Suci agama lain? Mengapa umat Muslim begitu muncul langsung mencampuri Kitab Suci agama lain (Alkitab) ?

Kami jadi sangat ingin tahu. Apakah tuduhan umat Muslim tentang Alkitab tersebut benar ? Lalu kalau dipikir-pikir, apa untungnya bagi umat Nasrani (atau bani Israil) jika mengubah atau memalsukan Alkitab? Sekaligus pertanyaan yang logis, apakah umat Muslim dirugikan oleh isi Alkitab sehingga umat Muslim menuduh Alkitab seperti itu?

topik yang menarik

Ini merupakan satu topik yang sangat menarik untuk dibahas. Oleh sebab itu kami mulai mencoba untuk mempelajarinya. Kami juga mencoba menyelidiki Al-Qur’an maupun Alkitab. Kami temukan betapa banyaknya perbedaan serta pertentangan diantara ayat-ayat Al-Qur’an dengan Alkitab. Kamipun mulai mengerti mengapa umat Muslim sangat gencar dan agresif mempermasalahkan isi Alkitab. Kami akan mencoba menuangkan hasil penelaahan kami tersebut.

Sekitar enam ratus tahun setelah Alkitab ditulis lengkap, Al-Qur’an dan agama Islam lahir ke bumi. Ternyata didalam Al-Qur’an sangat banyak ayat yang isinya menyerupai ayat-ayat yang telah ada didalam Alkitab. Juga sangat banyak orang atau tokoh yang diceritakan didalam Al-Qur’an yang sama atau menyerupai orang atau tokoh yang telah diceritakan didalam Alkitab. Demikian pula sangat banyak kisah yang diceritakan didalam Al-Qur’an yang sama atau menyerupai kisah yang telah ada didalam Alkitab. Hanya saja sebagian besar dari ayat atau tokoh atau kisah tersebut ditulis oleh Al-Qur’an secara lebih singkat dan tidak selengkap atau serinci Alkitab. Bahkan sangat banyak yang berbeda atau bertentangan dengan apa yang telah lebih dulu dituliskan oleh Alkitab.

Karena isi Al-Qur’an banyak yang berbeda atau bertentangan dengan isi Alkitab, maka umat Muslim langsung menuduh bahwa Alkitab yang lahir lebih dulu itu sudah tidak asli lagi. Umat Muslim menuduh Alkitab sudah dirubah, diobok-obok, dipermak habis, didustakan ataupun sudah dipalsukan. Menurut umat Muslim, Alkitab yang duluan lahir tersebut harus sama isinya dengan Al-Qur’an yang lahir belakangan.

Umat Muslim secara gencar terus mempermasalahkan keaslian Alkitab. Sebegitu gencarnya, sehingga pada saat muncul Injil Barnabas, umat Muslim langsung mengklaim bahwa Injil Barnabas itulah Injil yang asli yang telah lama hilang. Umat Muslim mengklaim bahwa Injil Barnabas itulah Injil yang benar. Umat Muslim sangat yakin akan hal tersebut. Namun, lama kelamaan, pada saat umat Muslim mulai serius meneliti isi Injil Barnabas, umat Muslim menemukan bahwa isi Injil Barnabas banyak yang tidak sesuai atau bertentangan dengan Al-Qur’an. Akhirnya umat Muslim mencabut kembali klaim tersebut. Umat Muslim merubah pendapat dan keyakinan mereka. Umat Muslim berkata bahwa Injil Barnabas tidak benar. Begitulah gencarnya upaya umat Muslim dalam mempermasalahkan keaslian Injil atau Alkitab. Hingga kini, umat Muslim masih terus berjuang dengan gigih untuk mencari kalau-kalau ada lagi kanon Injil yang lain yang dapat mereka klaim sebagai Injil yang asli.

Umat Muslim tidak berhenti hanya sampai disitu. Umat Muslim pun mempermasalahkan bahasa penulisan Alkitab. Umat Muslim menuduh bahwa Alkitab sudah tidak asli karena sudah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa. Umat Muslim mengatakan bahwa Alkitab tidak seperti Al-Qur’an. Al-Qur’an masih tetap mempertahankan bahasa Arab sebagai bahasa aslinya. Kalaupun Al-Qur’an diterjemahkan kedalam berbagai bahasa, bahasa aslinya tidak hilang. Berbeda halnya dengan Alkitab. Alkitab yang berbahasa asli sudah tidak ada lagi. Demikian tuduhan umat Muslim.

Kami akan mulai dari pembahasan tentang perbedaan serta pertentangan yang ada antara isi Al-Qur’an dengan Alkitab. Adanya perbedaan serta pertentangan tersebut lah yang telah memicu munculnya berbagai tuduhan umat Muslim tersebut. Perbedaan atau pertentangan tersebut antara lain :

  • RAMALAN ATAU PEWAHYUAN MENGENAI KEDATANGAN MUHAMMAD SAW

Al-Qur’an mengatakan bahwa kedatangan Muhammad SAW sudah diramalkan atau diwahyukan sebelumnya oleh Alkitab. Pernyataan Al-Qur’an tersebut tertulis dalam Surat Ash Shaff ayat 6 dan Surat Al A’raaf ayat 157.

Kita mulai dari Qs. 61 Ash Shaff 6 :

6. Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.”

(Qs. 61 Ash Shaff 6 , sumber : Lidwa Pusaka)

Surat Ash Shaff ayat 6 di atas menyebutkan bahwa Isa berkata bahwa sesudah Isa akan datang seorang rasul bernama Ahmad (Muhammad). Ternyata didalam Alkitab tidak ada satu ayatpun yang menuliskan bahwa Isa berkata seperti itu.

Kalau kita periksa isi Alkitab, maka akan kita lihat bahwa ada tiga orang atau “oknum” yang akan datang setelah Isa, yaitu :

Pertama :  Sang Penolong atau Ruh Kebenaran atau Ruh Allah

      (perkataan Isa dalam Injil Yahya 14 : 16,17 ; Yahya 14 : 25,26 ; Yahya 16 : 7,13,14)

Kedua     :  Sang nabi palsu

      (perkataan Isa dalam Injil Matius 24 : 11 ; pewahyuan 2 Petrus 2 : 1 ; 1 Yahya 4 : 1).

Ketiga     :  Dajjal, yang disebut juga sebagai Antikristus atau Penentang Al-Masih

      (pewahyuan rasul Yahya dalam 1 Yahya 2 : 18; 1 Yahya 2 : 22; 1Yahya 4 : 3; 2 Yahya 1 : 7).

16  (Sabda Isa) Aku akan meminta kepada Sang Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, untuk  menyertai kamu selama-lamanya,

17  yaitu Ruh Kebenaran. Dunia ini tidak dapat menerima-Nya, karena dunia tidak melihat–Nya, apalagi mengenal-Nya. Tetapi kamu mengenal-Nya, sebab Ia menyertai kamu dan akan tinggal  di dalam  dirimu.

(Injil Yahya 14:16-17 )

 1. (Sabda Isa) Nabi-nabi palsu akan bermunculan dan banyak orang akan mereka sesatkan.

(Injil Matius 24 : 11)

 

18.  Hai anak-anakku, inilah akhir zaman, dan seperti yang kamu dengar bahwa Dajjal, penentang Al-Masih itu, kelak akan datang. Sekarang pun telah bermunculan para penentang Al-Masih. Oleh sebab itulah kita mengetahui bahwa ini adalah akhir zaman.

(1 Yahya 2 : 18)

Sementara itu, ayat yang berbicara tentang akan datangnya seorang rasul bernama Ahmad (Muhammad) sama sekali tidak ada didalam Alkitab. Dalam tulisan ini kami tidak akan mengulas lagi secara panjang lebar mengenai tidak adanya pewahyuan dalam Alkitab tentang kedatangan rasul bernama Ahmad (Muhammad). Pengulasan mengenai hal tersebut sudah kami tuangkan secara panjang lebar dan mendalam didalam tulisan berjudul : RAMALAN ATAU PEWAHYUAN MENGENAI KEDATANGAN ISA AL-MASIH MAUPUN MUHAMMAD SAW.”

Selanjutnya Qs.7 Al A’raaf 157 :

157. (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.

(Qs. 7 Al A’raaf 157 , sumber : Lidwa Pusaka)

Surat Al A’raaf ayat 157  mengatakan bahwa didalam Taurat dan Injil ada tertulis ramalan mengenai seorang rasul atau nabi yang ummi (yang tidak bisa baca tulis) yang akan muncul. Maksud dari surat Al‐A’raaf ayat 157 tersebut adalah bahwa nabi Musa ada meramalkan didalam Alkitab bahwa seorang rasul atau nabi yang ummi (yang tidak bisa baca tulis) akan datang. Al-Qur’an mengklaim bahwa nabi atau rasul yang diramalkan oleh nabi Musa tersebut adalah Muhammad SAW.  Ternyata tidak ada satu ayatpun didalam Taurat maupun Injil yang menyebutkan akan datang seorang rasul atau nabi yang ummi (yang tidak bisa baca tulis) seperti yang dimaksud Al-Qur’an tersebut. Yang ada adalah nabi Musa meramalkan didalam Ulangan 18 : 15,18 bahwa akan datang seorang Nabi seperti nabi Musa, yang berasal dari antara orang Israil.

15   Seorang nabi dari tengah-tengahmu , dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan.

18  seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.

(Ulangan 18 : 15,18)

Nabi yang akan datang yang diramalkan oleh nabi Musa tersebut adalah Isa Al-Masih. Isa datang ribuan tahun setelah zaman nabi Musa. Didalam Kitab Suci Injil, Isa sendiri berkata bahwa ramalan yang ditulis oleh nabi Musa itu adalah mengenai diri-Nya.

46  (Sabda Isa) Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia (Musa) telah menulis tentang Aku.

47  Tetapi jikalau kamu tidak percaya akan apa yang ditulisnya (Musa), bagaimanakah kamu akan percaya akan apa yang Kukatakan?”

(Yohanes 5 : 46,47)
(dikutip dari Kitab Suci Injil Dwi bahasa Yunani-Indonesia, terjemahan 1912)

Dalam ayat di atas Isa mengatakan bahwa nabi Musa telah menulis tentang diri-Nya (diri Isa). Kalau kita meneliti semua perkataan serta pelayanan nabi Musa di sepanjang hidupnya, nabi Musa hanya pernah satu kali berbicara atau menulis tentang seseorang yang akan datang. Yaitu dalam Ulangan 18 : 15,18 tersebut.  Dari perkataan Isa di atas sangat jelas dan tegas bahwa nabi yang akan datang yang diramalkan oleh nabi Musa tersebut adalah Isa Al-Masih.

Ulasan tentang tidak adanya ramalan nabi Musa mengenai rasul atau nabi yang ummi (yang tidak bisa baca tulis) tersebut telah kami tuangkan secara panjang lebar dan mendalam didalam tulisan berjudul : RAMALAN ATAU PEWAHYUAN MENGENAI KEDATANGAN ISA AL-MASIH MAUPUN MUHAMMAD SAW.”

Di sini kami ingin menyoroti apa yang diklaim oleh Al-Qur’an. Al-Qur’an mengklaim bahwa didalam Taurat dan Injil ada ramalan nabi Musa tentang akan datangnya seorang rasul atau nabi yang ummi (yang tidak bisa baca tulis), yaitu Muhammad SAW. Kami merasa perlu membicarakannya karena hal ini berhubungan erat dengan judul tulisan ini. Yaitu mengenai tuduhan bahwa Injil atau Alkitab sudah dirubah atau dipalsukan. Ummat Muslim menuduh bahwa Alkitab sudah tidak asli lagi karena didalam Alkitab tidak ditemukan ayat yang menuliskan ramalan nabi Musa tentang nabi yang ummi tersebut.

Kalau kita membaca pewahyuan yang diterima oleh nabi Musa dalam Ulangan 18 : 15,18, kita akan melihat bahwa  pewahyuan itu sungguh merupakan kabar yang sangat baik buat umat Israil. Pewahyuan tersebut mengatakan bahwa :

polls_moses_1644_997444_answer_1_xlarge

Akan datang seorang nabi yang sama seperti nabi Musa yang akan menggembalakan (bahasa Inggerisnya : to feed) umat Israil. Ini sungguh merupakan kabar yang sangat baik bagi bani Israil. Nabi Musa itu sangat lembut hatinya. Beliau sangat ramah. Beliau sangat kebapakan. Beliau sangat melindungi bani Israil. Beliau rela mengurbankan kepentingan dirinya dan keluarganya hanya untuk kebahagiaan dan kesejahteraan bani Israil. Ceritanya, pernah satu kali Allah murka pada bani Israil dan bermaksud memusnahkan bani Israil. Nabi Musa membela bani Israil. Nabi Musa meminta agar dirinya saja yang dihukum Allah menggantikan bani Israil. Beliau sungguh memberikan rasa aman, sejahtera dan terayomi bagi umat Israil.  Bani Israil sangat senang dan beruntung memiliki seorang bapak seperti nabi Musa. Jadi ramalan atau pewahyuan nabi Musa yang mengatakan bahwa akan datang lagi seorang nabi yang sama seperti nabi Musa tentu sangat menggembirakan bani Israil. Lalu, buat apa pewahyuan atau ramalan tersebut dirubah? Apa untungnya pewahyuan atau ramalan yang sangat baik itu didustakan? Terlebih dengan adanya tuduhan dari umat Muslim bahwa pewahyuan atau ayat tersebut sudah dirubah justeru sebelum nabi yang dimaksud (menurut versi umat Muslim : Muhammad SAW) datang. Sungguh membingungkan. Kalaulah seandainya benar dirubah orang, dan yang merubah tersebut belum mengenal Muhammad SAW, bahkan tidak pernah tahu atau menyangka akan datang seorang yang bernama Muhammad SAW, apa kepentingannya maka dirubah?

Kecuali kalau orang yang merubahnya telah bertemu dan mengenal Muhammad SAW, lalu dia melihat bahwa Muhammad SAW sama sekali tidak sesuai dengan yang diramalkan nabi Musa, lalu dia merubahnya. Kenyataannya umat Muslim mengklaim bahwa ayat Alkitab tersebut telah dirubah sebelum kedatangan Muhammad SAW. Lalu umat Muslim mengatakan pula bahwa Al-Qur’an diturunkan untuk membenarkan Alkitab yang telah didustakan atau dirubah orang tersebut.

Kami juga jadi tergerak untuk mencoba membandingkan antara nabi Musa dengan Muhammad SAW. Kenapa kami bandingkan? Karena Al-Qur’an mengklaim bahwa nabi yang akan datang itu adalah Muhammad SAW. Sementara nabi yang akan datang tersebut menurut ramalan nabi Musa haruslah “sama seperti nabi Musa”. Kami melihat bahwa Muhammad SAW sangat berbeda jauh dengan nabi Musa. Setidaknya dari sudut pandang bani Israel yang menerima pewahyuan tersebut. Muhammad SAW tidak pernah menggembalakan (to feed) bani Israil. Muhammad SAW tidak sama seperti nabi Musa yang ramah kepada bani Israil. Muhammad SAW juga tidak sama seperti nabi Musa yang kebapakan. Muhammad SAW tidak melindungi bani Israil. Muhammad SAW tidak memberi rasa aman, sejahtera dan terayomi bagi umat Israil. Bahkan sejarah menceriterakan, setelah Muhammad SAW pindah dari Mekah ke Medinah, Muhammad SAW membunuhi sangat banyak bani Israil (suku Yudah) serta merampas harta benda mereka. Jadi bukannya melindungi serta mengayomi bani Israel seperti yang dilakukan nabi Musa, Muhammad SAW justeru membunuhi dan merampas milik mereka. Bukannya memberikan rasa aman kepada bani Israil tetapi malah menimbulkan rasa

ketakutan. Muhammad SAW dan para pengikut-Nya mengambili wanita-wanita dan anak-anak Israil (suku Yudah) lalu menjual mereka sebagai budak. Kaum pria Israil (Yudah) didudukkan di pinggir parit yang baru digali. Disana kepala-kepala mereka dipenggal dan tubuhnya dilempar kedalam parit. Pemotongan berlangsung sepanjang siang dan dilanjutkan malamnya dengan memakai obor (sumber : Kebenaran Yang Diungkapkan , ditulis oleh Dr.  Anis A. Shorrosh, seorang Arab Palestina; buku ini bisa dibeli di Buku ini bisa dibeli di: TokoBuku RDSB).

anis_shorrosh

Muhammad SAW melakukan itu semua karena keyakinan beliau bahwa itu merupakan perang Allah. Beliau yakin bahwa apa yang beliau perbuat tersebut merupakan kehendak Allah. Disini kami bukan mau mempersoalkan apakah itu perintah Allah atau bukan, namun kami hanya ingin menegaskan bahwa Muhammad SAW sangat jauh berbeda dengan nabi Musa. Sementara nabi yang diramalkan oleh nabi Musa tersebut haruslah yang sama seperti nabi Musa. Jadi Muhammad SAW bukanlah nabi yang diramalkan oleh nabi Musa tersebut.

Hadis Shahih Muslim 5203 turut memperjelas bagaimana Muhammad SAW memusuhi dan memerangi orang Yahudi :

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Abdurrahman dari Suhail dari ayahnya dari Abu Hurairah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Kiamat tidak terjadi hingga kaum muslimin memerangi Yahudi lalu kaum muslimin membunuh mereka hingga orang Yahudi bersembunyi dibalik batu dan pohon, batu atau pohon berkata, ‘Hai Muslim, hai hamba Allah, ini orang Yahudi dibelakangku, kemarilah, bunuhlah dia, ‘ kecuali pohon gharqad, ia adalah pohon Yahudi’.”

(Hadis Shahih Muslim 5203 , sumber : Lidwa Pusaka)

wolfinsheepsclothing2

  • MENGENAI PENYALIBAN DAN KEMATIAN ISA

Surat An Nisaa ayat 157 dan 158 mengatakan bahwa Isa tidak wafat, tidak dibunuh dan tidak pula disalibkan. Isa langsung diangkat Allah ke surga tanpa pernah mengalami kematian.

157. dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa

158. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

                                (Qs. 4 An Nisaa 157, 158 , sumber : Lidwa Pusaka)

Sementara Kitab Suci Injil mengatakan bahwa Isa benar-benar telah dibunuh atau disalibkan, mati dan dikuburkan. Pada hari yang ketiga Isa bangkit atau hidup kembali. Pada hari yang keempatpuluh Isa terangkat (kembali) ke surga.

33. Setelah sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Isa di sana bersama kedua penjahat, seorang di sebelah kanan-Nya dan seorang lagi di sebelah kiri-Nya.

46. Kemudian dengan suara nyaring Isa berseru, Ya Bapa, kedalam tangan-Mu kuserahkan nyawa-Ku.” Sesudah bersabda demikian, Ia menghembuskan nafas terakhir.

(Lukas 23 : 33, 46)

45  Setelah diperolehnya laporan dari kepala pasukan itu, iapun mengizinkan Yusuf untuk mengambil jenazah Isa.

46 Setelah Yusuf membeli kain lenan, ia menurunkan jenazah Isa (dari kayu salib) dan mengafaninya dengan kain itu. Dibaringkannya jenazah Isa dalam makam yang digali pada bukit batu, kemudian digulingkannya sebuah batu besar ke pintu makam itu.

(Markus 15 : 45, 46)

5  Maka masuklah mereka ke dalam makam itu. Lalu mereka melihat seorang muda dengan jubah putih (malaikat) duduk di sebelah kanan. Mereka merasa heran.

6  Ia berkata kepada mereka: “Jangan heran! Kamu mencari Isa, orang Nazaret yang disalibkan itu. Ia sudah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat bekas Ia dibaringkan.

(Markus 16 :5, 6)

51  Sementara Ia (Isa) memohonkan berkah bagi mereka, terpisahlah Ia dari mereka lalu terangkat ke surga.

(Lukas 24 : 51)

Mengenai kematian Isa, kami justeru melihat ketidak-konsistenan Al-Qur’an. Tiga Surat dalam Al-Qur’an, yaitu Surat Ali ‘Imran ayat 55 , Surat Al-Maidah ayat 117 dan Surat Maryam ayat 33 mengatakan bahwa Isa wafat. Surat Ali Imran ayat 55 menyebutkan bahwa Isa diangkat Allah ke surga,  setelah mengalami kematian lebih dahulu. Surat Maryam ayat 33 mengatakan bahwa Isa wafat, namun kemudian dibangkitkan atau dihidupkan kembali. Sementara Surat An Nisaa ayat 157,158 justeru mengatakan bahwa Isa tidak wafat atau tidak mengalami kematian. Kami melihat Al-Qur’an tidak konsisten. Satu surat Al-Qur’an menentang tiga surat Al Qur’an. Surat An Nisaa ayat 157,158  menentang Surat Ali ‘Imran ayat 55 , Surat Al-Maidah ayat 117 dan Surat Maryam ayat 33. Kami tidak tahu yang mana yang salah. Tentu salah satu diantaranya salah. Tidak mungkin keduanya benar sebab keduanya begitu saling bertentangan.

Dalam tulisan ini kami juga tidak akan mengulas lagi secara panjang lebar dan mendalam mengenai penyaliban dan kematian Isa. Pengulasan mengenai hal tersebut sudah kami tuangkan secara panjang lebar didalam tulisan berjudul : Benarkah Isa Wafat dan Bangkit sebelum ke Surga? (Menurut QS 3 Ali Imran 55, QS 5 Al-Maidah 117, dan QS 19 Maryam 33)

Untuk sekedar melengkapi daftar perbedaan antara isi Al-Qur’an dengan Alkitab, kami cantumkan beberapa lagi diantaranya :

  1. Al-Qur’an menyebutkan bahwa salah seorang anak nabi Nuh tenggelam dan binasa di dalam air bah (Qs. 11 Huud 42,43 , sumber : Lidwa Pusaka). Sementara Alkitab mengatakan bahwa seluruh anak nabi Nuh masuk kedalam bahtera dan selamat (Kejadian 7 : 7, Kejadian 9 : 18,19).
  2. Al-Qur’an mengatakan nabi Ibrahim pindah ke lembah Mekah dan disana mendirikan Ka’bah (Qs 14 Ibrahim 35, 37 dan Qs 2 Al-Baqarah 125-127 , sumber : Lidwa Pusaka). Sementara dari Alkitab kita tahu bahwa nabi Ibrahim tidak pernah sama sekali menginjakkan kakinya di lembah Mekah, dan tidak pernah mendirikan ka’bah.
  3. Al-Qur’an menyebutkan bahwa yang mengambil nabi Musa dari sungai sewaktu nabi Musa masih bayi adalah isteri raja Firaun (Qs. 28 Al Qashash 8,9 , sumber : Lidwa Pusaka). Sementara Alkitab mengatakan bahwa yang mengambilnya adalah puteri raja Firaun (Keluaran 5 : 2,10).
  4. Al-Qur’an mengatakan ayah nabi Yahya, yaitu Zakaria, menjadi bisu selama tiga hari sebelum kelahiran nabi Yahya (Qs. 19 Maryam 10 , sumber : Lidwa Pusaka). Alkitab menyebutkan Zakaria menjadi bisu selama sembilan bulan (Lukas 1 : 20,22,64).
  5. Salah satu ayat Al-Qur’an menyebutkan bahwa ibunya Isa Al-Masih adalah Maryam, saudara perempuan Harun (Qs 19 Maryam 28 , sumber : Lidwa Pusaka). Padahal dari Alkitab kita tahu bahwa ibunya Isa bukanlah saudara perempuan Harun.

Sebenarnya masih banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang berbeda atau bertentangan dengan ayat Alkitab. Kami tidak memuat semuanya disini agar tidak terlalu panjang. Kami telah membahas secara panjang lebar dan mendalam mengenai perbedaan serta pertentangan tersebut dalam tulisan berjudul : “Mengapa ayat Al-Qur’an banyak yang bertentangan dengan Kitab Suci?.

Kami juga tidak lagi membahas didalam tulisan ini mengenai mengapa didalam Al-Qur’an sangat banyak ayat atau tokoh atau kisah yang menyerupai apa yang telah ditulis didalam Alkitab. Juga mengenai darimana Muhammad SAW mengetahui nama tokoh-tokoh serta kisah-kisah yang ada didalam Alkitab. Sementara kita tahu bahwa Muhammad SAW tidak bisa membaca dan menulis. Kami telah membahas secara panjang lebar dan mendalam tentang hal tersebut dalam tulisan berjudul : “Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadr yang Diliputi Misteri.”

Karena umat Muslim melihat bahwa isi Al-Qur’an tidak sama atau berbeda dengan isi Alkitab, umat Muslim langsung menuduh bahwa Alkitab sudah dirubah dan tidak asli lagi. Namun kami melihat kecenderungan umat Muslim untuk menggunakan standar ganda. Di satu sisi umat Muslim mengatakan tidak percaya lagi terhadap isi Alkitab yang ada sekarang karena telah dipalsukan. Di sisi lain, umat Muslim terus-menerus mengutip ayat-ayat dari Alkitab yang ada sekarang serta mencocok-cocokkannya untuk mendukung atau membenarkan teori atau pendapatnya. Setiap kali ada ayat Alkitab yang diperkirakan cocok untuk mendukung pendapat atau teorinya, ayat Alkitab tersebut akan dikutip dan ditonjolkan sebagai sebuah kebenaran yang sangat tepat. Dengan perkataan lain Alkitab digunakan sebagai sumber kebenaran sejati. Itu namanya standar ganda.

al-quran

Kami telah melakukan pengkajian demi pengkajian terhadap Al-Qur’an, Hadis dan Alkitab. Hasil dari pengkajian tersebut telah kami tuangkan secara panjang lebar dan mendalam di dalam beberapa tulisan kami yang judul-judulnya telah kami sebutkan di atas. Dari semua hasil pengkajian tersebut kami dapatkan bahwa tuduhan umat Muslim bahwa Alkitab telah dirubah atau dipalsukan orang adalah merupakan tuduhan sepihak dan tidak punya dasar yang kuat. Hingga saat ini pun, umat Muslim belum pernah berhasil membuktikan tuduhan tersebut. Umat Muslim tidak dapat menunjukkan kanon Alkitab yang asli (kalau memang ada). Tuduhan tersebut muncul semata-mata hanya dikarenakan isi Al-Qur’an yang lahir belakangan tidak sama atau bertentangan dengan isi Alkitab yang lahir lebih dahulu.

Selanjutnya, seperti yang telah kami singgung di atas, umat Muslim juga mempermasalahkan bahasa penulisan Alkitab. Umat Muslim menuduh bahwa Alkitab sudah tidak asli karena bahasanya sudah tidak asli lagi. Alkitab sudah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa. Umat Muslim juga mengklaim bahwa Alkitab yang berbahasa asli sudah tidak ada lagi.

Karena tertarik akan tuduhan tersebut, kamipun mencoba untuk menyelidikinya. Dari penyelidikan kami dapatkan bahwa tidak benar bahwa Alkitab yang berbahasa asli sudah tidak ada lagi. Alkitab berbahasa asli masih tetap ada dan tersimpan dengan aman di museum. Alkitab berbahasa asli tersebut lengkap, terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Kami mulai dari Alkitab Perjanjian Lama. Alkitab Perjanjian Lama terdiri dari Taurat, Zabur, kitab nabi-nabi besar serta kitab nabi-nabi kecil. Hingga tahun 1947, naskah Alkitab Perjanjian Lama yang dianggap paling tua adalah Naskah Masorah atau Teks Masoret. Kodeks Kairo (895 Masehi) disimpan di British Museum. Kodeks tersebut dibuat oleh keluarga Masoret Musa bin Asher. Kodeks tersebut berisi kitab Nabi-Nabi angkatan pertama maupun Nabi-Nabi angkatan kedua. Kodeks Nabi-Nabi Leningrad (916 Masehi) berisi kitab nabi Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, dan kedua belas nabi kecil. Naskah lengkap Perjanjian Lama yang paling tua adalah Kodeks Babylonicus Petropalitanus (1008 Masehi) terdapat di Leningrad. Ia disalin dari sebuah teks Rabbi Aaron bin Musa bin Asher yang telah diperbaiki sebelum tahun 1000 Masehi. Hingga tahun 1947,  Naskah-naskah Masorah atau Teks Masoret tersebutlah yang dianggap sebagai naskah tertua Alkitab Perjanjian Lama berbahasa asli (bahasa Ibrani).

discipline-scroll-1.l-520x220

Pada tahun 1947 kaum suku Qumran menemukan gulungan-gulungan Laut Mati didalam gua. Gulungan tersebut berisikan naskah-naskah Alkitab Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani. Sejak penemuan tersebut, pencarian terus dilakukan oleh orang-orang suku Qumran serta para ahli arkeologi. Sebagai hasilnya, dari 11 gua ditemukan banyak naskah Alkitab Perjanjian Lama yang secara arkeologi dipastikan berumur antara tahun 150 Sebelum Masehi dan 70 Masehi.

Naskah Laut Mati yang ditemukan tersebut terdiri dari lebih kurang 900 dokumen, termasuk teks-teks dari Kitab Suci Ibrani. Termasuk diantaranya potongan-potongan dari 38 kitab di Perjanjian Lama atau Alkitab Ibrani. Hanya kitab Ester yang tidak ditemukan. Ada sejumlah potongan kecil bahasa Yunani dari gua 7 dilaporkan berisi sejumlah ayat-ayat dalam Injil  Markus (4 fragmen), Kisah Para Rasul, Surat Roma, 1 Timotius, dan Yakobus, masing-masing 1 fragmen. Saat ini, naskah-naskah Laut Mati yang ditemukan tersebut disimpan didalam museum khusus di Hebrew University dan diberi nama Shrine of the Book (Kilauan Buku).

Sangat ajaib, isi dari naskah-naskah Alkitab Perjanjian Lama yang ditemukan di Laut Mati tersebut identik atau nyaris tidak berbeda dengan isi Naskah Masorah atau Teks Masoret. Penemuan gulungan Laut Mati tersebut justeru meneguhkan bahwa Naskah Alkitab Ibrani Masoret tidak berbeda dengan Naskah Alkitab Ibrani tahun 150 Sebelum Masehi hingga 70 Masehi. Sekaligus meneguhkan bahwa Alkitab Perjanjian Lama yang ada sekarang tidak berbeda dengan Alkitab Perjanjian Lama tahun 150 SM hingga 70 M. Menurut kami, masalah penterjemahan Alkitab ke berbagai bahasa, itu bukan merupakan hal yang sangat penting untuk dipermasalahkan. Seandainya ada yang merasa curiga atau tidak puas dengan hasil penterjemahan Alkitab tersebut, yang bersangkutan dapat pergi ke Museum Leningrad atau British Museum atau Museum Hebrew University untuk memeriksa serta membandingkannya dengan yang asli; atau bahkan boleh juga mencoba untuk menterjemahkannya kembali.

dead-sea-scroll-cave-260x175Cave 4_Qumran_DF edit

Lalu bagaimana dengan Alkitab Perjanjian Baru yang terdiri dari Injil dan surat-surat para rasul atau murid Isa ? Jawabannya hampir sama. Kodeks Sinaiticus  yang disimpan di British Library London adalah naskah manuskrip lengkap Perjanjian Baru yang berasal dari abad ke – 4. Naskah ini ditulis dengan menggunakan huruf kapital Yunani (uncial). Naskah ini ditemukan oleh Von Tischendorf di Biara Santa Katarina di Gunung Sinai Mesir pada tahun 1859. Selain kitab Perjanjian Baru, naskah ini juga memuat bagian besar Septuaginta. Septuaginta adalah naskah Alkitab Perjanjian Lama berbahasa Yunani. Bersama dengan Kodeks Vaticanus dan Septuaginta, yang kesemuanya berbahasa Yunani,  Kodeks Sinaiticus adalah salah satu naskah terpenting Perjanjian Baru untuk merunut sejarah tekstualnya.

Selain Kodeks Sinaiticus tersebut,  telah pula ditemukan sekitar 5000 naskah kuno Alkitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani, baik yang lengkap maupun sebagian-sebagian. Naskah-naskah tersebut berasal dari tahun yang berbeda-beda. Juga telah ditemukan manuskrip Perjanjian Baru yang bukan berbahasa Yunani; ada yang berbahasa Latin, Koptik, Syria, Armenia, Gothik, Georgia, Arab serta lainnya. Dari kajian arkeologi serta berbagai disiplin ilmu lainnya diyakini bahwa naskah asli Alkitab Perjanjian Baru adalah yang ditulis dalam bahasa Yunani.

Selain itu ditemukan pula naskah Perjanjian Baru berbahasa Aramaik yang disebut dengan Peshitta (artinya : sederhana). Jumlah Peshitta ada 350 manuskrip. Para pakar Alkitab dan arkeologi memperkirakan bahwa manuskrip Peshitta disalin pada abad ke-5 Masehi dan merupakan terjemahan dari Alkitab berbahasa Yunani . Selain itu ada pula naskah Latin dari abad ke-5 Masehi bernama Vulgata yang dikerjakan oleh Yerome atas pesanan Paus Damasus I.

Ajaibnya, semua naskah tersebut, walaupun disalin pada tahun yang berbeda dan ditulis dalam bahasa yang berbeda, isinya hampir tidak ada perbedaan antara satu dengan lainnya. Penemuan-penemuan tersebut meneguhkan bahwa Alkitab Perjanjian Baru yang ada sekarang tidak berbeda isinya dengan naskah kuno Alkitab Perjanjian Baru.

Dengan demikian, tidaklah benar jika dikatakan bahwa Alkitab berbahasa asli sudah tidak ada lagi. Alkitab berbahasa asli ada disimpan di museum. Alkitab berbahasa asli tersebut digunakan sebagai bahan pembanding (pembaku).dalam penterjemahan Alkitab. Tujuannya adalah untuk menjamin bahwa hasil penterjemahan Alkitab tidak berbeda atau menyimpang dari yang asli.

731px-Family-bibleSebagai informasi tambahan, Lembaga Alkitab Indonesia juga menerbitkan dan mencetak Alkitab Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Alkitab Dwi Bahasa tersebut menyerupai Al-Qur’an yang ditulis dalam bahasa Arab dengan terjemahan Bahasa Indonesia. Alkitab Dwi Bahasa tersebut diterbitkan dengan nama Kitab Suci Injil Dwibahasa Indonesia (Terjemahan 1912) – Yunani. Kitab Suci Injil Dwi Bahasa Indonesia – Yunani tersebutlah yang kami gunakan sebagai referensi dalam tulisan-tulisan kami.

Dari semua uraian panjang lebar di atas dapat kita lihat bahwa :  

  1. Tuduhan umat Muslim terhadap Alkitab yaitu bahwa Alkitab telah dirubah atau dipalsukan adalah tuduhan yang bersifat sepihak dan tidak punya dasar yang kuat.
  2. Tuduhan umat Muslim bahwa Alkitab berbahasa asli sudah tidak ada lagi adalah tuduhan yang tidak benar. Alkitab berbahasa asli ada tersimpan di museum.

Demikian hasil pengkajian kami. Kami sangat menyadari bahwa tulisan ini masih sangat jauh dari sempurna. Masukan yang membangun yang bersifat ilmiah dan logis sangat kami butuhkan.

Dimana Letak Jawabannya? Pengkajian terhadap Al Quran, Hadist, dan Alkitab
Download e-book “Dimana Letak Jawabannya? Pengkajian terhadap Al Quran,
Hadist, dan Alkitab dengan meng-klik gambar di atas

10 Comments

Filed under Uncategorized

Ramalan Kedatangan Muhammad SAW maupun Isa Almasih dalam Al Quran dan Kitab Suci

free1Allah mengutus banyak nabi. Para nabi hidup dan melayani pada zaman yang berbeda-beda. Masing-masing nabi melayani Allah pada zamannya. Di antara para nabi, ada nabi yang rencana kedatangannya telah diramalkan atau diwahyukan lebih dulu oleh Allah sebelum nabi tersebut datang. Misalnya nabi Ishak, Yakub, Samuel, Samson, Yahya, dan lain-lain. Banyak pakar berpendapat bahwa ada atau tidaknya ramalan atau pewahyuan itu akan mempengaruhi bobot status kenabian dari nabi tersebut. Ramalan tersebut sangat mendukung bukti kenabiannya.  Allah sendiri telah mewahyukan rencana kedatangannya. Namun perlu dicatat, tidak semua nabi diramalkan atau diwahyukan lebih dulu sebelum dia datang.

Begitu pentingnya soal ramalan atau pewahyuan itu sehingga topik tersebut menjadi sangat sering dibahas. Khususnya dalam berbagai forum dialog antara umat Muslim dengan umat Nasrani. Sangat seru pembahasan mengenai apakah ada ramalan atau pewahyuan ilahi yang mendahului kedatangan Isa Al-Masih. Begitu juga halnya dengan Muhammad SAW. Sangat ramai pembicaraan mengenai apakah ada ramalan atau pewahyuan ilahi yang mendahului kedatangan beliau.

Bagi umat Muslim, ada atau tidaknya ramalan atau pewahyuan mengenai kedatangan Muhammad SAW sangat penting. Kami melihat selama ini, umat Muslim sangat membutuhkan pengakuan dari umat Nasrani bahwa kedatangan Muhammad SAW sudah diramalkan atau diwahyukan sebelumnya. Umat Muslim mendasarkannya pada apa yang dikatakan oleh Al-Qur’an. Al-Qur’an mengatakan bahwa kedatangan Muhammad SAW sudah diramalkan atau diwahyukan lebih dulu didalam Kitab Suci umat Nasrani (Alkitab). Dengan demikian tidak perlu heran jika umat Muslim meminta pengakuan dari umat Nasrani bahwa kedatangan Muhammad SAW sudah diramalkan atau diwahyukan didalam Alkitab.

Sangat menarik pula bahwa hingga sejauh ini, umat Nasrani tidak dapat memberikan pengakuan tersebut. Umat Nasrani tidak dapat memberikan pengakuan bahwa kedatangan Muhammad SAW sudah diramalkan atau dinubuatkan. Alasan umat Nasrani adalah: umat Nasrani tidak ada menemukan satu ayatpun di dalam Alkitab yang meramalkan bahwa Muhammad SAW akan datang atau akan diutus Allah. Jawaban umat Nasrani tersebut telah menjadikan forum dialog antara umat Muslim dengan umat Nasrani tentang topik tersebut semakin seru.

Justeru keadaan tersebut sangat bertolak belakang dengan Isa Al-Masih. Para pakar menemukan bahwa ramalan atau pewahyuan ilahi mengenai Isa Al-Masih sangat banyak. Sebelum Isa Al-Masih datang atau diutus, sangat banyak ayat atau pewahyuan ilahi yang telah meramalkan bahwa Isa Al-Masih akan datang. Yang meramalkannya bukan hanya satu atau dua orang nabi, tetapi ada cukup banyak nabi. Sementara para nabi tersebut hidup pada zaman yang berbeda-beda.

Kami menjadi penasaran. Apa benar bahwa ramalan tentang kedatangan Muhammad SAW itu tidak ada dalam Kitab Suci umat Nasrani? Lalu apa benar bahwa kedatangan Isa sudah diramalkan atau diwahyukan sebelumnya?

Karena merasa penasaran, kamipun mulai melakukan penyelidikan. Kami mulai mempelajari Al-Qur’an dan juga Kitab Suci umat Nasrani (Alkitab). Kami coba memeriksa seteliti mungkin sebatas kemampuan kami. Sebagai hasilnya, kami memang tidak menemukan satupun ayat didalam Alkitab yang berbicara ataupun meramalkan tentang kedatangan Muhammad SAW. Sementara ayat-ayat yang meramalkan kedatangan Isa sangat banyak. Berikut ini kami akan mencoba menuangkan hasil penyelidikan kami terhadap Al-Qur’an maupun Alkitab.

RAMALAN ATAU PEWAHYUAN MENGENAI KEDATANGAN MUHAMMAD SAW

Kami mulai dari ayat Al-Qur’an yang mengatakan bahwa kedatangan Muhammad SAW sudah diramalkan sebelumnya. Dimulai dari Qs. 61 Ash Shaff 6 :

6. Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.”

(Qs. 61 Ash Shaff 6, sumber: Lidwa Pusaka)

Surat Ash Shaff ayat 6 di atas menyebutkan bahwa Isa berkata bahwa sesudah Isa akan datang seorang rasul bernama Ahmad (Muhammad). Kamipun langsung memeriksa seluruh isi Alkitab maupun perkataan Isa di dalam Injil. Ternyata tidak ada satu ayatpun di dalam Injil yang mengatakan bahwa Isa berkata seperti itu. Yaitu bahwa sesudah Isa akan datang seorang rasul bernama Ahmad (Muhammad).

Kalau kita memeriksa isi Alkitab, maka kita akan melihat bahwa ada tiga orang atau “oknum” yang akan datang setelah Isa. Dari ketiga orang atau “oknum” tersebut, dua diantaranya keluar dari pengucapan atau perkataan Isa. Oknum yang ketiga diwahyukan melalui rasul Yahya, salah seorang murid Isa. Ketiga orang atau “oknum” tersebut adalah :

Pertama :  Sang Penolong
Kedua     :  Sang nabi palsu
Ketiga     :  Dajjal, yang disebut juga sebagai Antikristus atau Penentang Al-Masih

Mari kita coba lihat satu-persatu :

PERTAMA   : Sang PenolongSang-Penolong

Isa mengatakan bahwa sesudah Isa akan datang Penolong (Injil Yahya 14 : 16,17). Sang Penolong yang dimaksudkan dalam Injil Yahya 14 : 16,17 bukanlah seorang manusia, melainkan berwujud Ruh. Mari kita lihat ayat-ayat di bawah ini (dikutip dari Kitab Suci Injil Dwi Bahasa Yunani-Indonesia terjemahan 1912) :

16  (Sabda Isa) Aku akan meminta kepada Sang Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, untuk  menyertai kamu selama-lamanya,

17  yaitu Ruh Kebenaran. Dunia ini tidak dapat menerima-Nya, karena dunia tidak melihat–Nya, apalagi mengenal-Nya. Tetapi kamu mengenal-Nya, sebab Ia menyertai kamu dan akan tinggal  di dalam  dirimu.

(Injil Yahya 14:16-17 )

Isa mengatakan bahwa apabila Dia telah naik (pulang) ke surga, Dia tidak akan membiarkan para pengikut-Nya terlantar atau seperti yatim-piatu. Isa akan meminta kepada Allah, dan Allah akan mengirim Ruh Kebenaran yang akan menyertai para pengikut Isa. Ruh Kebenaran tersebut akan masuk kedalam diri pengikut Isa dan berdiam didalam diri mereka. Dunia atau manusia tidak dapat melihat ataupun mengenal Ruh Kebenaran karena Dia adalah Ruh, bukan manusia. Para pengikut Isa dapat mengenal Ruh Kebenaran karena Ruh Kebenaran menyertai mereka dan berdiam didalam mereka.

Istilah “seorang Penolong yang lain” didalam Injil Yahya 14 : 16 tersebut berasal dari bahasa Yunani : “Parakletos”. Parakletos artinya : Penolong (bahasa Inggerisnya : a Helper). Parakletos juga berarti : Penghibur (bahasa Inggerisnya : a Comforter). Sang Penolong adalah Ruh Kebenaran. Wujudnya Ruh, bukan manusia. Karena kosa kata bahasa Indonesia sangat terbatas untuk dapat menterjemahkan “Parakletos”, akhirnya dipakai anak kalimat : ”seorang Penolong yang lain”. Itu merupakan gaya bahasa personifikasi.  Itu bukan berarti bahwa Parakletos itu merupakan seorang manusia. Parakletos itu berwujud Ruh.

Di dalam Injil Yahya 14 : 25-26 kembali Isa mengingatkan bahwa Sang Penolong  akan datang setelah Isa tidak  bersama mereka lagi. Nama lain dari Ruh Kebenaran adalah Ruh Allah.

25  Aku sudah mengatakan semua itu kepadamu, selagi Aku masih tinggal  bersama kamu;

26  tetapi  Sang Penolong, yaitu Ruh Allah Yang Maha Suci , yang akan diutus oleh Sang Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu, selain itu, Ia juga  akan mengingatkan kamu akan semua yang  sudah Kukatakan kepadamu.

(Injil Yahya 14 : 25,26)

Di dalam Injil Yahya 16 : 7,13,14 Isa menegaskan bahwa para pengikut-Nya beruntung dengan kepergian-Nya kembali ke surga. Kalau Isa tidak pergi, Sang Penolong atau Ruh Allah tidak akan datang. Jika Isa telah naik ke surga, Isa akan mengirim Sang Penolong kepada para pengikut-Nya itu. Sang Penolong akan turun dan akan menyertai mereka selama-lamanya. Ruh Allah atau Ruh Kebenaran akan berdiam didalam diri mereka. Ruh Kebenaran akan memuliakan Isa.

7  (Sabda Isa) Meskipun begitu, Aku mengatakan apa yang sebenarnya kepada mu, bahwa kepergian-Ku itu lebih berfaedah bagimu. Karena jika Aku tidak pergi, Sang Penolong  tidak akan datang kepadamu. Sebaliknya jika Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu

13 Tetapi apabila Ia datang, yaitu Ruh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu pada semua jalan  kebenaran.  Ia tidak akan mengatakan apa yang berasal  dari diri-Nya sendiri, tetapi apa yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya. Ia pun akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang akan datang.

14  Ia akan memuliakan Aku, karena Ia akan menerima apa yang berasal dari-Ku, lalu memberitakannya  kepadamu .

(Injil Yahya 16 : 7,13,14 )

Saat-saat terakhir menjelang Isa terangkat naik ke surga, kembali Isa mengulangi bahwa para pengikut-Nya akan menerima Ruh Allah yang dijanjikan itu. Bahkan Isa menggunakan istilah : para pengikut-Nya akan dibaptis atau dipermandikan dengan Ruh Allah (Kisah Para Rasul 1 : 5,8,9).

5. Karena nabi Yahya mempermandikan dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dipermandikan dengan Ruh Allah.

8. Akan tetapi kamu akan menerima kuasa, apabila  Ruh Allah  datang  ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem, di seluruh Yudea dan Samaria, bahkan sampai ke ujung bumi.”

9  Setelah bersabda demikian, Isa terangkat naik ke Surga, disaksikan oleh rasul-rasulNya. Tiba-tiba ada awan yang meliputi-Nya sehingga Ia lenyap dari penglihatan mereka.

(Kisah Para Rasul 1 : 5,8,9)

Setelah Isa naik atau kembali ke surga, para pengikut berkumpul untuk menunggu turunnya Ruh Allah yang dijanjikan itu. Pada hari yang ke sepuluh setelah Isa naik ke surga, Ruh Allah turun dan masuk serta tinggal didalam diri para pengikut Isa tersebut (Kisah Para Rasul 2 : 1-4)

1   Ketika tiba hari Pentakosta, mereka semua sedang berada  bersama di satu tempat.

2  Tiba-tiba terdengar dari langit bunyi yang keras seperti bunyi angin menderu. Seluruh tempat mereka berkumpul , dipenuhi bunyi itu

Lalu mereka melihat sesuatu yang  rupanya  seperti  lidah-lidah api, bertebaran dan hinggap diatas mereka masing-masing.

Mereka semua dikuasai Ruh Allah, lalu mulai berbicara dalam bahasa-bahasa lain, menurut apa  yang diberikan Ruh Allah kepada mereka untuk dikatakan.

(Kisah Para Rasul 2 : 1-4)

Sang Penolong atau Ruh Allah telah datang atau turun pada hari yang ke lima puluh setelah kematian Isa, yaitu pada hari Pentakosta. Ruh Allah turun ke atas para pengikut Isa yang telah menerima janji tersebut. Sejak menerima Ruh Allah,  para pengikut Isa menjadi berubah. Mereka menjadi memiliki kuasa. Mereka berkhotbah dengan penuh kuasa ilahi. Mereka jadi dapat membuat mukjizat-mukjizat seperti : menyembuhkan orang-orang sakit dengan menyebut nama Isa, mengusir setan-setan dengan menyebut nama Isa, menghidupkan (membangkitkan) orang mati dengan menyebut nama Isa, serta banyak mukjizat lainnya.

Isa  juga mengatakan bahwa Ruh Allah akan menyertai para pengikut-Nya selama-lamanya. Artinya sampai hari kiamat, bahkan sampai selama-lamanya Ruh Allah akan menyertai para pengikut Isa. Memiliki Ruh Allah juga berarti tanda sah (meterai) bahwa orang tersebut adalah milik Allah (Rum 8 : 14-16 , Efesus 1 : 13).

14  Jadi, semua orang yang dipimpin Ruh Allah adalah anak-anak Allah. 

15  Kamu tidak menerima ruh perhambaan sehingga kamu menjadi takut lagi. Tetapi kamu telah menerima Ruh yang mengangkat kamu sebagai anak Allah, dan dengan Ruh itu kita dapat berseru: “Ya Abba, ya Bapa!” 

16  Bersama-sama dengan ruh kita, Ruh itu memberi kesaksian bahwa kita adalah anak-anak Allah.

 (Rum 8 : 14-16)

13. Di dalam Al-Masih itupun kamu telah disegel dengan Ruh Allah yang dijanjikan-Nya ketika kamu mendengar firman kebenaran, yaitu Injil yang menyelamatkan kamu, dan ketika kamu percaya.

(Efesus 1 : 13)

Dari semua uraian Alkitab di atas sangat jelas bahwa “seorang Penolong yang lain” yang disebutkan Isa dalam Injil Yahya 14 : 16,17,25,26 tersebut adalah Ruh Kebenaran atau Ruh Allah. Ruh Kebenaran tersebut telah datang atau telah turun pada awal tahun Masehi. Tepatnya lima puluh hari setelah kematian Isa atau sepuluh hari setelah Isa naik ke surga. Jadi “seorang Penolong yang lain” tersebut bukanlah Muhammad SAW. Muhammad SAW adalah seorang manusia, bukan Ruh. Muhammad SAW juga baru muncul 600 tahun setelah kepergian Isa kembali ke surga. Satu selisih waktu yang terlalu lama. Pada saat Muhammad SAW muncul, para pengikut Isa yang menerima janji tersebut sudah lama meninggal dunia.

Kami mencoba mendalami lebih jauh mengenai Ruh Allah.  Alkitab mengatakan bahwa kalau Ruh Allah masuk dan berdiam di dalam diri seseorang, orang tersebut akan berubah. Budi bahasanya menjadi baru. Diperbaharui oleh Ruh Allah. Tabiat atau karakternya menjadi baru. Tabiat dosa yang sebelumnya ada dalam diri orang tersebut diubah oleh Ruh Allah dari dalam. Perubahan tersebut sekaligus merupakan pertanda bahwa seseorang sudah memiliki Ruh Allah (Rum 8 : 9 ; Galatia 5 : 16-25).

9  Namun kamu tidak hidup dalam keduniawian, melainkan dalam Ruh,  jika Ruh Allah benar-benar ada di dalam dirimu. Jika seseorang tidak memiliki Ruh Al-Masih, ia bukan milik Al-Masih.

(Rum 8 : 9)

 16  Maksud dari perkataanku itu adalah : Biarkanlah Ruh memimpin kamu,  maka keinginan duniawimu   tidak akan kamu penuhi.

 (Galatia 5 : 16)

(Khusus mengenai pembaharuan serta perubahan tabiat yang dialami pengikut Isa, kami sudah mengulasnya dalam tulisan yang berjudulPenghapusan Dosa : Menurut Al-Qur’an dan Alkitab” ).

Isa menjanjikan bahwa setiap orang yang mau percaya serta taat kepada perkataan-Nya akan menerima Ruh Allah. Ruh Allah atau Ruh Kebenaran akan masuk dan berdiam didalam diri orang tersebut. Ruh Allah akan membimbing, mengajari dan bahkan mengubah orang tersebut.

wolfinsheepsclothing2KEDUA     :  Sang nabi palsu

Isa mengatakan bahwa satu saat nanti akan datang nabi-nabi palsu (Injil Matius 24 : 11 ; 2 Petrus 2 : 1 ; 1 Yahya 4 : 1 ; 1 Yahya 2 : 18 ; 1 Yahya 2 : 22 ; 1 Yahya 4 : 3 ; 2 Yahya 1 : 7).

(Sabda Isa) Nabi-nabi palsu akan bermunculan dan banyak orang akan mereka sesatkan.

(Injil Matius 24 : 11)

(Sabda Isa) Dahulu telah muncul nabi-nabi palsu di antara umat Allah. Kelak di antara kamu pun  akan ada guru-guru palsu. Dengan cara sembunyi-sembunyi, mereka akan memasukkan ajaran-ajaran sesat yang memimpin orang pada kebinasaan.  Mereka pun akan menyangkal Sang Penguasa yang telah menebus mereka, sehingga dengan segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka.

(2      Petrus 2 : 1)

Hai saudara-saudaraku yang kukasihi, janganlah kamu mempercayai  setiap ruh, melainkan  ujilah  setiap ruh itu apakah mereka berasal dari Allah, karena banyak nabi palsu menyebar  ke seluruh dunia.

(1 Yahya 4 : 1)

Isa mengatakan bahwa setelah Isa akan muncul nabi-nabi palsu. Nabi-nabi palsu tersebut akan :

  1. Menyesatkan banyak orang.
  2. Menyangkal Sang Penebus atau Sang Juruselamat.

KETIGA    :  Dajjal, yang disebut juga sebagai Antikristus atau Penentang Al-Masihdajjal

Rasul Yahya, seorang murid Isa menerima pewahyuan tentang akan datangnya Dajjal. Dajjal itu disebut juga sebagai Antikristus atau Penentang Al-Masih (1 Yahya 2 : 18 ; 1 Yahya 2 : 22 ; 1Yahya 4 : 3 ; 2 Yahya 1 : 7).

Hai anak-anakku, inilah akhir zaman, dan seperti yang kamu dengar bahwa Dajjal, penentang Al-Masih itu, kelak akan datang. Sekarang pun telah bermunculan para penentang Al-Masih. Oleh sebab itulah kita mengetahui bahwa ini adalah akhir zaman.

(1 Yahya 2 : 18)

Siapakah pembohong selain orang yang menyangkal bahwa Isa itu adalah Al-Masih? Orang yang  menyangkal Sang Bapa dan  Sang Anak, dialah penentang Al-Masih.

(1 Yahya 2 : 22)

Tetapi setiap ruh yang tidak mengakui Isa, tidak berasal dari Allah. Ruh itu adalah ruh si Dajjal, penentang Al-Masih. Tentang dia  kamu sudah  mendengar bahwa kelak ia akan datang, dan memang sekarang pun  ia sudah ada di dalam dunia.

(1Yahya 4 : 3)

7. Banyak penipu muncul dan menyebar ke seluruh dunia, yaitu orang-orang yang tidak mengakui bahwa Isa telah datang dalam keadaan sebagai manusia. Orang-orang demikian itu adalah penipu, penentang-penentang Al-Masih.

(2 Yahya 1 : 7)

Dikatakan akan datang Dajjal yang disebut juga sebagai Penentang Al-Masih atau Antikristus. Dajjal akan :

  1. Menentang Isa Al-Masih
  2. Menyangkal atau tidak mengakui Isa sebagai Al-Masih atau Kristus atau Juruselamat yang Diurapi.
  3. Tidak mengakui bahwa Isa telah turun (nuzul) sebagai manusia.

Dari kajian yang kami lakukan terhadap Alkitab tersebut kami temukan bahwa yang akan datang setelah Isa adalah :

  1. Sang Penolong (sumber : sabda Isa).
  2. Sang nabi palsu (sumber : sabda Isa).
  3. Dajjal atau Antikristus atau Penentang Al-Masih (sumber : pewahyuan yang diterima rasul Yahya, seorang murid Isa Al-Masih).

Sementara itu kami tidak menemukan satu ayatpun d idalam Alkitab dimana Isa Al-Masih mengatakan bahwa sesudah Isa akan datang seorang rasul bernama Ahmad atau Muhammad.

Selanjutnya kita lihat Qs.7 Al A’raaf 157 :

157. (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.

(Qs. 7 Al A’raaf 157, sumber: Lidwa Pusaka)

Qs. 7 Al A’raaf 157  mengatakan bahwa di dalam Taurat dan Injil ada tertulis mengenai seorang rasul atau nabi yang ummi (yang tidak bisa baca tulis) yang akan muncul. Maksud dari surat Al‐A’raaf ayat 157 tersebut adalah bahwa nabi Musa ada meramalkan dalam Alkitab bahwa seorang rasul atau nabi yang ummi (yang tidak bisa baca tulis) akan datang. Al-Qur’an mengklaim bahwa nabi atau rasul yang diramalkan oleh nabi Musa tersebut adalah Muhammad SAW.  Kamipun langsung menelusuri seluruh isi Alkitab. Ternyata tidak ada satu ayatpun yang menyebutkan akan datang seorang rasul atau nabi yang ummi (yang tidak bisa baca tulis) seperti yang dimaksud Al-Qur’an tersebut. Yang ada adalah nabi Musa meramalkan didalam Ulangan 18 : 15,18 bahwa akan datang seorang Nabi seperti nabi Musa, yang berasal dari antara orang Israel.

Seorang nabi dari tengah-tengahmu , dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan.

(Ulangan 18 : 15)

Nabi Musa meramalkan, akan datang seorang nabi dari tengah-tengah orang Israel, dari antara suku-suku Israel, yang sama seperti nabi Musa. Apa maksudnya : “sama seperti Musa”? Sama seperti Musa berarti : sama-sama orang Israel, sama-sama banyak melakukan mukjizat atau keajaiban supranatural, dan masih banyak lagi.

Allah bersabda kembali didalam Ulangan 18 : 18 bahwa Allah akan membangkitkan seorang Nabi dari tengah‐tengah orang Israel. Allah akan menaruh Firman‐Nya di mulut Nabi tersebut.

 18  seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.

(Ulangan 18 : 18)

Kalau kita membaca seluruh isi Alkitab, khususnya Injil, maka kita akan melihat bahwa nabi yang diramalkan oleh nabi Musa dalam Ulangan 18 : 15, 18 tersebut mengacu kepada Isa Al‐Masih. Isa Al-Masih datang ribuan tahun setelah zaman nabi Musa. Sama seperti nabi Musa,  Isa berasal dari tengah-tengah orang Israel (Isa merupakan keturunan Yudah). Sama seperti nabi Musa, Isa sangat banyak melakukan mukjizat atau keajaiban supranatural. Khusus mengenai melakukan mukjizat ini, Al-Qur’an memperlihatkan bahwa Muhammad SAW tidak pernah melakukan mukjizat atau keajaiban sebagaimana yang dilakukan oleh nabi Musa maupun Isa. Mengenai mukjizat ini sudah kami ulas panjang lebar dalam tulisan kami berjudul : Allah bersumpah demi bintang, demi malam, demi subuh (QS 81 At Takwir:15-25). Lalu sama seperti Musa, Isa juga bisa baca tulis. Selanjutnya, sama seperti Musa, Isa menghabiskan hampir seluruh hidupnya diantara bangsa Yahudi.

Selanjutnya didalam Ulangan 18 : 15 dinyatakan kehendak Allah mengenai nabi yang akan datang tersebut, yaitu bahwa : “dialah yang harus kamu dengarkan”.  Allah berkehendak bahwa nabi yang akan datang tersebut “harus didengarkan oleh umat”. Kehendak Allah ini digenapi atau dipenuhi oleh Isa. Pada saat Isa dipermuliakan diatas sebuah gunung, turun awan dari langit. Dari dalam awan terdengar suara Allah yang mengatakan bahwa Isa harus didengarkan (Injil Markus 9 : 7 ; Injil Lukas 9 : 34,35).

Kemudian turunlah awan menaungi mereka dan terdengarlah suara dari awan itu: “Inilah Sang Anak yang Kukasihi. Dengarkanlah Dia.”

(Markus 9 : 7)

Di dalam Ulangan 18 : 18 tersebut Allah juga mengatakan : “Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.” Pewahyuan tersebut telah digenapi atau dipenuhi didalam diri Isa. Didalam Injil Yahya 7 : 16-17 Isa  mengatakan bahwa perkataan atau ajaran yang keluar dari mulut-Nya adalah berasal dari Allah. Kebenaran tersebut didukung lagi oleh Injil Yahya 8 : 28,38.

16  Lalu sabda Isa kepada mereka, “Ajaran-Ku bukan dari diri-Ku sendiri, melainkan dari Dia yang telah mengutus Aku.

17  Jika seseorang mau melakukan kehendak-Nya, maka  ia akan tahu apakah ajaran ini berasal dari Allah atau dari diri-Ku sendiri.

(Yohanes 7 : 16-17)

 28  Lalu sabda Isa, “Apabila kamu sulah meninggikan Anak Manusia, pada saat itulah kamu akan tahu bahwa Akulah Dia. Kamu pun akan tahu bahwa tidak ada satu pun yang kulakukan atas kehendak diri-Ku sendiri.  Seperti  diajarkan Sang Bapa kepada-Ku, demikianlah hal-hal itu Kukatakan.

38  Aku berkata-kata tentang apa yang Kulihat pada Sang Bapa. Kamupun demikian. Kamu melakukan apa yang kamu dengar dari bapamu.”

(Yohanes 8 : 28,38)

Dari semua uraian di atas dapat kita lihat bahwa nabi yang dimaksud dalam ramalan Musa itu adalah Isa Al-Masih, bukan Muhammad SAW.

Sebagai yang terakhir, namun sangat penting, kami menemukan bahwa Injil Yahya 5 : 46,47 sangat jelas mengatakan bahwa ramalan nabi Musa tersebut adalah mengenai Isa. Didalam ayat tersebut Isa sendiri berkata bahwa ramalan yang ditulis oleh nabi Musa itu adalah mengenai diri-Nya.

46  (Sabda Isa) Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia (Musa) telah menulis tentang Aku.

47  Tetapi jikalau kamu tidak percaya akan apa yang ditulisnya (Musa), bagaimanakah kamu akan percaya akan apa yang Kukatakan?”

(Yohanes 5 : 46,47)

Dalam ayat di atas Isa mengatakan bahwa nabi Musa telah menulis tentang diri-Nya (diri Isa). Kalau kita meneliti semua perkataan serta pelayanan nabi Musa di sepanjang hidupnya, nabi Musa hanya pernah satu kali berbicara atau menulis tentang seseorang yang akan datang. Yaitu dalam Ulangan 18 : 15,18 tersebut.  Dari perkataan Isa di atas sangat jelas dan tegas bahwa nabi yang akan datang yang diramalkan oleh nabi Musa tersebut adalah Isa Al-Masih.

Kebenaran tersebut didukung pula oleh pewahyuan ilahi lainnya. Rasul Petrus, seorang murid Isa, didalam khotbahnya menyampaikan pewahyuan ilahi. Pewahyuan tersebut bersifat menggenapi atau memenuhi ramalan nabi Musa dalam Ulangan 18 : 15,18 tersebut. Pewahyuan tersebut menegaskan bahwa nabi yang akan datang yang diramalkan nabi Musa adalah Isa Al-Masih (Kisah Para rasul 3 : 20-22, 26)

20.  sehingga kamu akan mengalami masa kelegaan oleh kehadiran-Nya. Juga supaya Ia mengutus kepadamu Isa, yang sejak semula ditentukan-Nya menjadi Al-Masih bagimu.

21.  Al-Masih harus tetap di surga sampai tiba saatnya Allah membuat segala-galanya menjadi baru, seperti yang disabdakan-Nya dahulu kala melalui nabi-nabinya yang suci.

22  Bukankah Nabi Musa telah berkata, “Allah, Tuhanmu, akan mengangkat bagimu seorang nabi dari antara bangsamu seperti Ia mengangkat aku. Turutilah semua yang dikatakannya kepadamu.

26.  Jadi, bagi kamulah pertama-tama Allah mengangkat dan mengutus Sang Anak yang datang daripada-Nya, supaya Ia melimpahkan berkah-Nya kepadamu dengan membuat kamu bertobat dari cara hidupmu yang jahat.”

(Kisah Para rasul 3 : 20-22, 26)

Dari perkataan Isa maupun pewahyuan yang diterima oleh rasul Petrus tersebut sangat jelas dan tegas bahwa nabi yang akan datang yang diramalkan oleh nabi Musa tersebut adalah Isa Al-Masih. Ramalan nabi Musa tersebut sudah digenapi oleh Isa pada awal tahun Masehi.

Kalaupun 600 tahun setelah itu (600 tahun kemudian) ada yang mengklaim bahwa ramalan nabi Musa tersebut ditujukan untuk Muhammad SAW, klaim tersebut sangat sulit untuk dibenarkan. Injil Yahya 5 : 46,47 serta Kisah Para rasul 3 : 20-22, 26 sangat jelas dan tegas menyebutkan bahwa Nabi yang diramalkan akan datang itu adalah Isa. Kalau kita simak Ulangan 18 : 15,18 tersebut maka akan jelas terlihat bahwa jumlah nabi yang diramalkan akan datang adalah satu orang. Bukan dua orang nabi. Jadi sangat sulit untuk menerima klaim yang muncul 600 tahun kemudian yang mengatakan bahwa yang diramalkan tersebut adalah Muhammad SAW. Yang diramalkan nabi Musa adalah “seorang nabi”, bukan dua orang nabi. Nabi yang diramalkan tersebut adalah Isa Al-Masih.  

Sekali lagi kami mau mengulangi bahwa didalam Alkitab tidak pernah nabi Musa berbicara mengenai akan datangnya nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) tersebut. Kami juga tidak menemukan satu ayatpun dalam Alkitab yang berbicara ataupun meramalkan tentang akan datang seorang nabi bernama Ahmad ataupun Muhammad.

Kalaupun seandainya ramalan itu ada, kami pikir itu baik. Agar umat Muslim dan umat Nasrani sama-sama senang dan sama-sama bahagia. Tentu keberadaan Muhammad SAW sebagai seorang nabi juga akan menjadi semakin sah kalau ramalan tersebut benar-benar ada didalam Alkitab. Al-Qur’an juga akan terluput dari didakwa berdusta. Sebab kalau ramalan atau pewahyuan tersebut tidak ada, dapat terjadi bahwa Qs. Ash-Shaff 6 akan digugat bohong atau kosong. Sebagai akibatnya Al-Qur’an dapat dituduh tidak benar. Sekaligus juga dapat terjadi bahwa status kenabian Rasulullah SAW akan diragukan orang. Namun kami harus jujur untuk mengatakan bahwa perkataan Isa maupun Musa seperti yang dimaksud oleh Al-Qur’an tersebut sungguh tidak ada didalam Alkitab.

RAMALAN ATAU PEWAHYUAN MENGENAI KEDATANGAN ISA

Selanjutnya kami mau menyelidiki ada tidaknya ramalan atau pewahyuan mengenai kedatangan Isa Al-Masih. Kami menemukan bahwa semua peristiwa yang dialami Isa tidak terlepas dari kehendak Allah. Mulai dari peristiwa kelahiran Isa ke dunia, peristiwa penderitaan-Nya hingga peristiwa kematian-Nya, semuanya sudah diramalkan atau diwahyukan ribuan tahun sebelumnya oleh nabi-nabi terdahulu. Diantaranya :

  1. Nabi Mikha meramalkan bahwa Isa akan lahir di Betlehem (Mikha 5 : 1),

Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil diantara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.

(Mikha 5:1)

 Ramalan atau nubuatan nabi Mikha tersebut digenapi atau dipenuhi dengan lahirnya Isa di Betlehem (Injil Matius 2 : 1-6)

1 Isa lahir di Baitlahim (Betlehem), wilayah Yudea, pada masa pemerintahan raja Herodes.Lalu  datanglah beberapa  orang majusi dari Timur ke kota Yerusalem.

2 Mereka bertanya-tanya,  “Di manakah raja bani Israil yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk sujud di hadapan-Nya.”

3  Ketika hal itu didengar oleh raja Herodes, terkejutlah ia dan juga semua orang yang tinggal di Kota Yerusalem.

4  MakaKarena itu Herodes mengumpulkannya semua imam kepala dan para ahli Kitab Suci Taurat bani Israil. Lalu ia menanyakan kepada mereka di mana Al-Masih dilahirkan.

5  Jawab mereka,  berkata kepadanya: “Di Baitlahim, kota di wilayah Yudea. Karena demikianlah telah dikatakan dalam tulisan nabi,

6  Hai Baitlahim, kota di wilayah Yuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yuda. Karena dari padamulah akan muncul seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israil.”

(Injil Matius 2 : 1-6)

 2. Nabi Yesaya meramalkan atau menubuatkan bahwa Isa akan lahir dari seorang perempuan perawan (Yesaya 7 : 14),

14. Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.

(Yesaya 7 : 14)

Ramalan atau nubuatan nabi Yesaya tersebut digenapi dengan hamilnya Maryam (ibu Isa) yang masih perawan dan belum pernah disentuh laki-laki (Lukas 1 : 30-35, Matius 1 : 18-25)

18  inilah riwayat kelahiran Isa Al-Masih . Ketika Maryam, ibu-Nya masih  bertunangan dengan Yusuf, ternyata Maryam telah  mengandung karena kuasa Ruh Allah, walaupun Maryam  dan Yusuf belum melakukan  hubungan suami isteri.

19  Karena Yusuf tunangannya, adalah orang yang bertakwa dan berahlak serta  tidak berniat mempermalukan  Maryam, maka ia bermaksud memutuskan hubungannya dengan Maryam secara diam-diam.

20  Tetapi sementara  ia memikirkan hal itu, malaikat Tuhan memperlihatkan diri kepadanya dalam mimpi , Malaikat itu berkata , “Hai  Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut  menerima Maryam sebagai istrimu, karena anak yang ada di dalam kandungannya itu dari Ruh Allah.

21  Ia akan melahirkan seorang anak laki-laki dan engkau harus menamai-Nya Isa, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa  mereka.”

22 Semua itu terjadi supaya genaplah firman yang telah  disampaikan Tuhan  melalui  nabi-Nya.

23  “Lihatlah ! Seorang anak dara akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Orang  akan menyebut-Nya Immanuel,”  yang artinya: Allah beserta kita.

24  Yusuf terbangun dari tidurnya, lalu dilakukannya apa  yang diperintahkan oleh malaikat Tuhan . Ia menerima Maryam sebagai isterinya,

25 Meskipun begitu, ia tetap tidak melakukan   hubungan sebagai suami isteri  dengannya sampai Maryam  melahirkan. Kemudian setelah anak itu lahir, Yusuf menamai-Nya Isa.

(Matius 1:18-25)

3. Ratusan tahun sebelum Isa lahir, Allah telah berfirman melalui nabi Yesaya mengenai rencana kedatangan Isa ke dunia. Nabi Yesaya meramalkankan bahwa Isa yang akan datang akan menderita sengsara. Dia akan dianiaya, dihina dan dihindari orang. Namun Dia membiarkan diri-Nya ditindas. Dia tidak pernah mengeluh, tidak mau melawan. Dia tidak pernah membuka mulut-Nya untuk membantah. Dia rela menderita karena kita. Dia datang untuk memikul dosa dan kejahatan kita. Dia menanggung hukuman yang seharusnya kita tanggung. Dia ditikam, diremukkan. Dia kena tulah. Dia ditimpa kutuk. Seharusnya kitalah yang dihukum Allah. Tetapi hukuman tersebut dipindahkan dan ditimpakan kepada Isa agar kita selamat (Yesaya 53 : 2-7).

2  Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya.

3  Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan.

4  Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.

5  Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.

6  Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.

 7  Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.

(Yesaya 53 : 2-7)

Ramalan atau nubuatan nabi Yesaya tersebut digenapi dalam Perjanjian Baru dalam 1 Petrus 2 : 23-24 :

23  Ketika Ia (Isa) dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.

24  Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.

(1 Petrus 2 : 23-24)

4. Nabi Yesaya juga telah meramalkan bahwa dalam matinya, Isa ada diantara penjahat-penjahat (Yesaya 53 : 9).

9  Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya.

(Yesaya 53 : 9)

 

Ramalan nabi Yesaya tersebut digenapi pada saat penyaliban Isa (Yesus) (Lukas 23 : 33, 46).

33. Setelah sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Isa di sana bersama kedua penjahat, seorang di sebelah kanan-Nya dan seorang lagi di sebelah kiri-Nya.

46. Kemudian dengan suara nyaring Isa berseru, Ya Bapa, kedalam tangan-Mu kuserahkan nyawa-Ku.” Sesudah bersabda demikian, Ia menghembuskan nafas terakhir.

 (Lukas 23 : 33,46)

Masih ada lagi pewahyuan atau ramalan para nabi terdahulu yang meramalkan bahwa Isa akan datang. Tidak semua kami kutip disini. Nanti terlalu panjang.

Jadi semua peristiwa yang dialami Isa sudah diwahyukan Allah jauh-jauh hari sebelumnya. Isa akan diutus ke dunia untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa serta kehancuran akibat dosa. Para nabi sudah menubuatkan atau meramalkan bahwa Isa akan mengorbankan diri-Nya (boleh juga jika mau disebutkan : dikorbankan Allah) di bumi. Para nabi jauh-jauh hari sudah meramalkan bahwa Isa akan menanggung tulah atau kutuk akibat Dia memikul dosa umat manusia. Dia kena tulah (menjadi terkutuk) karena Dia mengambil alih dosa umat-Nya kepada diri-Nya. Hukuman karena dosa yang seharusnya dipikul oleh orang-orang berdosa dipindahkan Allah kepada diri-Nya. Allah berkehendak agar Dia dikorbankan dan dibunuh di kayu salib.  Dia akan mati secara terkutuk. Dia akan digantung diantara penjahat-penjahat. Dia akan disejajarkan dengan para penjahat tersebut. Padahal seumur hidup-Nya Dia tidak pernah sekalipun berbuat dosa atau kejahatan. Semua itu Dia terima dengan rela karena Dia mengasihi kita.

Allah mengorbankan Isa karena Allah mengasihi umat manusia yang berdosa dan berkehendak menyelamatkan mereka. Isa disediakan Allah sebagai solusi bagi dosa dan hukuman. Isa disediakan sebagai kurban pengganti. Barangsiapa yang mau percaya kepada Isa, menerima Isa serta taat kepada Isa, dosa-dosanya akan diampuni dan diselamatkan dari hukuman. Inilah informasi mengenai siapa Isa menurut Alkitab.

 Dari hasil pengkajian yang kami lakukan kami dapatkan bahwa :

1. Tidak ada satu pun ramalan atau pewahyuan ilahi yang mendahului kedatangan Muhammad SAW.
2. Sangat banyak pewahyuan atau ramalan yang mendahului kedatangan Isa Al-Masih.

Demikian hasil pengkajian kami. Kami menyadari bahwa hasil pengkajian kami ini masih sangat jauh dari sempurna. Masukan yang membangun, logis dan ilmiah dari para pembaca sangat kami butuhkan untuk menyempurnakannya.

Bagi pembaca yang ingin menambahkan atau berkomentar, tentunya dengan alasan yang logis dan berbobot serta isinya berkaitan dengan topik yang disajikan, silahkan dapat mengirim komentarnya dengan mengisi kolom komentar di bawah ini. Hanya komentar logis yang berkaitan dengan isi dan topik yang dapat kami sajikan. Mohon maaf sebelumnya dan terima kasih.

Dimana Letak Jawabannya? Pengkajian terhadap Al Quran, Hadist, dan Alkitab
Download e-book “Dimana Letak Jawabannya? Pengkajian terhadap Al Quran,
Hadist, dan Alkitab dengan meng-klik gambar di atas

6 Comments

Filed under Uncategorized

Penghapusan Dosa: menurut Al Quran dan Alkitab

 

1935693

Apa benar dosa bisa dihapus dengan amalan ? Apa sesungguhnya menurut Al Quran dan Alkitab…

Di antara agama-agama besar di bumi, agama Islam dan Kristen memiliki pandangan yang sangat berbeda dari agama lainnya mengenai dosa, surga dan neraka. Agama Islam dan Kristen percaya akan adanya dosa, adanya hukuman siksaan di neraka yang kekal, serta adanya kehidupan yang kekal di surga. Paham seperti itu tidak dikenal didalam ajaran agama Hindu maupun Buddha. Agama Hindu dan Buddha percaya akan adanya reinkarnasi atau kehidupan baru atau kelahiran kembali yang berlangsung terus-menerus hingga tercapai kesempurnaan.

Di dalam tulisan ini kami mau memberi sorotan terhadap ajaran serta keyakinan umat Islam maupun umat Nasrani. Kami melakukan ini karena kami melihat hanya didalam kedua agama tersebutlah dosa menjadi faktor penentu yang mutlak, yang langsung mem”vonnis” nasib seseorang. Orang yang berdosa akan dimasukkan kedalam neraka, disiksa selama-lamanya dan tidak punya kesempatan lagi untuk memperbaikinya (Al-Qur’an : Qs. 20 Thaahaa 74 ; Qs. 2 Al-Baqarah 81 ; Qs. 3 Ali Imran 192 ; Alkitab : Injil Yahya 3 : 36 ; 5 : 28 dan 29 ; Rum 6 : 23 ; Ibrani 9 : 27).

74. Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahannam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.

(Qs. 20 Thaahaa 74, sumber : Lidwa Pusaka)

 81. (Bukan demikian), yang benar: barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

(Qs. 2 Al-Baqarah 81, sumber : Lidwa Pusaka)

192. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.

(Qs. 3 Ali Imran 192, sumber : Lidwa Pusaka)

 36  Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.”

(Injil Yahya 3 : 36)

 23  Sebab upah dosa ialah maut; …

(Rum 6 : 23)

 28  Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya (suara Isa),

29  dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.

(Injil Yahya 5 : 28,29)

 27. Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi,

(Ibrani 9 : 27)

 Ayat-ayat Al-Qur’an dan Alkitab di atas sangat jelas dan tegas menyebutkan bahwa orang-orang yang berbuat dosa atau memiliki dosa akan dimasukkan kedalam neraka jahannam. Orang tersebut akan disiksa kekal atau selama-lamanya di neraka. Di neraka dia tidak mati dan tidak pula hidup.

Kita melihat bahwa “dosa” merupakan faktor yang sangat menentukan nasib seseorang. Dosa akan membawa seseorang ke neraka. Di dalam konsep agama Islam, dosa sekecil apapun akan menggagalkan seseorang untuk dapat menyeberangi jembatan Ash-shirath dengan selamat. Dosa, sekecil apapun, akan menyebabkan orang tersebut masuk kedalam neraka jahannam. Di dalam konsep agama Kristen juga sama. Dosa, sekecil apapun, akan menyebabkan orang dilemparkan kedalam neraka. Allah itu sangat suci. Allah Maha Suci. Dosa atau orang berdosa tidak mungkin dapat berdekatan dengan Allah. Sifat keduanya bertolak-tolakan. Orang berdosa akan terlempar jauh dari Allah. Tempatnya adalah di neraka.

Siapa yang mau masuk neraka? Tidak seorangpun. Semua orang yang beragama dan yang mempercayai ada surga dan ada neraka pasti ingin menghindari  neraka. Tidak terkecuali orang-orang jahat. Apalagi orang-orang yang bertakwa. Semua merasa ngeri kalau sampai masuk neraka.

Masuk neraka itu sangat tidak enak. Tidak seorangpun sanggup menahankan rasa sakit api neraka. Tubuh kita dibakar dan api menyala dari tubuh kita. Apinya tidak pernah padam. Rasa sakitnya tentu tak terkatakan dengan bahasa bumi. Jeritan serta lolongan yang menyayat hati akan terus-menerus terdengar dari orang-orang yang sekarat tetapi tidak mati-mati.

Penyebab seseorang masuk neraka adalah dosa. Dosa merupakan faktor penentu yang mutlak. Jadi, apabila seseorang ingin selamat dari siksaan neraka serta mau masuk surga, dosa tidak boleh ada lagi dalam diri orang tersebut. Dosa yang ada dalam dirinya harus dibersihkan. Hingga bersih total. Bersih 100 persen. Ingat, dosa sekecil apapun akan menyebabkan seseorang dimasukkan kedalam neraka.

Hapus-dosaBagaimana caranya agar dosa dapat dibersihkan total atau 100 persen? Mungkinkah dosa dibersihkan total hingga tidak bersisa? Ini bukan perkara main-main. Ini sangat penting. Ini menyangkut nasib kekal. Selamat masuk ke surga kekal, atau disiksa di neraka kekal.

Karena keingintahuan akan hal ini, kami mencoba mempelajari Al-Qur’an serta Alkitab (Kitab Suci umat Nasrani) untuk menemukan jawabannya. Kami memilih Al-Qur’an sebagai sumber referensi karena  Al-Qur’an adalah perkataan atau sabda Allah SWT sendiri. Kami menganggap Al-Qur’an lah yang paling valid atau otentik sebagai bahan referensi mengenai ajaran dan keyakinan umat Muslim. Kadang-kadang kami cantumkan juga dukungan Hadis yang merupakan penuturan para sahabat Rasulullah SAW. Sementara untuk ajaran dan keyakinan umat Nasrani, kami memilih Alkitab sebagai bahan referensi yang valid atau otentik. Kami tidak menggunakan buku-buku lain yang derajatnya dibawah itu seperti : buku mengenai sejarah, buku yang menuliskan pendapat atau pikiran manusia, dan lain-lain. Khusus untuk tulisan ini, kami tidak menggunakan buku-buku tersebut karena menurut pendapat kami perkataan atau kalimat Allah jauh lebih tinggi derajatnya dari perkataan ataupun pendapat manusia. Kami gunakan sumber yang paling valid atau otentik. Sebagai hasilnya, kami dapatkan bahwa : Al-Qur’an dan Hadis kurang begitu jelas dan tidak terlalu tegas berbicara mengenai bagaimana agar dosa dapat dihapus atau dibersihkan. Sementara Alkitab terlihat lebih jelas dan lebih tegas membicarakan hal tersebut.

Kami mulai dengan Al-Qur’an dan Hadis. Al-Qur’an dan Hadis menjelaskan bahwa amalan agama yang dikerjakan oleh umat Muslim dimaksudkan untuk mendapatkan pengampunan bagi dosa-dosa kecil :

31. Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)

 (QS 4 An-Nisa ayat  31, sumber: Lidwa Pusaka)

“Shalat lima waktu. Ibadah Jum’at yang satu dengan ibadah Jum’at berikutnya. Itu semua merupakan penghapus dosa antara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhi.”

(Hadis Shahih Muslim no. 342, sumber Lidwa Pusaka)

Jadi, shalat lima waktu dan ibadah Jum’at yang dikerjakan umat Muslim dengan tekun, hanya dapat menghapus dosa-dosa kecil, selama dosa besar tidak dilakukan. Sementara bagi dosa-dosa besar yang telah terlanjur dilakukan, solusinya tidak begitu jelas. Apakah itu berarti bahwa dosa-dosa besar tidak mungkin diampuni? Apakah itu berarti bahwa seorang yang pernah melakukan dosa besar telah  menerima vonnis untuk masuk neraka, dan tidak ada peluang sedikitpun untuk mengubah “nasibnya” lagi? Kalau dilihat hanya dari sisi ayat Al-Qur’an serta Hadist di atas, memang benar seperti itu. Yaitu, pasti masuk neraka dan tidak mungkin untuk diubah lagi. Namun masih ada ayat-ayat Al-Qur’an lainnya yang menyebutkan bahwa perbuatan baik atau amal saleh seseorang dapat menolongnya untuk diselamatkan. Dikatakan bahwa amal saleh orang beriman akan membawa orang tersebut masuk kedalam surga (Qs. 2 Al Baqarah 82, Qs. 4 An Nisaa’ ayat 57 dan 122, Qs. 19 Maryam 60, Qs. 20 Thaahaa 75, Qs. 85 Al Buruuj 11, serta masih sangat banyak ayat Al-Qur’an yang sejajar).

Al Baqarah 82 : Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.

(Qs. 2 Al Baqarah ayat 82 , sumber : Lidwa Pusaka)

An Nisaa 57 : Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang shaleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai;

(Qs. 4 An Nisaa ayat 57 , sumber : Lidwa Pusaka)

Semua ayat Al-Qur’an tersebut di atas hampir sama bunyi atau isinya, yaitu bahwa orang beriman (umat Muslim) yang mengerjakan amal saleh akan dimasukkan ke dalam surga. Ayat-ayat  tersebut juga mengandung pengertian bahwa amal saleh yang dilakukan oleh orang beriman akan membayar atau menebus dosa-dosa yang telah dia perbuat. Agama Islam mengajarkan bahwa pada hari kiamat kelak, amal saleh setiap orang akan ditimbang di Padang Mahsyar (Yaumul Mizan).

(8) Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.

(9) Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.

(QS. 7 Al A’roof ayat 8 dan 9, sumber: Lidwa Pusaka)

Namun, walaupun ada banyak ayat Al-Qur’an yang mengatakan bahwa amal saleh akan membawa seseorang masuk ke surga, namun tetap saja sangat sulit bagi seorang Muslim untuk dapat yakin bahwa dia akan selamat. Seringkali suara hati nuraninya menuduh serta mengingatkannya akan dosa-dosa yang diperbuatnya. Dia tidak mampu memadamkan suara hati nurani tersebut. Dan dia menyadari betul akan dosa-dosa yang dia perbuat. Hal tersebut membuat dia sulit untuk yakin bahwa dia akan masuk surga. Terlebih kalau dia teringat bahwa dosa yang sangat kecil sekalipun akan menggagalkan seseorang menyeberangi jembatan Ash-Shirath dengan selamat. Pada saat dia mengamati kehidupan pribadinya yang sering berbuat dosa, sangat sulit baginya untuk merasa yakin bahwa dia akan masuk surga. Bahkan Rasulullah SAW sendiripun mengalami keragu-raguan tersebut, sampai-sampai Rasulullah bersabda dalam Hadis-hadis berikut :

“Hadis bersumber dari Jabir : ‘Aku mendengar Nabi SAW bersabda: “Tidak seorangpun dari kalian yang dimasukkan surga oleh amalnya dan tidak juga diselamatkan dari neraka karenanya ; tidak juga aku, kecuali karena rahmat Allah.”

(Hadis Shahih Muslim no. 5042, sumber : Lidwa Pusaka)

“Hadis riwayat Abu Hurairah R.A.: Nabi SAW bersabda: Tidak seorang pun dari kalian yang diselamatkan oleh amalnya. Seseorang bertanya: Tuan juga, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Tidak juga aku, kecuali bila Allah melimpahkan ampunan dan rahmat kepadaku”

(Hadis Shahih Muslim no. 5038, sumber : Lidwa Pusaka)

Melalui Hadis tersebut Rasulullah SAW menegaskan bahwa tidak ada satu orangpun yang akan selamat karena amalnya. Rasulullah menyebutkan : “Tidak seorangpun…” Itu artinya berlaku untuk semua orang. Maksudnya : semua amal saleh, seberapapun banyaknya, seberapapun bobotnya, tidak akan menyelamatkan seorangpun. Bahkan menurut kedua Hadis tersebut, Rasulullah SAW sendiripun tidak akan diselamatkan oleh amal perbuatan yang dikerjakannya selama hidupnya. Ini mengingatkan kita kepada nabi Adam dan isterinya Siti Hawa. Mereka berbuat dosa yaitu memakan buah yang dilarang Allah untuk dimakan. Nabi Adam dan Siti Hawa dihukum Allah. Padahal kalau dipikir-pikir dari segi amal saleh, tentunya amal saleh nabi Adam sangat banyak, jauh melebihi amal saleh yang kita kerjakan. Sementara dosa yang dilakukan nabi Adam, sebagaimana yang kita ketahui hanya satu, yaitu makan buah terlarang. Rasanya dosa tersebut bukanlah dosa yang sangat besar. Nabi Adam tidak pernah mencuri, tidak pernah berzina, tidak pernah membunuh, tidak menyembah berhala atau sihir dan tidak menyekutukan Tuhan. Namun, semua amal saleh beliau yang begitu banyak seolah-olah seperti tidak diperhitungkan Allah hanya karena satu dosa yang beliau lakukan. Beliau tetap kena hukuman Allah. Ini menuntun kita kepada pemahaman bahwa amal saleh memang tidak menyelamatkan sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam Hadis di atas.

Al-Qur’an memperkuat kebenaran tersebut. Dalam Surat 46 Al-Ahqaf ayat 9, Rasulullah SAW mengakui bahwa beliau sendiri belum tahu pasti apa yang akan terjadi dengan dirinya maupun pengikutnya pada hari yang akan datang tersebut.

Katakanlah (Muhammad), “Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul, dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku, dan aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan yang menjelaskan.”

(Qs.  46 Al-Ahqaf  9, sumber : Lidwa Pusaka)

Jika dilihat dari urutan tingkat keimanan dan ketakwaan seorang Muslim, tentulah Rasulullah SAW menduduki anak tangga yang tertinggi. Namun, sebagaimana yang disebutkan oleh ayat di atas, Rasulullah SAW sendiripun tidak mengetahui dengan pasti apa yang akan diperbuat terhadap diri beliau serta para pengikut beliau pada hari yang akan datang tersebut.  Malahan dari Hadis Muslim nomor 5038 dan 5042 di atas kita ketahui bahwa beliau tidak akan diselamatkan oleh amal perbuatannya.

Dari semua uraian di atas dapat kita lihat bahwa Al-Qur’an dan Hadis kurang begitu jelas dan tidak terlalu tegas berbicara mengenai bagaimana agar dosa-dosa dapat dihapus atau dibersihkan 100 persen. Al-Qur’an dan Hadis kurang begitu tegas menjelaskan bagaimana agar kita dapat diselamatkan.

Sekarang kita beralih ke Alkitab (Kitab Suci umat Nasrani). Khusus untuk Alkitab Perjanjian Baru kami akan gunakan Kitab Suci Injil Dwibahasa Indonesia – Yunani, terjemahan 1912. Didalam berbicara mengenai bagaimana agar dosa-dosa dapat dihapus, Alkitab terlihat lebih tegas dan lebih jelas. Kita lihat ayat-ayat berikut :

 18. Marilah, baiklah kita berperkara! — firman TUHAN — Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.

(Yesaya 1 : 18)

Ayat di atas menyebutkan bahwa Allah yang berkarya didalam Alkitab memastikan bahwa dosa seseorang, seberapapun merahnya, seberapapun besarnya, dapat dibuat Allah menjadi putih bersih seperti salju atau bulu domba.

 Tentang Dia (Isa)lah semua nabi memberi kesaksian bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya akan diampuni dosa-dosanya melalui nama-Nya.              

(Kisah Para Rasul 10 : 43)

Dalam Kisah Para Rasul 10:43  di atas Allah mewahyukan bahwa para nabi yang hidup pada zaman sebelum masa Isa Al-Masih telah memberi kesaksian atau bernubuat tentang Isa yang akan datang kemudian. Para nabi sudah bernubuat (menerima wahyu) bahwa barangsiapa percaya kepada Isa yang akan datang itu, akan diampuni dosa-dosanya melalui nama Isa.

27  Setelah  itu diambil Isa sebuah cawan, lalu Ia mengucap syukur. Kemudian Ia memberikannya kepada mereka sambil bersabda : “Minumlah kamu semua dari cawan ini,

28 karena inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan  dosa.     

(Matius 26: 27, 28)

Di dalam Injil Matius 26 : 27,28 di atas Isa Al-Masih mengatakan bahwa darah-Nya yang akan ditumpahkan bertujuan untuk pengampunan dosa.

 

7. Tetapi jikalau  kita hidup didalam terang, seperti Dia (Allah) juga didalam terang, maka kita dapat menjalin persatuan antara seorang  dengan yang lain, dan darah Isa, Sang anak yang datang daripada-Nya , menyucikan kita dari semua dosa.

(1 Yahya 1:7)

Dalam Surat Rasul Yahya yang Pertama ayat ketujuh di atas Allah mewahyukan bahwa darah Isa menyucikan kita dari semua dosa. Maksudnya, darah Isa yang ditumpahkan itu akan menyucikan 100 persen dosa kita.

14. Lebih- lebih lagi darah Al-Masih, - yang oleh Ruh kekekalan telah mempersembahkan diri-Nya, sebagai persembahan yang tidak bercacat bagi Allah ,-akan menyucikan batiniah kita dari semua perbuatan yang sia-sia, supaya kita taat beribadah kepada Allah, Tuhan yang hidup itu.

(Ibrani 9 : 14)

Surat Ibrani ayat 14 di atas kembali menegaskan bahwa darah Isa Al-Masih akan menyucikan batiniah kita dari semua (100 persen) perbuatan yang sia-sia, agar kita dapat taat beribadah kepada Allah.

 23. Sebab semua orang telah berdosa dan tidak dapat mencapai  kemuliaan Allah,

24. tetapi karena anugerah-Nya, mereka dibenarkan dengan cuma-cuma melalui penebusan di dalam Isa Al-Masih

(Surat Rum 3 : 23,24)

Surat Rum di atas mengatakan bahwa semua orang telah berbuat dosa, namun menjadi dibenarkan oleh karena anugerah Allah, yaitu melalui penebusan didalam Isa Al-Masih.

 34,36. Sabda Isa kepada mereka : sesungguhnya Aku berkata kepadamu, siapa berbuat dosa, ia adalah hamba dosa ,… Jika Sang Anak  (Isa) memerdekakan kamu, maka kamu akan benar-benar merdeka.

(Yahya 8 : 34, 36)

Dalam ayat di atas Isa mengatakan bahwa orang yang berdosa atau berbuat dosa akan menjadi hamba dosa. Maksudnya orang tersebut akan diperbudak oleh dosa tersebut. Orang tersebut akan ketagihan melakukan dosa tersebut. Dia tidak dapat melepaskan diri atau memerdekakan dirinya dari ikatan dosa tersebut. Kalau orang tersebut dilepaskan atau dimerdekakan oleh Isa, maka dia akan benar-benar menjadi merdeka atau bebas dari perbudakan dosa tersebut.

 Kita diselamatkan-Nya, bukan karena perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan, melainkan karena  rahmat-Nya melalui kuasa pembasuhan dari kelahiran kembali dan melalui  pembaharuan  oleh Ruh  Allah,

(Titus 3 : 5)

Ayat di atas  mengatakan bahwa seseorang tidak akan diselamatkan oleh perbuatan baiknya. Seseorang selamat karena rahmat Allah, yaitu melalui kuasa pembasuhan dari kelahiran kembali. Maksudnya : dosanya dibasuh atau dibersihkan oleh darah Isa sehingga dia menjadi manusia yang baru, yang diperbaharui oleh Ruh Allah.

Catatan : Surat Titus 3:5 di atas mengingatkan kita akan Hadis Shahih Muslim no. 5042 yang sudah kita bahas sebelumnya. Seolah seperti ada keterkaitan di antara keduanya. Hadis tersebut mengatakan bahwa seseorang tidak akan diselamatkan oleh amal perbuatannya. Seseorang selamat hanya karena rahmat Allah. Hanya saja perbedaannya terletak pada darah Isa. Hadis tersebut tidak menyebutkan adanya darah Isa Al-Masih yang dapat membasuh atau menghapus dosa.

“Hadis bersumber dari Jabir : ‘Aku mendengar Nabi SAW bersabda: “Tidak seorangpun dari kalian yang dimasukkan surga oleh amalnya dan tidak juga diselamatkan dari neraka karenanya ; tidak juga aku, kecuali karena rahmat Allah.”

(Hadis Shahih Muslim no. 5042, sumber : Lidwa Pusaka)

  Ayat-ayat Alkitab berikutnya :

18. Orang yang  percaya kepada-Nya (kepada Isa), tidak akan dihukum; tetapi orang yang  tidak percaya, telah berada dibawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama  Sang Anak Tunggal  yang datang dari Allah itu.

(Yahya 3 : 18)

24. (Sabda Isa) Sesungguhnya Aku berkata kepadamu : orang yang mendengarkan perkataan-Ku serta percaya kepada Dia yang mengutus Aku memperoleh hidup yang kekal dan tidak akan dihukum.  Ia sudah berpindah dari dalam maut (hukuman neraka) ke dalam hidup (selamat di surga).

 (Yahya 5 : 24)

36. Siapa percaya kepada Sang  Anak (Isa), ia memperoleh hidup yang kekal, sebaliknya siapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap tinggal di atasnya.

(Yahya 3 : 36)

 

Injil Yahya 3:18, Yahya 5:24 dan Yahya 3:36 di atas menegaskan bahwa orang yang mau percaya kepada Isa serta mau mendengarkan (mentaati) perkataan Isa tidak akan dihukum. Maksudnya : tidak akan disiksa di neraka. Barangsiapa yang tidak percaya kepada Isa dan tidak mau mendengarkan perkataan Isa akan tetap dihukum.

 6. Sabda Isa kepadanya, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup. Tak seorangpun datang kepada Sang Bapa (Allah) kecuali melalui Aku” 

                                                                                                                                                                                                 (Yahya 14 : 6)

Dalam ayat di atas Isa menegaskan bahwa tidak seorangpun akan dapat sampai kepada Allah sang pencipta kalau tidak melalui Isa.

Dari semua uraian di atas dapat dilihat bahwa Alkitab lebih jelas dan lebih tegas berbicara mengenai bagaimana agar dosa-dosa dihapus atau dibersihkan. Kuncinya terletak pada pribadi Isa dan darah Isa. Dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Ibrani, nama Isa Al-Masih adalah Yeshua Ha-Mashiach. Alkitab berkata bahwa setiap orang yang mau percaya serta mentaati perkataan Isa akan diselamatkan. Semua dosa-dosanya akan diampuni. Itu dapat terjadi karena baginya tersedia darah Isa yang akan menghapus atau membersihkan 100 persen dosa-dosanya. Darah Isa memiliki kuasa atau kekuatan yang sangat besar dan dahsyat yang mampu menghapus atau membersihkan semua dosa dari orang yang mau percaya kepada-Nya.

Demikian hasil dari pengkajian yang telah kami lakukan terhadap Al-Qur’an dan Alkitab. Dari hasil pengkajian kita lihat bahwa Al-Qur’an tidak begitu jelas serta kurang tegas berbicara mengenai bagaimana agar dosa-dosa dapat dibersihkan atau dihapuskan. Sementara Alkitab membicarakannya dengan lebih jelas dan lebih tegas.

Kami menyadari bahwa bobot pengkajian dan tulisan ini masih jauh dari sempurna dikarenakan keterbatasan kemampuan kami. Kami mengharapkan masukan yang bersifat ilmiah dan logis dari para pembaca untuk menyempurnakannya.

Dimana Letak Jawabannya? Pengkajian terhadap Al Quran, Hadist, dan Alkitab
Download e-book “Dimana Letak Jawabannya? Pengkajian terhadap Al Quran,
Hadist, dan Alkitab dengan meng-klik gambar di atas

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadr yang Diliputi Misteri

malam-nuzulul-quran

Empat agama besar di bumi, yaitu Nasrani, Islam, Hindu dan Budha, masing-masing memiliki Kitab Suci sendiri. Umat Nasrani memiliki Kitab Suci atau Alkitab. Umat Muslim memiliki Al-Qur’an. Umat Hindu memiliki Weda. Umat Budha memiliki Tripitaka. Masing-masing umat meyakini serta memegang Kitab Suci nya.

Isi Kitab Suci Weda sama sekali tidak ada kait-mengkait dengan tiga Kitab Suci lainnya. Baik dari segi tokoh yang ada di dalam Kitab maupun dari segi kisah atau peristiwa. Demikian juga Kitab Suci Tripitaka. Para tokoh ataupun kisah peristiwa yang ada di dalam Kitab Tripitaka tidak ada kait-mengkait dengan tokoh atau kisah yang ada dalam ketiga Kitab Suci lainnya. Sama sekali terlepas.

Berbeda halnya dengan Kitab Suci umat Nasrani dan Al-Qur’an. Di dalam Al-Qur’an sangat banyak tokoh yang sama dengan tokoh yang ada dalam Kitab Suci Nasrani. Demikian pula dengan kisah atau peristiwa yang yang diceriterakan di dalam Al-Qur’an. Sangat banyak yang menyerupai kisah atau peristiwa yang tertulis dalam Kita Suci umat Nasrani. Walaupun beberapa diantaranya tidak persis sama.

kitab

Kami akan menyebutkan beberapa nama tokoh  yang ada di dalam Al-Qur’an yang sama dengan tokoh yang ada di dalam Kitab Suci umat Nasrani. Kami juga akan mencoba memperlihatkan kisah atau peristiwa yang ada di Al-Qur’an yang menyerupai kisah yang ada di Kitab Suci umat Nasrani. Kalau ada kesamaannya, akan kami sebutkan. Begitu juga jika ada perbedaannya, akan kami utarakan.

Di dalam Kitab Suci umat Nasrani diriwayatkan kisah nabi Adam, kisah Kain dan Habil (anak-anak nabi Adam), kisah nabi Nuh, kisah nabi Ibrahim, kisah nabi Musa, kisah imam Harun, kisah Miryam (saudara perempuan Harun dan Musa), kisah raja atau nabi Daud, kisah raja atau nabi Sulaiman, kisah nabi Yahya, kisah Zakaria (ayahnya nabi Yahya), kisah Maryam (ibu Isa Al-Masih) dan kisah Isa Al-Masih. Sungguh menarik, Al-Qur’an yang diturunkan 500 tahun setelah Kitab Suci umat Nasrani, justeru juga menuliskan kisah tokoh-tokoh tersebut. Hanya saja, beberapa kisah tentang mereka dikisahkan oleh Al-Qur’an berbeda dengan yang dikisahkan oleh Kitab Suci umat Nasrani. Misalnya  :

  1. Al-Qur’an menyebutkan anak-anak nabi Adam bernama Qabil dan Habil. Sementara menurut Kitab Suci umat Nasrani, namanya Kain dan Habil.
  2. Al-Qur’an menyebutkan anak nabi Nuh ada empat orang. Kitab Suci umat Nasrani mengatakan anak nabi Nuh ada tiga orang.
  3. Al-Qur’an mengatakan nabi Ibrahim pindah ke lembah Mekah dan disana mendirikan Ka’bah. Sementara dari Kitab Suci umat Nasrani kita tahu bahwa nabi Ibrahim tidak pernah sama sekali menginjakkan kakinya di lembah Mekah, dan tidak pernah mendirikan ka’bah.
  4. Al-Qur’an menyebutkan bahwa nabi Musa berkata akan datang seorang nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis). Nabi yang dimaksud adalah Muhammad SAW. Sementara dari Kitab Suci umat Nasrani kita tahu bahwa nabi Musa tidak pernah sama sekali mengatakan hal tersebut.
  5. Al-Qur’an menyebutkan bahwa yang mengambil nabi Musa dari sungai sewaktu nabi Musa masih bayi adalah isteri raja Firaun. Sementara Kitab Suci umat Nasrani mengatakan bahwa yang mengambilnya adalah puteri raja Firaun.
  6. Al-Qur’an mengatakan ayah nabi Yahya, yaitu Zakaria, menjadi bisu selama tiga hari sebelum kelahiran nabi Yahya. Kitab Suci umat Nasrani menyebutkan Zakaria menjadi bisu selama 9 (sembilan) bulan.
  7. Al-Qur’an menyebutkan bahwa Isa Al-Masih berkata seorang nabi akan datang yang bernama Ahmad (Muhammad). Sementara dari Kitab Suci umat Nasrani kita tahu bahwa Isa Al-Masih tidak pernah mengatakan hal tersebut.
  8. Salah satu ayat Al-Qur’an menyebutkan bahwa ibunya Isa Al-Masih adalah Maryam, saudara perempuan Harun. Padahal dari Kitab Suci umat Nasrani kita tahu bahwa ibunya Isa bukanlah saudara perempuan Harun.
  9. Tiga Surat di dalam Al-Qur’an mengatakan bahwa Isa Al-Masih wafat, namun dibangkitkan hidup kembali, lalu diangkat naik ke surga. Ketiga Surat tersebut adalah Surat Ali ‘Imran ayat 55, Surat Al-Maidah ayat 117 dan Surat Maryam ayat 33. Sementara satu Surat Al-Qur’an yaitu Surat An Nisa ayat 157 dan 158 menyebutkan bahwa Isa tidak wafat, melainkan langsung diangkat Allah ke surga tanpa pernah mengalami kematian. Sementara Kitab Suci umat Nasrani menyebutkan Isa wafat dibunuh atau disalibkan, dikubur, dibangkitkan pada hari ketiga, dan naik ke surga pada hari ke-40.

Khusus mengenai butir 4,7 dan 8 di atas kami sudah membahasnya panjang lebar dalam tulisan kami berjudul “Mengapa Ayat Al-Qur’an Banyak yang Bertentangan dengan Kitab Suci?”  Khusus mengenai butir 9 sudah kami bicarakan panjang lebar dalam tulisan kami berjudul “Benarkah Isa Wafat dan Bangkit Sebelum ke Surga? (Menurut Qs, 3 Ali Imran 55, Qs. 5 Al-Maidah 117 dan Qs. 19 Maryam 33)”

Apa yang terjadi antara Al-Qur’an dengan Kitab Suci umat Nasrani sangat menarik. Kitab Weda milik umat Hindu maupun Tripitaka milik umat Buddha sama sekali tidak punya kaitan atau hubungan dengan Kitab Suci agama lain. Kitab Weda dan Tripitaka murni terlepas dari Kitab Suci yang lain. Al-Qur’an justeru sangat banyak isinya yang mengulangi atau mengisahkan kembali isi Kitab Suci umat Nasrani. Namun apa yang diceriterakan kembali oleh Al-Qur’an tersebut sangat banyak yang berbeda bahkan bertentangan dengan apa yang telah diceriterakan sebelumnya oleh Kitab Suci umat Nasrani.

Mengapa isi Qur’an sangat banyak menyerupai isi Kitab Suci umat Nasrani? Sementara Weda maupun Tripitaka tidak seperti itu? Dari mana kita bisa mendapat jawaban untuk pertanyaan tersebut?

Allah SWT berkata di dalam Al-Qur’an bahwa Allah SWT lah juga yang menurunkan atau mewahyukan Kitab Suci umat Nasrani. Dengan demikian seolah terjawab pertanyaan mengapa isi Al-Qur’an banyak yang menyerupai isi Kitab Suci umat Nasrani. Alasannya adalah : karena Allah yang menurunkan kedua Kitab tersebut adalah Allah yang sama.

Penjelasan pada paragraph di atas terkesan sangat lemah. Kalau Allah yang menurunkan kedua Kitab adalah Allah yang sama, mengapa isinya banyak berbeda atau bertentangan? Sulit rasanya menerima jika dikatakan bahwa Allah Pelupa. Maksudnya, pada saat Allah menurunkan Al-Qur’an, Allah lupa apa yang sudah diwahyukannya sebelumnya saat menurunkan Kitab Suci umat Nasrani. Sehingga terjadi banyak perbedaan, bahkan saling bertentangan antara Al-Qur’an dengan Kitab Suci umat Nasrani. Atau apa mungkin salah satu Kitab tersebut telah dirubah oleh manusia sehingga keduanya tidak sama lagi? Jawabannya : menurut Al-Qur’an itu tidak mungkin. Al-Qur’an menjamin bahwa baik Kitab Suci umat Nasrani maupun Al-Qur’an tidak mungkin dapat diubah oleh manusia. Kalau dapat diubah, berarti jaminan Al-Qur’an tidak benar. Berarti Al-Qur’an salah. Mengenai hal ini kami sudah membahasnya secara panjang lebar dalam tulisan kami berjudul  : “Samakah Allah di Al-Qur’an dengan Allah di Kitab Suci Taurat, Zabur dan Injil?”

Kami harus jujur untuk mengatakan bahwa hal ini sebenarnya sangat serius. Juga sangat rumit. Bagaimana sebenarnya peristiwa pewahyuan atau turunnya ayat-ayat Al-Qur’an? Siapa sebenarnya yang menurunkannya? Mengapa isinya banyak yang sama atau menyerupai isi Kitab Suci umat Nasrani? Lalu, mengapa isinya banyak berbeda bahkan bertentangan dengan apa yang telah diceriterakan oleh Kitab Suci umat Nasrani? Darimana Rasulullah SAW mengetahui nama tokoh-tokoh serta kisah yang ada di Kitab Suci umat Nasrani? Bukankah beliau tidak dapat membaca dan menulis? Darimana beliau mengetahui isi Kitab Suci umat Nasrani? Siapa yang memberitahu beliau?

Koleksi 9 Kitab - Lidwa Pusaka

Kami mencoba mencari dan mencari jawabannya. Kami mencoba melihat ke Hadis Shahih, yaitu Hadis Shahih Bukhari no 4572, 6467 dan Shahih Muslim no 231. Hadis tersebut meriwayatkan  tentang peristiwa pewahyuan Al-Qur’an. Disitu dijelaskan bagaimana proses atau cara turunnya  sebagian ayat-ayat Al-Qur’an. Kami tampilkan apa yang kami dapat dari Hadis tersebut (sumber Lidwa Pusaka) :

Aisyah, Ummul Mu’minin r.a. mengisahkan : wahyu yang mula-mula turun kepada Rasulullah SAW adalah berupa mimpi-mimpi waktu beliau tidur. Semenjak itu Rasulullah tertarik untuk mengasingkan diri ke Gua Hira. Gua Hira adalah sebuah gua dekat jalan ke Arafah kira-kira 4 km dari Mekah. Disitu beliau beribadat beberapa malam, tidak pulang ke rumah. Saat perbekalan habis, beliau menjemput perbekalan ke rumah Khadijah, isteri beliau yang pertama, lalu kembali ke gua Hira. Hingga satu saat datang seorang malaikat menyuruh beliau membaca. Beliau menjawab bahwa beliau tidak bisa membaca. Sampai tiga kali malaikat itu menyuruh membaca, tiga kali pula beliau menjawab sama. Kemudian beliau pulang ke rumah Khadijah dengan ketakutan dan minta diselimuti. Khadijah menguatkan hatinya. Lalu Khadijah mengajak beliau pergi menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, yaitu anak paman Khadijah. Waraqah pernah memeluk agama  Nasrani (Kristen) pada masa jahiliyah. Waraqah menulis dari Kitab Suci Injil dengan bahasa Arab, seberapa yang dapat disalinnya. Usia Waraqah telah lanjut, matanya telah buta. Kemudian Waraqah meninggal dunia dan wahyupun terputus untuk sementara waktu.

(diriwayatkan oleh Hadis Shahih Bukhari no 4572 dan  Hadis Shahih Bukhari no 6467 ; Hadis Shahih Muslim no 231,
sumber Lidwa Pusaka
)

Hadis di atas meriwayatkan saat-saat awal dimana ayat-ayat Al-Qur’an mulai turun atau diterima oleh Rasulullah SAW. Diriwayatkan bahwa karena Rasulullah SAW tidak dapat membaca, beliau mengalami tekanan sampai ketakutan dan minta diselimuti. Memang cukup rumit untuk dibayangkan. Rasulullah SAW dipilih sebagai penerima pewahyuan ; sementara saat malaikat menyuruh beliau membaca (Ikra) beliau tidak dapat membaca. Hal tersebut mengakibatkan rencana turunnya ayat-ayat Al-Qur’an melalui Rasulullah SAW menjadi gagal pada saat itu. Tidak ada catatan atau tulisan atau salinan ayat yang dihasilkan. Itu dikarenakan beliau tidak dapat membaca dan menulis. Kalau tidak ada jalan keluar, dapat terjadi bahwa ayat-ayat Al-Qur’an tidak jadi diwahyukan melalui beliau. Khadijah mencoba mencarikan jalan keluar. Khadijah membawa Rasulullah SAW menemui Warakah bin Naufal, anak dari paman Khadijah. Waraqah pernah memeluk agama Nasrani pada zaman jahiliyah. Waraqah menulis dari Kitab Suci Injil dengan bahasa Arab, seberapa yang dapat disalinnya. Kitab Suci Injil adalah Kitab Suci umat Nasrani.

Kami ingin mengutarakan pemikiran yang kritis dan logis. Berarti dari Waraqah lah Rasulullah SAW mengetahui isi Kitab Suci Injil umat Nasrani. Dari Waraqah lah Rasulullah SAW mengetahui nama tokoh-tokoh yang ada di Kitab Suci umat Nasrani. Dari Waraqah jugalah Rasulullah SAW mengetahui kisah atau peristiwa yang ada dalam Kitab Suci umat Nasrani. Waraqah memiliki salinan dari sebagian ayat-ayat Kitab Suci Injil yang ditulis dengan bahasa Arab.

Kemudian Waraqah meninggal dunia. Dikatakan bahwa sejak Waraqah meninggal dunia, wahyu pun terputus untuk sementara waktu. Kembali ke pemikiran kritis. Mengapa dengan meninggalnya Waraqah pewahyuan terputus untuk sementara waktu? Dengan perkataan lain : Mengapa pada saat Waraqah masih hidup, pewahyuan masih berlangsung? Dan pada saat Waraqah meninggal dunia, pewahyuan jadi terputus? Apa hubungan Waraqah dengan pewahyuan? Apakah Rasulullah SAW menerima ayat-ayat dari Waraqah? Yaitu salinan ayat-ayat Kitab Suci Injil dalam bahasa Arab? Apakah ini yang menyebabkan mengapa banyak ayat-ayat yang diterima Rasulullah menyerupai ayat-ayat Kitab Suci umat Nasrani? Lalu, dengan meninggalnya Waraqah, pewahyuan ikut terputus untuk sementara waktu.

Apa yang diriwayatkan oleh Hadis di atas berikut uraiannya terkesan berbeda dengan apa yang diajarkan selama ini. Selama ini diajarkan bahwa Allah menurunkan Al-Qur’an sekaligus dari Lauh Mahfudz ke baitul izzah di langit dunia. Peristiwa tersebut dikenal sebagai Malam Lailatul Qadr. Kemudian dari langit dunia diturunkan secara berangsur oleh malaikat (khususnya Jibril) kepada Rasulullah SAW selama 23 tahun. Dikenal sebagai Nuzulul Qur’an. Diyakini selama ini bahwa didalam semua kejadian ataupun proses pewahyuan, tidak ada sedikitpun campur tangan manusia. Sementara kita lihat dari Hadis di atas berikut uraiannya, Rasulullah SAW gagal berkomunikasi dengan malaikat di Gua Hira. Atau dengan kata lain, malaikat gagal berkomunikasi dengan Rasulullah SAW. Justeru Rasulullah berkomunikasi dengan seorang manusia, yaitu Waraqah bin Naufal. Waraqah memiliki salinan dari sebagian ayat-ayat Kitab Suci Injil dalam bahasa Arab. Hal ini cukup membingungkan kami. Jikalau demikian, bagaimana halnya dengan kisah Malam Lailatul Qadr dan Nuzulul Qur’an yang dikatakan tanpa ada campur tangan atau sentuhan tangan manusia? Bukankah itu menimbulkan kesan bahwa peristiwa Malam Lailatul Qadr dan proses Nuzulul Qur’an diliputi misteri dan tanda tanya ?

Dimana Letak Jawabannya? Pengkajian terhadap Al Quran, Hadist, dan Alkitab
Download e-book “Dimana Letak Jawabannya? Pengkajian terhadap Al Quran,
Hadist, dan Alkitab dengan meng-klik gambar di atas

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Benarkah Isa Wafat dan Bangkit sebelum ke Surga? (Menurut QS 3 Ali Imran 55, QS 5 Al-Maidah 117, dan QS 19 Maryam 33)

Salah satu topik yang sangat sering menjadi bahan diskusi dalam berbagai Dialog Antar Umat Beragama adalah : “Apakah Isa Al-Masih mengalami kematian atau tidak?” Topik ini termasuk dalam jajaran topik-topik terhangat pada berbagai dialog, khususnya dialog antara umat Islam dengan umat Nasrani. Sebagian besar umat Muslim menerima pengajaran bahwa Isa tidak mengalami kematian atau wafat. Isa langsung diangkat ke surga tanpa mengalami kematian. Sementara umat Nasrani sangat yakin bahwa Isa mati di kayu salib, dibunuh,  dikubur, namun bangkit atau hidup kembali pada hari yang ketiga. Empat puluh hari setelah Isa bangkit, Isa diangkat naik ke surga.

pictures-of-jesus-on-the-cross-from-passion-of-the_4

 Perbedaan pendapat tersebut cukup menarik mengingat bahwa baik umat Islam maupun umat Nasrani sama-sama mendasarkannya pada Kitab Suci agama masing-masing. Umat Islam mendasarkannya pada Al-Qur’an sementara umat Nasrani mendasarkannya pada Kitab Suci Injil. Seandainya kedua Kitab Suci tersebut diilhamkan oleh Allah ataupun ilah yang berbeda, kita tidak perlu heran mengapa isi keduanya berbeda mengenai kematian Isa. Namun, sebagaimana yang dikatakan Allah SWT di dalam Al-Qur’an, kedua Kitab Suci tersebut diilhamkan oleh Allah yang sama, yaitu Allah SWT. Kitab Suci umat Nasrani diilhamkan Allah SWT. Kitab Suci agama Islam juga diilhamkan Allah SWT. Begitu dikatakan Allah SWT di dalam Al-Qur’an. Hal tersebut mengundang komentar. Mengapa isi keduanya dapat berbeda mengenai kematian Isa Al-Masih? Kalau dikatakan bahwa salah satu Kitab telah mengalami perubahan atau tidak asli lagi, itu tidak mungkin. Hal ini telah kita bahas panjang lebar dalam tulisan kami sebelumnya yang berjudul: “Mengapa ayat Al-Qur’an banyak yang bertentangan dengan Kitab Suci?”

Kami mencoba melakukan pengkajian terhadap kedua Kitab Suci tersebut. Kami mengkaji Al-Qur’an. Kami juga mengkaji Kitab Suci Injil. Kami menemukan hal-hal yang sangat menarik. Penemuan tersebut mengajak kami untuk merenung semakin dalam. Ada banyak hal yang tidak dapat kami pecahkan melalui perenungan kami. Kami berharap adanya masukan dari para pembaca.

Kami mulai dari Al-Qur’an :

Mula-mula kami menemukan ayat-ayat Al-Qur’an yang mengatakan bahwa Isa Al-Masih wafat atau mengalami kematian. Ayat-ayat tersebut adalah :

  • Pertama  : Qs. 3 Ali ‘Imran 55

55. (Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan diantaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya.”

“Iz qalallahu ya isa inni mutawaffika wa rafi’uka ilayya wa mutahhiruka minal lazina kafaru wa ja ilul lazinattaba uka fauzal lazina kafaru ila yaumil qiyamah(ti), suma ilayya marji’ukum fa ahkumu bainakum fima kuntum fihi takhtalifun(a)” 

(Qs. 3 Ali Imran ayat 55 , sumber : Lidwa Pusaka)

Dalam Surat Ali ‘Imran ayat 55 tersebut Allah berkata : “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu.” Itu menunjukkan bahwa Isa Al-Masih mengalami kematian, atas seizin Allah. Kalimat tersebut dalam bahasa Arab berbunyi: “ya ‘isa inni mutawaffika.” Kata atau istilah bahasa Arab : “mutawaffika” berarti : “Aku menyebabkan engkau mati”.

Istilah atau kata “mutawaffika” sangat dikenal diantara orang Arab dan biasa digunakan dalam berkomunikasi sehari-hari. Kalau kita bertanya kepada setiap orang Arab yg pamannya telah meninggal dunia dua minggu yang lalu, kita tanya apa kabar pamannya, dia akan menggunakan kata yang sama dalam bentuk masa lalu, yaitu “Tawafa”, yang berarti : dia telah mati.

Ayat tersebut tidak menyebutkan bahwa Isa mengalami “mati suri” atau “pingsan”. Allah SWT bukanlah Allah yang mudah membuat kesalahan. Allah SWT tahu benar perbedaan antara “mati suri” dengan “wafat”. Juga antara “pingsan” dengan “wafat”. Allah SWT menggunakan kata atau istilah “wafat”. Allah tidak menggunakan istilah “mati suri” atau “pingsan”. Bahasa Arab dari mati suri adalah : “maat shuuriy“. Bahasa Arab dari pingsan adalah : “eghmaa“. Allah tidak menyebutkan kata “pingsan“  ataupun “mati suri“ dalam Surat Ali ‘Imran ayat 55 tersebut.  Itu artinya, menurut Surat Ali ‘Imran ayat 55, Isa Al-Masih mati atau wafat.

Ayat tersebut mengatakan bahwa Isa mengalami kematian. Lalu ada anak kalimat “(Allah) mengangkat Isa ke surga.”  Jadi Isa mengalami kematian.  Isa juga diangkat naik ke surga.

  • Kedua  : Qs. 5 Al-Maidah  117

117. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.

“Ma qultu lahum illa ma amartani bihi ani’budullaha rabbi wa rabbakum, wa kuntu ‘alaihim syahidam ma dumtu fihim, falamma tawaffaitani kunta antar raqiba ‘alaihim, wa anta ‘ala kulli syai’in syahid(un)”

                                                                                                                                                (Qs. 5 Al-Maidah ayat 117, sumber: Lidwa Pusaka)

Dalam baris yang ketiga dari Surat Al-Maidah ayat 117 di atas, Isa mengatakan : “setelah Engkau wafatkan aku”. Maksudnya adalah setelah Allah mewafatkan Isa. Kata atau istilah bahasa Arab yang digunakan adalah : “tawaffaitani”  yang berarti : “ Engkau mewafatkan aku”. Kita lihat kembali Al-Qur’an menggunakan istilah atau kata yang sama yaitu : “tawafa”, yang artinya: “(Isa) telah wafat”  Jadi, menurut Surat Al-Maidah ayat 117, Isa mengalami kematian atau wafat.

  • Ketiga  : Qs. 19 Maryam 33

33. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”

“Was salamu ‘alayya yauma wulittu wa yauma amutu wa yauma ub’asu hayya’(n)”

                                                                                                                                                (Qs. 19 Maryam ayat 33, sumber: Lidwa Pusaka

Dalam ayat Al-Qur’an di atas Isa mengatakan : “pada hari aku meninggal”. Kata atau istilah bahasa Arab yang dipakai adalah: “yauma amutu”  yang berarti : “pada hari aku (Isa) meninggal dunia”  Didalam Surat Maryam ayat 33 tersebut digunakan bentuk kata masa yang akan datang : “yauma amutu”  yang berarti : “(Isa) akan wafat.”  Kata yang digunakan adalah bentuk kata masa yang akan datang karena perkatan tersebut diucapkan Isa sebelum hari wafat-Nya. Surat Maryam ayat 33 tersebut mengatakan bahwa Isa mengalami kematian (wafat). Ayat tersebut juga mengatakan bahwa setelah wafat, Isa dibangkitkan hidup kembali oleh Allah.

Kita dapat melihat bahwa ada tiga ayat Al-Qur’an menyebutkan bahwa Isa mengalami kematian atau wafat. Satu ayat Al-Qur’an menyebutkan bahwa Isa dibangkitkan hidup kembali setelah wafat. Satu ayat Al-Qur’an menyebutkan bahwa Isa diangkat Allah ke surga,  setelah mengalami kematian lebih dahulu.

Saat kami menyimak ketiga ayat Al-Qur’an di atas, kami melihat bahwa ketiga ayat Al-Qur’an tersebut tidaklah bertentangan dengan ayat-ayat Kitab Suci Injil tentang kematian Isa. Kitab Suci Injil mengatakan bahwa Isa wafat, dikuburkan, dibangkitkan atau hidup kembali pada hari yang ketiga, diangkat naik ke surga pada hari yang ke empatpuluh.

Dalam pengkajian kami selanjutnya terhadap Al-Qur’an, kami menemukan ayat lain yang sangat menarik, yaitu Surat An-Nisaa ayat 157 dan 158. Dalam ayat tersebut dikatakan bahwa Isa tidak wafat, tidak dibunuh tetapi langsung diangkat Allah ke surga tanpa lebih dulu mengalami kematian.

157. dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa

158. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

                                                                                                                                (Qs. 4 An Nisa ayat 157-158, sumber: Lidwa Pusaka)

Surat An Nisaa ayat 157 dan 158 tersebut sangat menarik. Ayat tersebut mengatakan bahwa Isa tidak wafat, tidak dibunuh dan tidak pula disalibkan. Isa langsung diangkat Allah ke surga tanpa pernah mengalami kematian. Ayat tersebut sangat bertentangan dengan apa yang dikatakan Kitab Suci Injil tentang kematian Isa. Ayat tersebut juga sangat bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur’an sebelumnya.

Tiga Surat dalam Al-Qur’an, yaitu Surat Ali ‘Imran, Surat Al-Maidah dan Surat Maryam mengatakan bahwa Isa wafat. Surat Maryam bahkan mengatakan bahwa Isa wafat, namun kemudian dibangkitkan atau dihidupkan kembali. Sementara Surat An Nisaa justeru mengatakan bahwa Isa tidak wafat. Surat An Nisaa mengatakan bahwa Isa tidak mengalami kematian. Sungguh sangat bertentangan. Surat An ‘Nisaa sangat berbeda bahkan sangat bertentangan dengan ketiga Surat Al-Qur’an tersebut. Satu Surat Al-Qur’an menentang tiga Surat Al-Qur’an. Yang mana yang salah? Tidak mungkin semuanya benar. Tentu salah satu ada yang salah.

Mari kita coba menyimak apa yang dikatakan Surat An Nisaa ayat 157 dan 158 tersebut. Ayat tersebut menjelaskan bahwa ada seseorang yang dibunuh atau disalibkan oleh orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi tersebut mengatakan bahwa yang mereka salibkan atau bunuh tersebut adalah Isa Putra Maryam. Tetapi ayat tersebut selanjutnya mengatakan bahwa Isa tidak benar dibunuh atau disalibkan. Yang mati dibunuh atau disalibkan tersebut adalah orang yang diserupakan dengan Isa. Selanjutnya dalam ayat tersebut muncul pernyataan bahwa ada orang-orang berselisih paham tentang kematian atau penyaliban Isa. Dikatakan bahwa orang-orang yang berselisih paham tersebut berada dalam keragu-raguan tentang siapa orang yang dibunuh tersebut. Mereka tidak yakin bahwa orang yang mereka bunuh tersebut adalah Isa. Dikatakan bahwa mereka hanya menduga bahwa orang yang mereka bunuh itu adalah Isa. Lalu dilanjutkan dengan ayat 158 yang mengatakan bahwa Isa langsung diangkat Allah ke surga tanpa mengalami kematian.

Setelah mempelajari Surat An Nisaa ayat 157 dan 158 tersebut, kami tergerak untuk mengajukan beberapa pertanyaan kritis yang bersifat ilmiah :

  1. Mengapa isi Surat An Nisaa tersebut sangat menentang isi Surat Ali ‘Imran, Surat Al-Maidah dan Surat Maryam di atas? Bukankah ketiga Surat Al-Qur’an tersebut sudah menyebutkan bahwa Isa Al-Masih Putra Maryam diwafatkan oleh Allah? Bahkan kemudian dihidupkan kembali oleh Allah? Lalu diangkat Allah ke surga?
  2. Mengapa Allah SWT tidak menyebutkan siapa nama atau identitas dari orang yang dibunuh atau disalibkan orang-orang Yahudi tersebut? Mengapa terkesan Allah sendiri seperti ikut ragu-ragu dan tidak tahu persis siapa sebenarnya orang yang dibunuh tersebut? Mengapa hanya mengatakan “orang yang diserupakan dengan Isa”?
  3. Bukankah kalimat yang menggantung seperti itu hanya akan mengundang perbedaan atau perselisihan pendapat diantara umat Allah yang membaca ayat Al-Qur’an tersebut? Bisa saja umat Allah yang membaca ayat tersebut mulai menebak-nebak, bahkan mungkin mulai mencoba mengarang cerita menurut versi masing-masing untuk menjelaskan ayat tersebut. Dan dapat terjadi, didalam mengarang cerita versi masing-masing tersebut, mereka tidak lagi mendasarkannya kepada Al-Qur’an. Dapat terjadi, didalam mengarang cerita, mereka mengabaikan ketiga Surat Al-Qur’an yang mengatakan bahwa Isa wafat, dibangkitkan kembali dan naik ke surga.

Selanjutnya kita akan mencoba melihat kepada pewahyuan atau perkataan Allah sebelumnya mengenai kematian Isa Al-Masih. Kita lihat apa yang dikatakan oleh Kitab Suci Injil.

Di dalam Kitab Suci Injil Allah mewahyukan bahwa Isa benar-benar telah dibunuh atau disalibkan, mati dan dikuburkan. Peristiwa penyaliban dan kematian Isa disaksikan oleh sangat banyak orang : para tentara Romawi, imam‐imam agama Yahudi, hampir seluruh penduduk Yerusalem, para murid dan keluarga Isa. Peristiwa penyaliban tersebut ditulis oleh banyak ayat didalam Kitab Suci Injil dan ditulis oleh lebih dari satu penulis Injil (Matius 27, Markus 15, Lukas 23, Yahya 19).

Kitab Suci Injil menulis tentang peristiwa penyaliban dan kematian Isa :

35. Setelah Isa disalibkan, mereka membagi-bagi pakaian-Nya dengan cara melempar undi.

50. Kemudian Isa kembali berseru dengan suara nyaring, lalu menyerahkan ruh-Nya.

(Matius 27 : 35, 50)

 25. Waktu menunjukkan pukul sembilan pagi ketika mereka menyalibkan Isa.

37. Kemudian Isa berseru dengan suara nyaring dan menghembuskan nafas terakhir.

(Markus 15 : 25, 37)

33. Setelah sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Isa di sana bersama kedua penjahat, seorang di sebelah kanan-Nya dan seorang lagi di sebelah kiri-Nya.

46. Kemudian dengan suara nyaring Isa berseru, Ya Bapa, kedalam tangan-Mu kuserahkan nyawa-Ku.” Sesudah bersabda demikian, Ia menghembuskan nafas terakhir.

(Lukas 23 : 33, 46)

                                (dari Kitab Suci Injil Dwibahasa Indonesia – Yunani ; terjemahan tahun 1912)

Kitab Suci Injil menuliskan tentang penguburan mayat Isa (Matius 27, Markus 15, Lukas 23, Yahya 19) :

59  Setelah Yusuf mengambil jenazah Isa, ia mengafaninya dengan kain bersih,

60  Selanjutnya ia membaringkan jenazah itu dalam makam baru kepunyaannya sendiri yang digali pada bukit batu. Digulingkannya sebuah batu besar ke pintu makam itu, lalu ia pulang.

(Matius 27 : 59, 60)

45  Setelah diperolehnya laporan dari kepala pasukan itu, iapun mengizinkan Yusuf untuk mengambil jenazah Isa.

46 Setelah Yusuf membeli kain lenan, ia menurunkan jenazah Isa (dari kayu salib) dan mengafaninya dengan kain itu. Dibaringkannya jenazah Isa dalam makam yang digali pada bukit batu, kemudian digulingkannya sebuah batu besar ke pintu makam itu.

(Markus 15 : 45, 46)

(dari Kitab Suci Injil Dwibahasa Indonesia – Yunani ; terjemahan tahun 1912)

Pada hari yang ketiga Isa bangkit dari kuburan (Matius 28, Markus 16, Lukas 24, Yahya 20) :

1  Setelah lewat hari Sabat, yaitu hari pertama minggu itu, Maryam dari Magdala dan Maryam yang lain, datang untuk melihat makam itu.

2  Tiba-tiba terjadilah gempa bumi yang amat dahsyat. Malaikat Tuhan turun dari surga untuk menggulingkan batu penutup makam itu,  lalu duduk di atasnya.

5  Kemudian malaikat itu berkata kepada perempuan-perempuan itu: “Janganlah kamu takut; Aku tahu,  kamu mencari Isa yang telah disalibkan itu.

6  Ia tidak ada di sini karena Ia sudah bangkit, seperti yang telah disabdakan-Nya. Mari, lihatlah tempat bekas Ia dibaringkan.

(Matius 28 : 1, 2, 5, 6)

5  Maka masuklah mereka ke dalam makam itu. Lalu mereka melihat seorang muda dengan jubah putih (malaikat) duduk di sebelah kanan. Mereka merasa heran.

6  Ia berkata kepada mereka: “Jangan heran! Kamu mencari Isa, orang Nazaret yang disalibkan itu. Ia sudah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat bekas Ia dibaringkan.

(Markus 16 :5, 6)

(dari Kitab Suci Injil Dwibahasa Indonesia – Yunani ; terjemahan tahun 1912)

Empat puluh hari kemudian Isa naik (terangkat) ke surga (Markus 16, Lukas 24, Kisah Rasul 1).

19 Setelah Isa, Junjungan Yang Ilahi, bersabda kepada mereka, Ia terangkat ke surga dan duduk di sebelah kanan Allah.

(Markus 16 : 19)

51  Sementara Ia memohonkan berkah bagi mereka, terpisahlah Ia dari mereka lalu terangkat ke surga.

(Lukas 24 : 51)

(dari Kitab Suci Injil Dwibahasa Indonesia – Yunani ; terjemahan tahun 1912)

Allah SWT mengatakan didalam Al-Qur’an bahwa Kitab Suci Injil diwahyukan oleh Allah SWT. Didalam Kitab Suci Injil sangat jelas diwahyukan bahwa Isa wafat dibunuh atau disalibkan oleh orang-orang Yahudi. Setelah wafat, Isa dikuburkan. Pada hari yang ketiga Isa bangkit kembali. Pada hari yang ke empat puluh Isa diangkat naik ke surga. Dari pengkajian yang kami lakukan terhadap Kitab Suci Injil kami menemukan bahwa peristiwa penyaliban serta kematian Isa justeru merupakan inti pewahyuan Allah didalam Kitab Suci Injil. Dikatakan bahwa Firman Allah atau Perkataan Allah telah turun ke bumi dan menjadi manusia, yaitu seorang bayi laki-laki bernama Isa Al-Masih, Putra Maryam. (Mengenai hal ini kami telah mengulasnya panjang lebar dalam tulisan-tulisan kami berjudul : “Agama Islam dan Kristen Sama-sama Tidak Menyelamatkan”  serta : “Isa itu Manusia atau Tuhan?”) Isa turun ke bumi dan menjadi manusia. Dia datang sebagai manusia yang memiliki daging dan darah karena Dia akan dijadikan kurban. Allah mengasihi umat manusia walaupun berdosa. Allah mau menyelamatkan manusia dari dosa dan dari hukuman neraka. Isa diutus untuk dikurbankan. Isa akan menanggung semua dosa dan hukuman yang seharusnya ditanggung manusia berdosa. Isa mengalihkan dosa umat manusia kepada diri-Nya. Isa mengambil alih dan menanggung hukuman yang seharusnya ditanggung oleh manusia yang berdosa. Isa menanggungnya di kayu salib. Isa mati karena dosa umat manusia yang ditanggung-Nya. Dia adalah Anak Domba Allah yang dikurbankan agar manusia selamat. Barangsiapa yang percaya kepada Isa dan menerima Dia, akan diselamatkan.

(Sabda Isa) Sesungguhnya Aku berkata kepadamu : orang yang mendengarkan perkataan-Ku serta percaya kepada Dia yang mengutus Aku memperoleh hidup yang kekal dan tidak akan dihukum.  Ia sudah berpindah dari dalam maut (hukuman neraka) ke dalam hidup (selamat di surga).

 (Yahya 5 : 24)

Sabda Isa kepadanya, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup. Tak seorangpun datang kepada Sang Bapa (Allah) kecuali melalui Aku”                                                                                       

(Yahya 14 : 6)

 27  Setelah  itu diambil-Nya (Isa) sebuah cawan, lalu Ia mengucap syukur. Kemudian Ia memberikannya kepada mereka sambil bersabda : “Minumlah kamu semua dari cawan ini,

28  karena inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.                                                                           

(Matius 26: 27, 28)

Tentang Dia (Isa)lah semua nabi memberi kesaksian bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya (Isa) akan diampuni dosa-dosanya melalui nama-Nya.              

(Kisah Para Rasul 10 : 43)

(Sabda Isa) Akulah roti hidup yang  turun dari surga. Jika seseorang makan roti ini, ia akan hidup sampai  selama-lamanya. Roti yang akan Kuberikan  ialah tubuh-Ku, demi kehidupan  manusia seisi dunia.”

(Yahya 6 : 51)

32.  (Sabda Isa) Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”                                                                                                                 

(Lukas 5 : 32)

10. (Sabda Isa) Karena Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang

(Lukas 19 : 10)

muslims-christians-quran-bible-baghdad-iraq-120110jpg-ca7df782193ee1b01

Dari pengkajian yang kami lakukan, kami menemukan bahwa itulah inti pemberitaan Kitab Suci Injil. Didalam Kitab Suci Injil, peristiwa turunnya Isa ke bumi, kematian Isa di kayu salib serta kebangkitan Isa dari kematian merupakan berita yang sangat penting dan sangat ditekankan. Sementara didalam Al-Qur’an, semua peristiwa tersebut sepertinya dipandang tidak penting untuk diberitakan. Ini sangat menarik, mengingat Allah sendiri mengatakan bahwa kedua Kitab Suci tersebut sama-sama diwahyukan oleh Allah. Namun perbedaannya terlalu mencolok. Belum lagi perbedaan serta pertentangan antara Surat An Nisaa dengan Surat Ali ‘Imran, Surat Al-Maidah dan Surat Maryam. Semuanya masih menyisakan banyak pertanyaan.

Dimana Letak Jawabannya? Pengkajian terhadap Al Quran, Hadist, dan Alkitab
Download e-book “Dimana Letak Jawabannya? Pengkajian terhadap Al Quran,
Hadist, dan Alkitab dengan meng-klik gambar di atas

15 Comments

Filed under Uncategorized